Berkunjung ke Kota Tetangga

IMG_20180513_143538     Kunjungan ke Bogor kali ini terasa berbeda, terasa lebih jauh namun menuju tempat yang teduh. Kawasan perumahan dan padang golf menjadi tujuan utama. Walopun kunjungan ‘tidur’ hanya sebentar hari itu layak disebut sebuah tour hotel papan atas Indonesia. Ibis Style Bogor.

Akses menuju Hotel Ibis emang terbilang terbatas, dari terminal baranangsiang atau pintu keluar tol Bogor harus naik kendaraan berbasis online dikarenakan tidak ada angkutan umum yang melewati kawasan tersebut. Perjalanan dari terminal menuju Hotel Ibis berkisar 7 Km. Jam check-in adalah pukul 12 siang begitu check-out berkisar 11.30, untuk harga jika kalian tidak terlalu bermasalah dengan sudut pemandangan mending beli via aplikasi jasa penyedia sewa hotel dan apartemen seperti agoda, pegi-pegi, traveloka, dll. Lebih murah hingga 100 ribuan.

Fasilitas yang disajikan standar, keperluan toieters tersedia semua, sandal hotel, Wifi kenceng, Tv, Fitness area, Kolam renang ukuran anak-anak, main sepeda jam 6 pagi sampai 6 sore, pemanas air, cold storage, lemari pakaian, lemari penyimpanan, air anget, mushola, dan makan pagi. Untuk mushola emang kalo posisi kamar di lantai atas harus turun ke lantai satu.
Secara keseluruhan Hotel Ibis emang dalam kondisi yang tenang dan lebih cocok untuk mereka yang tidak sekedar singgah, tapi sekaligus beristirahat dari kejenuhan kegiatan harian. Dikelilingi padang rumput golf, pemendangan pegunungan, dan perumahan elit menambah daya ketenangan yang diciptakan, apalagi kalo kalian suka jogging nggak bakalan cemas akan kerasnya klakson kendaraan bermotor.
Dan, catatan paling penting dari perjalanan ini adalah menu makanan pagi yang disajikan, enak banget, asal jangan makan kenyang duluan. Mungkin yang menjadi catatan pribadi saya dari semua makanan yang udah melewati tenggorokan adalah roti dan sosis yang disajikan entah kenapa begitu kena dan asli enaknya. Syaratnya emang jangan terlalu kenyang duluan biar nikmat kerasa.

IMG_20180513_154824IMG_20180513_155819IMG_20180513_161040IMG_20180513_161404IMG_20180513_165851IMG_20180514_104637Jika punya kesempatan merasakan bermalam di Hotel Ibis jangan lupa untuk merasakan sensasi yang saya tuliskan di atas. #janaaa..

IMG_20180514_062554

Advertisements

emih dengan gandum lokal?

Tanah tandus merupakan fenomena yang menjadi tantangan dan penghambat tanaman bisa bertahan hingga panen. Tanaman yang seger harus didukung oleh berbagai kekuatan morfologi, fisioterapis, biokimia, dan molekul-molekul yang terlatih akan kondisi kering. Pada fase kanak-kanak atau vegetatif tanaman sangat sensitif dengan ketersediaan air, apalagi dalam masa ini merupakan fase genting untuk mempau memasuki momen pembentukan organ reproduksi (bunga dan biji).

Kalo gandum nanem dan panen masal di Indonesia,

mungkinkah?

Sikap tanaman yang toleran terhadap kondisi kekeringan adalah sifat rumit, tubuh harus dikendalikan oleh banyak gen-gen (poligenetik) dan ekspresi mereka dipengaruhi oleh berbagai elemen lingkungan. Kekeringan terus menjadi tantangan penting bagi para peneliti pertanian dan pemulia tanaman. Diasumsikan bahwa pada tahun 2025, sekitar 1,8 miliar orang akan menghadapi kekurangan air dan 65% populasi dunia berada di kondisi lingkungan yang kurang air.

Dalam gandum, ada beberapa gen yang bertanggung jawab untuk bertahan karena stres kurang air dengan menghasilkan berbagai jenis enzim dan protein misalnya, late embryogenesis abundant (lea), responsive to abscisic acid (Rab), rubisco, helicase, proline, glutathione-S-transferase (GST), dan karbohidrat selama masa tekanan tersebut.

Pertanyaanya, apakah Indonesia datarannya kekurangan air?

Jawabannya tidak.

Jadi, kesimpulannya bertani gandum di Indonesia sangat mungkin, selayaknya padi dan jagung yang merumput di seluruh tanah air dan petani manapun mampu menyerap teknologi untuk diterapkan hingga panen, yang belum dilakukan hanyalah memulai.

 

Pestisida tapi dari mikroba?

Kalo registrasi pestisida berbahan aktif/utama mikroba gimana ya?

IMG_20180102_153834.jpgSelama ini kan umumnya hanya ada produk mikroba yang berisi berbagai kumpulan mikroba dengan fungsi sebagai fertilizier/penggemuk/ pupuk tambahan.
Hanya saja kalo pestisida pernahkah keluar produknya di pasaran?
misal, Pestisida berbahan utama jamur menguntungkan, seperti si Metharizium anisopliae pembasmi Helocoverpa armigera. Apakah ada di di Indonesia?
Jawabanya hanya ada di luar negeri (bukan di ujung langit).

Kalo ditimbang-timbang emang, penggunaan pestisida berbasis mikroba rada berbeda dengan pestisida berbasis kimia (sintetis), lebih alamih ceunah!.

Fyi, untuk mikroba yang punya peran sebagai penakhluk serangga hama punya sebutan keren yaitu “entomopathogen”.

Kalo kata peneliti di India “Now the cost of global insect control has been raised by almost 40%.” (baca dengan logat Shah rukh khan biar ngena). Dengan artian tiap waktunya semenjak era revolusi hijau merebak brati pertahunnya bisa naik biayannya segitu gedenya. Jangan bayangkan berapa biayanya secara globa, think locally aja udah guede soalnya.

yang menjadi pertanyaan, kenapa mikroba nggak seterkenal itu? bahkan sama bahan aktif pestisida dari tanaman gitu!. Kan, riset dan publikasinya udah berjibun. Nggak sedikit juga riset S1 yang berkecimpung mengenai aplikasi entomopatogen sebagai insektisida di lapangan maupun laboratorium.
Ketika keluar kandang untuk dijual-belikan selalu ada hal menarik untuk dipertanyakan, siapa yang mau memulai?.
Riset mikroba kebanyakan selalu menggunakan sampel lokal daerah/tanaman untuk menguji diulang tiap musim dan diperbaiki formulasinya.

Intinya sih, kalo (misal) ada yang mau memulai bikin produk pestisida berbasis mikroba, secepatnya dimulai grand disaind-nya.
“A Roadmap to the Successful Development and Commercialization of Microbial Pest Control Products for Control of Arthropods in INDONESIA”.
I wanna joint, of course!!

Ngikutin tren

Karna penelitian saya tentang

pertanian terutama mikrobiologi. Jadi

sedikit – sedikit akan membahas

produk tak kasat mata ini.

Nah, karna saya penggemar Elsevier

maka sumber rujukan utama dari sini.

Apakah aja sih tren penelitian

mengenai mikroba hari – hari ini?

Jadi kalo dibagi, ternnya itu bisa

dilihat dari tulisan ilmiah yang

beredar dan jumlah sitasi yang

menggunakan. Intinya mah tema mana

yang paling rame itu yang paling

trendi.

Ok, kalo dilihat dari Elsevier sih

memberikan gambaran umum mengenai

riset mikroba penyakit (kedokteran)

yang masih rame (sumber https://www.journals.elsevier.com/trends-in-microbiology/). Berbeda

dengan ncbi.nlm.nih.gov, mereka

menampilkan pada halaman pertamanya

mengenai mikroba yang bermanfaat

untuk industri (sumber

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/jou

rnals/curr-trends-microbiol/).

Jelasnya kita nggak bisa menarik

kesimpulan jika membatasi luasan

geografisnya, karena tiap negara ada

lembaga riset dan pendidikannya. Jadi

serunya sih, ketika tema riset

tersebut tren ada kemungkinan besar

kita juga untuk menadapatkan

referensi yang berlimpah ruah.

Berbicara mengenai referensi, emang

beberapa reviewer (jika kita udah

siap dengan penelitian) berbeda-bebda

level keketatannya. Ada yang maunya

sumber dari penerbit jurnal yang

punya index minimal 1, minimal jurnal

yang dikeluarkan 10 tahun ke

belakang, atau bahkan cukup nyontoh

aja skripsi orang lain yang udah ada.

It’s probability. Nasib-nasiban kalo

istilah anak-anak yang belum lulus

dan terlalu betah di kampus. Haha…

Emang, semua perlu mencari titik

lezatnya dalam meneliti, termasuk

mencari referensinya.

Praktikum

Taun ini adalah praktikum ke 3 saya, alias 2 kali ikut serta dalam persiapan membantu praktikum di lab untuk para adik kelas. 

Aura yang ditawarkan oleh semua pihak sama, lieur. Tak tenang, serba terburu dan tidak tersusun dengan tujuan dan visi . 

Tetiba mulut nyeletuk, “praktikum soalna hese (read: susah), UAS prakteknya susah, kalo lulus kerjanya nggk di pertanian”

eits..eits, salah juga sih ngomong gitu. Salah, mestinya ngomongnya jangan kenceng-kenceng. 😐

asumsinya, mungkin ada trauma yang belum tersembuhkan selama per-kampusan yang menjadi beban. Sehingga tidak memilih opsi kerja yang linier dengan jurusan…
#based on true story and true result. #peace

Pelaku Penyerangan

Karna bertani itu sejatinya adalah bersosialisasi dengan segenap makhluk yang ada, berbagi bukan membasmi… 

bug.jpg

Kasus penyerangan tanaman sepertinya masih belum terpecahkan semuanya. Kebanyakan dari tulisan hanya mengacu pada tulisan yang ada, dan sumber – sumber seperti itu sudah terlalu lama.

Penyakit dalam tanaman kebanyakan kasusnya adalah karena penularan, serangan, atau ada pihak kedua yang mengantarkan benih – benih penyakit. Spesial untuk jamur, bisa menyerang dari biji, spora/konidia/bagian generatif yang beterbangan di udara, spora yang udah tersimpan di tanah, atau ada serangga yang ketempelan organ generatif si jamur.

Kecenderungannya, banyak serangga dalam sebuah tanaman juga bakalan banyak penyakitnya. Nggak percaya? Bagus.!!

pernah lihat warna putih/hitam seperti embun menempel di daun?

nah, itu adalah salah satu jenis jamur yang udah menebal miseliumnya.

Sebut saja embun tepung(Oidium sp), embun bulu (Peronospora sp.), dan embun jelaga (Capnodium sp). Mereka merupakan penyebab penyakit tanaman yang dibawa oleh para agen. Agen itu siapa aja? ada yang bilang Mealybugs, kutu daun apid, atau ama serangga penyerap madu. Yoi, everything is possible 

Mekanisme apakah yang ditawarkan untuk menahan serangan langsung ataupun tidak langsung tersebut? 2 hal

First, gunakan tanaman ‘pengacau’ alias secondary plant yang punya aroma dan bisa menarik serangga untuk fokus ke tanaman tersebut nggak ke tanaman yang kita punya. IMG_20171224_110155.jpg

Kebun Kubis (crop) di kemiringan patahan lembang, Bandung yang indah

Second, jangan lupa untuk selalu ada di samping tanaman tersebut setiap hari. Rawat, perhatikan gejala yang muncul, dan beri asupan makanan tepat waktu. Saya belum menemukan metode yang lebih ampuh untuk pengendalian penyakit dan hama selain metode ini.

 

Tolong menolong 

Kotbah 15/12

Judul kotbah paling membingungkan kali ini, betapa tidak. 


Jika kita disuruh memaafin orang yang salah kepada kita, mungkin hal itu cuman urusan mulut dan merelakan dalam sekejap.

Nah, ini…  menolong orang yang udah menganiyaya?

Btw,

Pada sebagian besar kita tahu dong, mencela, menghina orang, membicarakan kekurangan manusia lain, adalah kesenangan yang menggairahkan. Hal ini bisa diperlakukan oleh otak yang pernah duduk di sekolah maupun kuliah, semua bisa melakukannya. Hanya saja, apakah masih tega untuk tidak menolongnya, memperhatikannya lebih jauh, memberikan sebagihaan ruang untuk menawarkan perasaan?


I haven’t solution yet!! Until…


“Tolonglah saudara yg teraniyaya dan yang menganiyaya” (dikutip dari sebuah hadis).

Bagaimana menolong orang yang bahkan telah menganiyaya kita ya Rasul?

“Dengan kau bantu dia, tolong dia, dekatin dia, tau maksud dan tujuannya, hal itu menjadi bagian usaha mencegah keaniyayaan itu sendiri”…(dikutip dari ‘sarah’ yang disampaikan khotib).


“wa taawanu alal birri wattaqwa….”