Pestisida tapi dari mikroba?

Kalo registrasi pestisida berbahan aktif/utama mikroba gimana ya?

IMG_20180102_153834.jpgSelama ini kan umumnya hanya ada produk mikroba yang berisi berbagai kumpulan mikroba dengan fungsi sebagai fertilizier/penggemuk/ pupuk tambahan.
Hanya saja kalo pestisida pernahkah keluar produknya di pasaran?
misal, Pestisida berbahan utama jamur menguntungkan, seperti si Metharizium anisopliae pembasmi Helocoverpa armigera. Apakah ada di di Indonesia?
Jawabanya hanya ada di luar negeri (bukan di ujung langit).

Kalo ditimbang-timbang emang, penggunaan pestisida berbasis mikroba rada berbeda dengan pestisida berbasis kimia (sintetis), lebih alamih ceunah!.

Fyi, untuk mikroba yang punya peran sebagai penakhluk serangga hama punya sebutan keren yaitu “entomopathogen”.

Kalo kata peneliti di India “Now the cost of global insect control has been raised by almost 40%.” (baca dengan logat Shah rukh khan biar ngena). Dengan artian tiap waktunya semenjak era revolusi hijau merebak brati pertahunnya bisa naik biayannya segitu gedenya. Jangan bayangkan berapa biayanya secara globa, think locally aja udah guede soalnya.

yang menjadi pertanyaan, kenapa mikroba nggak seterkenal itu? bahkan sama bahan aktif pestisida dari tanaman gitu!. Kan, riset dan publikasinya udah berjibun. Nggak sedikit juga riset S1 yang berkecimpung mengenai aplikasi entomopatogen sebagai insektisida di lapangan maupun laboratorium.
Ketika keluar kandang untuk dijual-belikan selalu ada hal menarik untuk dipertanyakan, siapa yang mau memulai?.
Riset mikroba kebanyakan selalu menggunakan sampel lokal daerah/tanaman untuk menguji diulang tiap musim dan diperbaiki formulasinya.

Intinya sih, kalo (misal) ada yang mau memulai bikin produk pestisida berbasis mikroba, secepatnya dimulai grand disaind-nya.
“A Roadmap to the Successful Development and Commercialization of Microbial Pest Control Products for Control of Arthropods in INDONESIA”.
I wanna joint, of course!!

Advertisements

Ngikutin tren

Karna penelitian saya tentang

pertanian terutama mikrobiologi. Jadi

sedikit – sedikit akan membahas

produk tak kasat mata ini.

Nah, karna saya penggemar Elsevier

maka sumber rujukan utama dari sini.

Apakah aja sih tren penelitian

mengenai mikroba hari – hari ini?

Jadi kalo dibagi, ternnya itu bisa

dilihat dari tulisan ilmiah yang

beredar dan jumlah sitasi yang

menggunakan. Intinya mah tema mana

yang paling rame itu yang paling

trendi.

Ok, kalo dilihat dari Elsevier sih

memberikan gambaran umum mengenai

riset mikroba penyakit (kedokteran)

yang masih rame (sumber https://www.journals.elsevier.com/trends-in-microbiology/). Berbeda

dengan ncbi.nlm.nih.gov, mereka

menampilkan pada halaman pertamanya

mengenai mikroba yang bermanfaat

untuk industri (sumber

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/jou

rnals/curr-trends-microbiol/).

Jelasnya kita nggak bisa menarik

kesimpulan jika membatasi luasan

geografisnya, karena tiap negara ada

lembaga riset dan pendidikannya. Jadi

serunya sih, ketika tema riset

tersebut tren ada kemungkinan besar

kita juga untuk menadapatkan

referensi yang berlimpah ruah.

Berbicara mengenai referensi, emang

beberapa reviewer (jika kita udah

siap dengan penelitian) berbeda-bebda

level keketatannya. Ada yang maunya

sumber dari penerbit jurnal yang

punya index minimal 1, minimal jurnal

yang dikeluarkan 10 tahun ke

belakang, atau bahkan cukup nyontoh

aja skripsi orang lain yang udah ada.

It’s probability. Nasib-nasiban kalo

istilah anak-anak yang belum lulus

dan terlalu betah di kampus. Haha…

Emang, semua perlu mencari titik

lezatnya dalam meneliti, termasuk

mencari referensinya.

Praktikum

Taun ini adalah praktikum ke 3 saya, alias 2 kali ikut serta dalam persiapan membantu praktikum di lab untuk para adik kelas. 

Aura yang ditawarkan oleh semua pihak sama, lieur. Tak tenang, serba terburu dan tidak tersusun dengan tujuan dan visi . 

Tetiba mulut nyeletuk, “praktikum soalna hese (read: susah), UAS prakteknya susah, kalo lulus kerjanya nggk di pertanian”

eits..eits, salah juga sih ngomong gitu. Salah, mestinya ngomongnya jangan kenceng-kenceng. ūüėź

asumsinya, mungkin ada trauma yang belum tersembuhkan selama per-kampusan yang menjadi beban. Sehingga tidak memilih opsi kerja yang linier dengan jurusan…
#based on true story and true result. #peace

Pelaku Penyerangan

Karna bertani itu sejatinya adalah bersosialisasi dengan segenap makhluk yang ada, berbagi bukan membasmi…¬†

bug.jpg

Kasus penyerangan tanaman sepertinya masih belum terpecahkan semuanya. Kebanyakan dari tulisan hanya mengacu pada tulisan yang ada, dan sumber – sumber seperti itu sudah terlalu lama.

Penyakit dalam tanaman kebanyakan kasusnya adalah karena penularan, serangan, atau ada pihak kedua yang mengantarkan benih – benih penyakit. Spesial untuk jamur, bisa menyerang dari biji, spora/konidia/bagian generatif yang beterbangan di udara, spora yang udah tersimpan di tanah, atau ada serangga yang ketempelan organ generatif si jamur.

Kecenderungannya, banyak serangga dalam sebuah tanaman juga bakalan banyak penyakitnya. Nggak percaya? Bagus.!!

pernah lihat warna putih/hitam seperti embun menempel di daun?

nah, itu adalah salah satu jenis jamur yang udah menebal miseliumnya.

Sebut saja embun tepung(Oidium sp), embun bulu (Peronospora sp.), dan embun jelaga (Capnodium sp). Mereka merupakan penyebab penyakit tanaman yang dibawa oleh para agen. Agen itu siapa aja? ada yang bilang Mealybugs, kutu daun apid, atau ama serangga penyerap madu. Yoi, everything is possible 

Mekanisme apakah yang ditawarkan untuk menahan serangan langsung ataupun tidak langsung tersebut? 2 hal

First, gunakan tanaman ‘pengacau’ alias secondary plant yang punya aroma dan bisa menarik serangga untuk fokus ke tanaman tersebut nggak ke tanaman yang kita punya.¬†IMG_20171224_110155.jpg

Kebun Kubis (crop) di kemiringan patahan lembang, Bandung yang indah

Second, jangan lupa untuk selalu ada di samping tanaman tersebut setiap hari. Rawat, perhatikan gejala yang muncul, dan beri asupan makanan tepat waktu. Saya belum menemukan metode yang lebih ampuh untuk pengendalian penyakit dan hama selain metode ini.

 

Tolong menolong 

Kotbah 15/12

Judul kotbah paling membingungkan kali ini, betapa tidak. 


Jika kita disuruh memaafin orang yang salah kepada kita, mungkin hal itu cuman urusan mulut dan merelakan dalam sekejap.

Nah, ini…  menolong orang yang udah menganiyaya?

Btw,

Pada sebagian besar kita tahu dong, mencela, menghina orang, membicarakan kekurangan manusia lain, adalah kesenangan yang menggairahkan. Hal ini bisa diperlakukan oleh otak yang pernah duduk di sekolah maupun kuliah, semua bisa melakukannya. Hanya saja, apakah masih tega untuk tidak menolongnya, memperhatikannya lebih jauh, memberikan sebagihaan ruang untuk menawarkan perasaan?


I haven’t solution yet!! Until…


“Tolonglah saudara yg teraniyaya dan yang menganiyaya” (dikutip dari sebuah hadis).

Bagaimana menolong orang yang bahkan telah menganiyaya kita ya Rasul?

“Dengan kau bantu dia, tolong dia, dekatin dia, tau maksud dan tujuannya, hal itu menjadi bagian usaha mencegah keaniyayaan itu sendiri”…(dikutip dari ‘sarah’ yang disampaikan khotib).


“wa taawanu alal birri wattaqwa….”


Citarasa

Kotbah 8/12
Dengan mengawali suguhan kalimat pengingat hakikat manusia  khas khotib, serta
penambhan citarasa  “perayaan hari lahir” sebagai bumbu judul pembuka,
“Public speaking” jumat ini begitu sendu namun nggak pilu.
Maulid Rasul, yang gelora utamanya adalah untuk membangkitkan pasukan suci penjaga Jerusalem,
Sang uswatun hasanah, sang pelaku yang ceritanya seperti tak pernah berkesudahan meski diulang,
Jangan pernah bertanya ‘mengapa’ untuk sebuah alasan, meski itu tentang cinta.

“lakod kaana lakum fii rasulullahi uswatun hasanah…”

Reading ‘track’


Ruang baca hari ini makin berada dimana-mana. Aksesnyapun bahkan menembus tiap RW (Kota Bandung). Perpustakaan hari ini nggak cuman dimiliki ama pemerintah, organisasi, komunitas, bahkan individu nggak mau kalah. 

Membersamai gelora untuk berbagi aktifitas dan keseruan membaca jelas bukan perkara mudah. Asas kepercayaan nggk semudah tetiba terbangun. Proses pengumpulan sumberdana juga begitu, penuh keringat. 

Nah, diera yang serba disruptive berorientasi digital-maya apakah bahan bacaan juga mengikutinya?, Jawabanya “iya”, yang tidak mengikutinya dan tetap konvensional hanyalah manusianya saja. Penggunaan sarana digital dari laptop, gawai, dan tablet totalnya 1.5 kali lebih banyak daripada jumlah penduduk. Loh…jadi, apa yang mereka gunain sama hp-nya? 

“Read the chats”

“Kaum-kaum merunduk”, istilah mereka yang lebih banyak berkomunikasi di media sosial lewat gawai/tabletnya ketimbang dunia yang jelas asli mereka tempati. Mengubah pandangan bawah sadarnya, bahwa ber-hp lebih penting.

Bagaimanakah hal seperti itu berubah,?!. Apakah membaca buku sastra, berita, jurnal setidakitumenarikkah?. Iya, jelas. Bersenda gurau dan kepo-ria lewat medsos lebih asik lebih cair. Melawan batas jarak dan waktu bahkan perasaan yang nggak perlu ditutupin. 

Gerak cepat jari-jari dengan satu tangan merupakan teknik paling umum bagi mereka yang gentayangan di chatroom. Nggak habis sejam, bahkan perjalanan Bandung-Jatinangor pun banyak yang semenjak awal menghadapkan wajahnya ke layar gawai tersebut. Apakah nggak capek?, I don’t know, Couse I never do it

PR untuk generasi adolance, jelas hari ini lebih banyak gerakan maya yang berdasarkan ledakan berita desas-desus, hoax, re-post, comments haters. Seolah kepercayaan mereka hanya dikendalikan oleh bagaimana kebanyakan manusia maya berpendapat. 

Jelas tidak menarik mental seperti ini, mari memulai membaca. Boleh darimana saja asal diniati dengan yang baik dan Bismillah. 

Insyallah