Keseruan riset

IMAG8791.jpg

Display aneka cabai di Superindo Jatos

Kayaknya taun ini undangan dan ajakan untuk dateng di sidang temen dan adik-adik kelas makin banyak dan berbondong-bondong. Dari yang sekala laboratorium, lapangan, hingga sekedar analisis data skunder. Dari sidang usulan sampek seminar hasil. Yang selalu menarik dari sidang sih cuman satu, berapa lama beresnya. Udah

(Kencenderungannya) kalo tahun-tahun newbie masih ikut-ikutan masuk ruang sidang karena ditarik buat memenuhin quorum ama senior, ada gap yang cukup kerasa antara riset jaman sekarang (2013-2014) sama 2012 ke belakang. Sense of “seru” udah mulai pudar.

Kalo penelitian di pertanian paling seru itu ketika masih bisa riweuh macul, nyemai benih, beli gemuk, hingga nginep di Lab bulan – bulanan. Dan, ngerasain itu “is something”

Jika, ngeliat seminar usulan (UP) dan kolokium yang serba praktis dan dilakuin oleh petani dari ujung sampek panen. You won’t have enjoy momments

 

Masuk “Zone”

Jadi inget manga (baca: ma-ngga) basket yang berisi tokoh sekolah SMA Seirin dengan si Taiga Kagami ama alumni SMP Teiko “Generation of Miracles” yang pada bisa masuk zone, jadi skill mereka tetiba melewati batas kemampua biasanya dan kelihatan lebih menikmati permainan. Nah…
Sebenarnya, “zone” dalam dunia olahraga itu emang bener-bener ada sob. Dulu sewaktu main pernah ngerasain badan ringan dan banyak banget skill terpendam gue yang tetiba muncul, kala itu pas main badminton rasa – rasanya tubuh mudah terbang dan nggak ada capeknya buat nyemes, walopun kalah tapi ada sebuah degup yang melebihi fisik dan skill ketika latihan biasa. Apalagi hal itu terjadi dengan waktu yang cukup lama. Gini, ketika zone itu bermula. Semua kepedihan permainan nggak akan terasa segala bentuk nyeri “asam laktat” atau kram otot, bahkan sekor yang tercetak di papanpun akan terasa sebuah embun yang ringan karena terlalu fokus di pertandingan dan menyerang lawan. Baru kalo udah ‘fatigue’ dan keluar zone semua rasa ngumpul dan nonjok bebarengan. Maybe you broken your muscle…hhh
                 For another cases, pernah ngerasin zone diluar olahraga nggak?, ketika kegiatan ibadah gitu?. Semisal sholat?. Ketika capek banget seharian aktifitas atau lagi kuliah dengan dikejar rapat sana-sini, eh masuklah “zone” sholat. Mudah dan semangat banget ketika wudu, takbir-niat, hingga sujud akhirpun terasa ‘terbang’ hikmat dan nikmat, passion banget.
Tapi, sepertinya nggak sesering dan semudah masuk ‘zone’ ketika kita main olahraga ya. #hmmm…

Gini…
Kalo saya lagi lari di event marathon idealnya di kilometer 2-3 (2 mil) kita bisa masuk zone, bahkan dengan maksimum pace skalipun. Jadi ketika kondisi lari kencang jantung berdegup dengan irama yang pas, seperti terpacu adrenalinya untuk tetep menempuh jarak sisa di kilometer 19 (HM) atau 40 kilometer (FM) dengan nyaman. Walopun ini nggak bisa semena-mena dan tanpa latihan yang beruntun. Tapi asal dimulai lari dengan pemanasan yang pas dan nggak diisi perut minimal 4 jam sebelum lomba, sangat mudah untuk “zone” ketika lari.
Tapi, saya sih pengen memberi “medical-advice” untuk sesama penyuka lari. Intinya, lari itu untuk menjaga kesehatan dengan aktivitas gerak. Dengan intensitas 3-5 kali/minggu, dengan frekuensi tiap larinya minimal 30 menit. Dan, info ini gue inget banget dari dr. Yuni (Lecture in Medical Faculty) ketika lagi ngisi kuliah umum di TPB Unpad. Dan, karna udah mulai enjoy lari kepalang tanggung, nyari deh “training plan” atlet profesional yang ada di internet (gratis). Kalo PB gue di 2013 katagori 5K itu 30 menit lebih, 2017 udah di angka 22 menit 56 detik. Tapi, setiap latihan dan tingkat kekerasannya ada resiko gengs. Apalagi jika nggak didukung finansial yang cukup…hhh
Terakhir dari gue…
                 20170408_163431Anybody can be in the zone, neuroscientist was proved it to. Nggak cuman di olahraga tapi disemua lini kegiatan. Beberapa syaratnya (kalo nggak salah tangkep)1. Kekuatan (strength), repetition (pengulangan), dan latihan (training), dengan terprogram. Karna Otak itu menyimpan apa yang otot latih juga.

Mungkin kalo kasus olahraga seperti badminton dan lari bisa dengan mudah terukur ditambah ada rasa prestisius, tantangan, passion, mengalahkan, dan eksis. Tapi kalo sholat?.

Can you imagine it, when we doing pray and get passionate like “seirin or kiseki no sedai play game”.

Reff:

Ref:
1. Athlete Neuroscientist Is Changing The Way We Workout | The Definitive Guide

Menyimak QF Piala Sudirman 2017 Kor vs Thd

Laga comeback attack terjadi kembali di sektor tunggal putra, setelah Anthony Sinisuka Ginting (IND) melakukan kejutan jarak jauh ketika lawan pemain Denmark Victor Axelsen. Kali ini pemain kawakan Son Wan Ho (KOR) yang sempat kehilangan set pertama 21 – 18 dari pemain Thailand Suppanyu Avihingsanon. sonSon melakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemain andalan tunggal putra Korea Son Wan Ho

permainan pelan tapi meyakinkan di set kedua, skhirnya Suppanyu menyerah telak 10-21. Set ketiga, sempat unggul 11-10 pada interval, Son Wan Ho tampak tidak menunjukan perubahan tipe permainan dari awal, menggunakan bola bola netting dan diffance smash keras dari lawan menjadi andalan. Pada skor 14 – 14, Suppanyu melakukan penyelamatan ciamik dengan menarik Son melayaninya menyerang.

Walo Suppanyu melakukan permainan cerdik dan cepat, hanya saja kemenangan kali ini berpihak ama yang lebih tenang dan berpengalaman. Pertandingan berakhir dengan skor angka 21-18, 10-21, dan 17-21. Son menyumbang satu angka untuk tim Korea di Piala Sudirman 2017, setelah sebelumnya pasangan ganda campuran mereka Choi Solgyu/Chae Yoo Jung dihempaskan straight game lansung amaDechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai 16-21 dan 12-21 cukup 41 menit aja.sup

Suppanyu memberikan tekanan dengan smash keras dan drive cepat

Buku ke-2 Tetsu-sama

Membaca buku bertemakan tentang anak – anak nggak selamannya enjoy dan berkaitan dengan dunia bermain ala mereka. Termasuk dalam buku Tetsuko-san (panggilan nama kecilnya: Totto-chan) yang bercerita mengenai anak – anak korban perang diberbagai negara dikisaran tahun 1984 hingga tahun 2000an (I won’t spoiler, right!!) . Tetsuko-san (penulis) dalam buku ini tidak bercerita seperti dibukunya yang pertama mengenai masa sekolahnya, tapi menceritakan tentang perjalanannya selama menjadi duta UNICEF. Kelihatannya jadi duta gituan itu emang asyik cuman harus punya network atau berpenampilan menarik. IMAG8666_thumb.jpgMengingat para duta – duta UNICEF kebanyakan artis atau orang yang emang udah berpengaruh di negerannya Termasuk Tetsuko Kuroyanagi yang merupakan artis, penulis, dan musisi di Jepang kelahiran ‘33. Yang di dunia luas dikenal dengan bukunynya “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Kenapa baru baca bukunya sekarang?. Mungkin karena ekspektasi awal bakal mendekat-dekati atau masih berkaitan erat dengan dunia anak – anak ya. Dulu tau buku ini ketika masih SMP (Tsanawiyah) dari kakak, cuman kerena dunia main saya lebih asyik jadi belum tertarik dengan buku tersebut. Nah, kalo pas kuliah gini karena sudah berinteraksi dengan anak – anak (walopun udah pada kuliah) jadi weeh berharap dari sini dapat pengetahuan yang bisa membantu berinteraksi bersama mereka. Tuntutan profesi…haha

 

Buku ini cocok untuk bacaan bagi yang menggiati kemanusiaan atau volunteering.Dari sini ada gambaran jadi penggiat yang asyik, enerjik, dan berpanmpilan menarik. Mengingat di dalam buku ini foto – foto Tetsu-san bener – bener eye catching like as artist in Tv. Mungkin emang make-up dan perawatan itu yang baik adalah ditampilkan dalam kondisi seperti ini.

Secara nerjemahinnya, penerjemah ke Bahasa Indonesia bener-bener berhasil untuk menghasilkan bacaan yang tetep rennyah. Nggak banyak diksi njlimet, jadi kalopun dibaca oleh anak-anakpun akan mudah dicerna. Thanks

 IMAG8667.jpg

Mahasiswa Hebat

Hari kampus Unpad jenjang S1 mulai masuk untuk semester baru di semester genab yang tentunya masih ngambil kuliah. Sudah satu semester kemarin berjalan 16 fakultas full kuliah bertempat di kampus Jatinangor, terasa makin riuh, padat, kendaraan yang berwarna – warni, dan tentunya rebutan odong-odong dan angkot yang makin menjadi – jadi. Saya disini memang bilang rebutan, nggak ada kata antri disini, kecuali mengalah bagi orang – orang yang sadar posisi. Haha

IMAG8506.jpg

Suasana hari pertama dan sesi pertama pasca wisuda di Graha Sanusi, Unpad Kampus Dipatiukur

Kemarin hari Ahad, tepatnya tanggal 12 februari sempet melihat pemandangan yang cukup menharukan bagi saya pribadi. Rasannya ada yang melanjutkan tradisi baik, ada yang mewarisi semangat itu. More action and more action. Ya, ada seorang mahasiswa (iya seorang doang!!) yang membersihkan hingga memunguti sampah bekas sebuah acara di fakultas (saya), dari yang berserakan sampai yang berjubel di atas bak sampah yang nggak enak dipandang. Dengan masih menggunakan jas almamater dan temen-temen yang kelihatan sesama panitia udah bercengkrama tertawa san – sini dari berjam – jam yang lalu, dia seorang diri melakukan pembersihan yang saya jamin nggak ada 1% pun orang disini yang mampu melakukannya (tanpa dipaksa).

Sampek ketika melihatnya sekilas waktu saya mau keluar sekre voli, langsung mendoakan dia, semoga segera disekolahkan ke Jepang jadi pemegang kekuasaan yang bisa ikut menyadarkan kebiasaan baik itu. Beraksi dan bereaksi cepat terhadap ketidakbersihan. Ya, mengingat Jepang merupakan negara yang pemilahan sampah yang paling ribet di dunia, bahkan jadwal pembuangannya aja diatur per daerah. Sugoooi!!!

Walopun tersedia banyak tempat sampah, mungkin karena kebiasaan walopun tong sampah yang sudah penuhpun tetep dijubelkan disitu. Kesadaran membuang sampah dengan rapih dan berdisiplin emang ngelatihnya lama, selain memang harus ada aturan konstitusional untuk melancarkannya. Tapi, 2017 itu sepertinya sangat cocok untuk memulai membuang sampah yang tepat, sampah yang rapih dan on target “organik” dan “non organik”.

#Asli

Jatinangor

2-13th,2017

 

 

Melak Tanah

combining“Cep, ieu lahan tos di bebersihan ti jukut langsung dimulsaan terus dipelak benihnya, teu kedah di olah deui tanahnya”, saur Pak Tani di kebun.

Di bawah matahari siang tepat pukul sebelas siang, Mirno bercengkrama bersama pak tani, yang gara – gara laporan pak tani tadi dia berkeyakinan bahwa, pak tani tersebut emang bukan manusia biasa. Sesosok kekar nan legam itu seperti pohon pisang; kokoh, gelap, dan penuh waspada.

Mirno merekam pergerakan awan dan kekuatan sengat matahari dengan tongkat yang dia pegang. Dengan cara itu pula Mirno mencoba menyelidiki dimana cacing – cacing di bawah mulsa bergeliatan. Namun, Mirno segera sadar bahwa di belakangnya dirinya tertinggal di tempat yang terik dan sulit.

Mirno merasa jengkel dan tidak ingin diperas oleh otaknya sendiri terus – menerus. Dua tahun yang lalu Bu Lili hanya sempat menyampaikan teori seberat 6 SKS mengenai analisis unsur hara dan cara pengolahannya di tanah, tanpa sedikitpun menyentuh raksasa dalam dirinya yang bernama nurani rasa ingin tahu. Mirno mulai goyang, Ia bergerak mencari tempat teduh dengan kekuatan yang memaksa untuk membersihkan rerumputan di lahan tak kurang dari empat ratusan hektar. Kaki yang bergetar itu mencoba turun dari undukan tanah yang belum sempat diolah. Namun sebelum telapaknya menyentuh tanah, duri rerumputan serentak membentak sang tuan. Mirno terkejut dan kusut.

“Gerah, Kang Mirno?”

“Panas lah, anj***r!” kata Mirno dengan suara berat dan kesal

“Kau tau walaupun es jeruk sekarang ini enak dan tepat untuk disajikan, tapi pemikiranku kali ini lebih menakjubkan dari pada rasa sakit dan dahaga sialan ini. Iya, kan?”

Alex yang sudah lebih awal istirahat dari tadi, tak menjawab sedikitpun. Alex mengerti bahwa Mirno sudah tak tahan lagi berada lebih lama di bawah terik sinar UV. Meskipun Alex sadar mengenai apa yang digumamkan Mirno merupakan konsep Tillage practices. Yang dalam keilmuan moderen soil science telah disepakati bahwa, olah tanah secara konvensional dengan membalikkan tanah maksimum untuk mempersiapkan persemaian menyebabkan pemecahan agregat tanah, dan mempercepat pembuangan air. Tanah yang diolah kalau dilihat dari segi fisiknya, sebenarnya sangat rentan terhadap erosi angin dan air. Kemudian juga, pengolahan tanah mempengaruhi intensitas erosi tanah lapisan atas (topsoil) dan tingkat dekomposisi bahan organik (Magdoff dan Harold, 2009).

T32-years-of-plow-and-no-tillageanpa beringsut sedikitpun, matahari terus menjalar ke arah barat. Dalam kesantaian pasca wisuda Juli kemarin, Alex berfikir bahwa sebaiknya dia lebih baik tidak lagi menentang Mirno. Alex juga berteori bahwa sebaiknya Ia ikuti semua kata Mirno. Itung – itung membangun rasa percayadiri kawannya yang dikenalnya ketika memberikan sepatunya diwaktu Ospek.

Dalam hati, Alex mengaku, sebagai mahasiswa yang ‘sangat’ cukup telat, Mirno cukup cemerlang dalam membuat postulat dan teori baru dalam dunia pertanahan -pertanian. Hanya saja tidak cukup pintar jika tidak mau dibilang bodoh dalam bidang akademik.

“Wak, ini lahan abis ditanam kubis kemarin, trus dianggurin empat bulan biar bisa ditumbuhin tanaman pelindung (cover crop) rerumputan”.

“Maksdumu itu anjuran ala soil management Amerika?” Alex menimpali dengungan Mirno, sambil berbaring santai dibawah rindangnya dedaunan pohon pisang.residue-cover-of-soil-surface

Kami berdua cukup memahami mengenai kasus ini, bahwasannya tanah pertanian yang ideal itu seperti yang diajarkan para nenek moyang jaman dulu. Harus diistirahtkan setelah panen hasil diberlakukan. Jangan dieksploitasi terus menerus, tanah juga bisa capek. Biar tanah kembali sehat dengan kembalinya proses dekomposisi mikroba dan mikrofauna di dalam tanah untuk mengurai unsur hara berguna bagi pertanaman berikutnya. Nah, pencegahan tanah untuk dicangkul sebenernya karena itu bakal ngebentuk lapisan bajak yang kedap air dan bikin air nggak lancar nyerap ke tanah.  Sementara fungsi tanaman pelindung selama proses istirahat tersebut untuk mempercepat dekomposisi bahan organic, mencegat penyimpanan air di tanah, dan melindungi mikroba dan mikrofauna bermanfaat dari sengatan matahari.

“Iya, bener. Cuman asa telat banget nyadarnya, 4 semester baru ngeh semenjak dari kotbah Bu Lili di kelas waktu itu”

“Jadi kamu nyesel sama waktu enam tahunmu itu, sekarang?!”

“Mungkin atau entahlah” Mirno menimpali dengan ketus.

Kalian mungkin tak kenal Mirno seperti apa. Rasa perih menggigit jantung Mirno semenjak departemennya gagal memuluskan mimpinya untuk ikut riset secara mendalam mengenai pertanian berkelanjutan di Amerika langsung, gratis dibiayai pemerintah. Bunyi dedaunan yang bergoyang seakan berprasangka buruk kepada Mirno. Senda gurau terdengar jadi pelecehan. Mirno terpencil dan terasa hilang dalam kegalauan. Ditambah bahwa perempuan yang selama empat tahun diliriknya dan didambakannya habis-habisan ternyata telah bergandengan tangan dengan teman sekelasnya. Namun, Mirno masih bisa melakukan sesuatu yang cukup kuat; menjauhkan diri dengan menaman kubis.

 

Reference

Magdoff dan Harold van Es. 2009. Building soils for better crops —3rd ed. USDA

Manuring. 1979. Cooperative Extension Service Publication AY222. West Lafayette, IN: Purdue University.

 

Nyatet

Nggak kerasa udah tahun (masehi) udah berubah baru aja. Biasanya ada berkeliling atau berpindah tempat untuk sejenak menghilangkan penat dan menerfresh daya kreatifitas dengan mengunjungi sebuah tempat khusus. Kali ini cukup di Kasur, tidur.

IMAG7992.jpgNggak kerasa juga 2017 udah mau masuk di minggu ke-3, biasanya selain udah buat list resolusi-revolusi juga buat list judul buku untuk diburu dan dibaca selama setahun kedepan. Termasuk jika itu buku literatur yang non-fiksi dan non-sastra sekalipun. Sepertinya harus segera mampir dan meramaikan kancah Goodreads.com nih.

Tahun ini emang lagi asyik – asyiknya untuk dibilang “sun bathing” ala bule di bawah terik matahari. Biasannya dari pagi sampai sore ketemunya adalah ruangan dengan atap berpendingin, kali ini berjibaku dengan panas dan rasa haus. Hitung – hitung sih ada benarnya harga cabai di tingkat petani mahal, seharusnya. Selalu ada harga yang dibayar untuk jerih payah. Secara tanaman cabai itu lumayan manja untuk bisa dipanen mulus berwarna merah hingga bisa kita rasakan di pasaran. Cuman tomat yang masih di php.in mulu. Sedih

Apalagi ya, yang udah berjalan di tahun awal ini. Oh ya, mengenai isu low risk residue pestisida. Kemarin sempet baca sekilas di koran luar Nagrek, yang menyatakan salah satu jenis tawon (Bee pollinator) udah masuk dalam katagori dilindungi Karena saking udah langkannya. Dan emang serunnya tuh negara punyaa aja data akan jenis serangga pollinator apa dan nyerbukin di tanaman apa. Detail banget. Nah, menyoal isu ini, emang penting banget. Bukan cuman perkara pembuahan bunga pada tanaman dan keberhasilan akhir produksi tanaman. Hal ini menjadi indikator keamanan lingkungan yang sangat nyata dari penggunaan SAPROTAN, seperti pupuk dan pestisida. Kebayangkan, serangga pollinator yang cuman mampir isep-isep madu di bunga aja sampe lenyap, apalagi bagian tanaman yang seringbanget kontak ama pestisida kita konsumsi.

Tapi, mikir-mikir selama ini di lahan kurang lebih 4 tahun emang hampir  – hampir nggak pernah ketemu serangga pollinator baik dari golongan lebah madu, kupu – kupu atau Wasp (Hymenoptera). Tapi, wajar sih disini penggunaan pestisisda sangat intensif. Kalopun enggak, lahan sebelahnya pas yang nggunaain, jadi sama aja ketularan. Cakep nih kayaknya buat jadi perhatian di dunia PHT.

Dan nggak lupa, ternyata bulan Januari ujan masih juga berlangsung, walopun intensitasnya udah lebih mendingan dari bulan – bulan “-ber” sebelumnya. Tapi kabarnya La-nina bakalan beres bulan Maret. Jadi mari siap – siap dengan suasana kelembapan rendah dan suhu cenderung tinggi.

#2017