Mengapa Lari…

why run…dulu pertama kali lari trail di even kampus
(dan akhirnya kapok hingga sekrng) 2014
melewati kaki gunung Manglayang (masih kaki ya)
pake sepatu yg sama dipake pas kuliah, badminton,
maupun ke acara formal lain.
Jd nggk pernah kepikiran unt lari sambil
nikmatin suasana indah rute lari-nya.

hari ini, 2017

Karna tujuan lari sekarang2 mulai berkembang dari
murni race ke style dan
fashion (nggk salah sih), mungkin jika dokumentasi even trail
yg diadakan di pegunungan Manglayang
lokal nambahin drone dan sedikit dubbing dan text
yang memotivasi unt berlari trail (contoh Hongkon trail, video di bawah) https://www.youtube.com/watch?v=ON2xJkGiq_k


mungkin bisa membuat orang2 berjubel ke garis start keluar dari
sarangnya….

untuk menikmati kesegaran Gn. Tertinggi di Jatinangor, maksudnya. hehe…

l3bSecara keseluruhan untuk tahun 2017 ini
ada 8 even lari (resmi) yang diadakan
oleh Kampus Perguruan tinggi, 3 di UI,
2 ITB, 1 Unpad, 1 ATMI, dan 1 di IBS
(Indonesia Banking School).
Hanya yang di Unpad yang berjalurkan trail
alias pegunungan (bangga kampus sendiri).

Kalo di liat sekarang-sekarang emang dari
perusahaan finansial hingga pendidikan
mulai menggemari olahraga lari.
Ngebuat komunitasnya hingga ngebuat
even resminya. Dari sekedar race
untuk atlet pro hingga pelari yang
mengejar foto sebanyak – banyaknya.

Prediksi, mungkin 2018 akan ada lebih
dari 200 even lari yang digelar di penjuru
Nusantara dengan berbagai EO-nya. Tapi jangan
lupa untuk selalu memberikan standar pelayanan
lari minimal water station sesuai aturan IAAF.

Mari sejukkan #L3B di Kampus Jatinangor, Universitas Padjadjaran
Sabtu, 30 September 2017

7 cidera umum abis lari

Cidera pada bagian lari ini biasanya akan kerasa makin nyeri sesuai dengan
intensitas lari dan jarak yang ditempuh (millage). Semua cidera ini juga bisa
dirasakan jika seseorang yang amat sangat jarang lari, ngelakuin lari jarak jauh
diatas kebiasaan dan kemampuan. Tapi cepet sembuhnya.
Hanya saja, sebenernya cidera – cidera ini juga dialami ama pelari profesinal
sekalipun, hanya saja paling cuman satu dua jenis ciderannya. Begitupun mereka
udah tahu cara ngobatinnya dari awal.
Nah ini nih bagian tubuh yang cidera yang umum terjadi pada pelari:
1. Lutut (Patellofemoral pain syndrome)
2. Paha (Illiotibial band synddrome)
3. Tulang kering (Shin Splint)
4. Pergelangan
5. Tumit (Achilles tendonitis)
6. Telapak kaki (Plantar Fasciitis)
7. Pinggang rada bawah (Iliotibial band syndrome)

Cara Menanganinnya

Cidera tersebut bisa diminalisir, dengan memperbaiki posisi tubuh ternyaman waktu
lari. Minimal standar adalah posisi tubuh tegak. Kaki mantab dengan bagian ujung
yang mendarat terlebih dahulu, dan ayunan tangan mengayun tidak membebani pundak.
Yang, paling ampuh juga untuk mengurangi rasa sakit adalah menggunakan es. Selama
jenis ciderannya nggak parah, nggak sampai beminggu-minggu kerasannya, dan masih
bisa jalan insyallah masih aman. Kecuali jika sampai menunjukan tanda – tanda
bengkak, maka segera dilarikan ke rumahsakit (bukan tukang pijit).

Untuk intensitas lari yang aman sebenernya udah banyak jadwal yang pas untuk lari
tersedia di internet. Tinggal nyesuain sama kondisi tubuh, kapan harus istirahat,
lari pelan, setengah kencang, atau sprint. Intinya sih jangan sampai overtrained,
secukupnya aja, kalopun mau memutuskan jadi pro ya udah semestinya ke klub lari
pro juga.

Kalo masalah sepatu, pilih sepatu yang ori. Nggak selalu mahal, ada juga produksi
lama dan bekas yang masih layak untuk dipakai maraton sekalipun. Keunggulan sepatu
ori ya, bahan dan jenis sepatunya udah dibuat sedemikian rupa.

Karna lari bukan untuk kompetisi sob. Tapi, melakukan #challange

Rekreasi di Ancol dengan Berlari

photo0093Kali ini merupakan weekend yang cukup berbahagia, liburan dengan menikmati Jakarta yang lancar jaya dan dibeliin tiket masuk Ancol gratis sama Allianz Indonesia.

Sebenernya niat awal ke ibukota nggak lain nggak bukan adalah main ke temen – temen lama didaerah Kuningan (segitiga emas). Dan kebetulan ada juga acara lari 10K yang bertajuk #AllianzSweatChallenge

Allianz World Run Indonesia 2017 sekaligus peresmian sebuah taman hijau  #AllianzEcopark. Ada juga pemecahan rekor MURI side Plank terbanyak dengan partisipan sebanyak 1760. Yang, sama – sama masih berlokasi di taman impian jaya Ancol, Pademangan, Jakarta utara.

photo0063Dan, karna pertama kali berlibur di taman wisata ibukota seluas 577 hektar akhirnya kejadian nyasar terjadi. Dikira awalnya even lari akan dimulai dari pintu masuk b

photo0064.jpg

arat ancol langsung, karna memang tidak paham maksud pintu Lobi Allianz ecopark yang tertera di tiket. Dan, tersesat masuk ke dalam jauh, hingga  terlambat startline hingga mungkin 10 detik lebih nu

photo0067

ker race tee, ganti kaos, dan nitipin baju. Emang, semangat nggk cukup sob untuk sekedar memenangkan pertandingan. #boom

 

 

Baru tau juga wahana yang luasnya minta ampun itu bisa juga untuk trekphoto0077 lari. Enak ada arboretum ala Allianz, lautan lepas langsung Tanjung priok, dunia fantasi yang menggiurkan daya tarik orang dewasa juga, dan tentunya jalanan beraspal luas yang mulus.

 

Pada even lari 10K kemar

in termasuk juga rangkaian untuk kegiatan amal #daretocare yang ditrack menggunakan aplikasi smarthphone endomondo. Dan, hp saya nggak ngerecord 1km-pun. #soosad

 

FYi, Allianz Indonesia merupakan sponsor utama untuk asuransphoto0068i even Maybank Bali Marathon (MBM) 27 Agustus yang akan datang. Kemarin juga mereka sampe memberikan doorprize-nya tiket MBM.

 

Ucapan terimakasih juga untuk Mas yang kemarin memberikan pe

nunjuk jalan menuju toilet di pintu barat. Kemudian juga nggak kalah salut untuk semua panitia,yang udah dari jam 2 pagiphoto0072saya ganggu dengan sms pertanyaan perihal tiket. Para penjaga lintasan yang buanyak banget hingga nggak bakal membuat para pelari bakal nyasar. Water station (WS) walopun di even yang nggak berbayar tetep ada disetiap 2,5 Km, photo0066keren nggak tuh?!!. Juga standar nutrisi untuk finish ada air mineral, buah semangka dan pisang berjibun bebas mau ngambil berapa, sampek snack aneka roti dari panitia nggak kemakan sebijipun-saking kenyangnya makan buah (maaf ngambil banyak..hh). Mungkin yang nggak ada tim medik di track, mungkin emang karna bertajuk fun run bukan race run ya. Adanya di pos start/finish.

 

 

Sensasi berlari di tepi laut yaitu badan bakalan over heat banget, karna emang biasa lelarian di dataran sejuk Sumedang. Cuman di 2 kilometeran akhir bakal didinginin ama ruang hijau 3 hektar tanaman di Allianz ecopark.

Lari 10K akhirnya memberikan bekas yang #maknyuss bagi saya pribadi. Selain tembus personal best (PB) 10 km dibawah 53 menit 5 Km di sekitaran 22 menit. Trakhir, lari yang diadain ama Allianz Indonesia ini bagi saya merupakan;

  1. sirkuit lari pertama kombinasi hutan dan tepian laut,
  2. even lari untuk amal/ charity terbaik yang pernah saya ikuti, baik organizer-nya maupun sarananya,
  3. sementara secara keseluruhan AWR Indonesia 2017 merupakan trek lari terbaik kedua setelah kebun raya bogor#KRB200 (overall).

 

 

photo0070.jpg

Pohon Wasiat

Pernah liat nggak kalo di Jepang tuh ada tradisi nanem pohon untuk setiap satu kelahiran? iya gue sih taunya di Anime Usagi no Drop (うさぎドロップ) yang diadopsi dari karangan Yumi Unita. Cuman kalo dipikir – pikir juga keren nih nanem pohon (Kayu) tahunan untuk sebuah nyawa yang masih hidup. Pastinya nggak bakal banyak yang protes kalo IbuKota makin panas. Atau emang jiwanya yang emang suka ngeluh di medsos,,,hmmng

Kalo itung-itungan ilmiahnya, 1 buah pohon bisa ngehasilin 5 mili liter (seperseribu liter) Oksigen segar dalam satu jam, itupun bakal naik volumennya seiring pertumbuhan cabang, ranting yang berdaun lebat. Nah, kebutuhan manusia cukup 50 liter oksigen untuk setiap hirupan/jamnya. Kebayangkan betapa segernya jika masyarakat pada nanem pohon, ngehirup udara teh enak gitu kaya pas lagi maen di Allianz ecopark, Ancol atau Kebun Raya Bogor. Kaya ada sensasi adem – ademnya dalam idung. bersih, segerrrrrr.

Sebenernya fenomena nanem-menanem di kampung ane Aryojeding – Tulungagung bukan hal yang ngejutin sih, tiap hari juga ngerasain betapa segernya udara dan nimatnya. Itupun sadar ketika udah rada lama di daerah dan ke kota – kota besar ala Jakarta-Bekasi, mayoritas emang udaranya kontribusi dari kendaraan bermotor.

Nah, sebagai rekomendasi gue saranin nanem pohon buah aja biar gampang, mau investasi atau nanem sendiri dari hasil cangkokan. Atau berprinsip orang desa, nanem kelapa biar hasilnya bisa untuk anak cucu. #sip sekian trimakasih

Menggairahkan membaca jurnal dan berlari (ultra) kembali

Memulai setelah rehat sekian lama itu emang sesuatu. Susah karena trauma atau pedih capai yang dirasakan selama berhari – hari karena sumpek. Berbeda dengan sebuah pertandingan yang jelas ada kemenangan yang ditargetkan, membaca jurnal jelas bukan jenis yang itu. Memahami sambil membaca dengan berulang – ulang hanya bisa dirasakan di dalam jurnal, udah tulisannya kueeecilll dan pake bahasan yang serba metodis jelas membakar lemak kemarin yang cukup jika hanya sarapan sepiring nasi di pagi hari.

Membaca jurnal tak hayalnya berlatih dalam mempersiapkan race. Membaca, mencatat yang sip untuk dicatut dalam makalah skripsi dan diajukan untuk di review, dan jangan berharap dengan hasilnya apalagi kemenangan. Karna yang indah itu retorikanya, dari awal pencarian keyword di Elsevier, Wiley, Nature dan tempat jurnal open lainnya kemudian menerjemahkan dan membongkar pasang ke dalam tulisan hingga terkesan ciamik nggak selalu indah juga di telaahan pembimbing. Karna itu berproses itu kadang yang paling nikmat…..

Sepertihalnya membaca, membangkitkan kembali berlari rutin tiap pagi juga sama istimewannya. Walopun udah beratus – ratus kilometer udah pernah dilalui, kalo rehat lari secara rutin seminggu aja rasa malas itu akan membuas. Ibarat biasa ngangkat beban 5 kilo rutin walo harus tahan nafas ngangkatnya trus diistirahatin seminggu jadi 2 kilo aja udah nggak keangkat.

Ya, begitulah. Membaca dan berlari rutin tiap pagi itu bukan jenis pertandingan. Rasa prestisnya ya didapet dari hasil proses didalamnya. Melampaui dan memperoleh hasil yang belum pernah kita gapai sebelumnya. Itu tuh yang bakalan didapat, trus kadang pas lagi nyangkul dan pengamatan di lapangan jadi kebawa tuh sikap memaksakan diri dan berusaha melampui kedisiplinan yang terjadi ketika membaca dan berlari. photo0037.jpg

Ngepoin Kurikulum

“Nggak usah diyakinkan, udah beri contoh yang baik aja”.

Begitulah ucapakan Pak Dosen yang saya anggap, ini orang emang bener-bener ngajar “beneran”. Jangan nanya yang lain gimana ya…hhh
Kampus kami punya metode mengenai kurikulum yang keren “Transformative Learning”. Mengenai makna sepenuhnya saya belum seutuhnya mengerti, hanya saja kekaguman cita – cita, visi, dan learning outcome yang akan dilahirkan bener – bener memukau, bahkan untuk mahasiswa yang udah kepalang telat lulus (baca: banget).

“Kita udah dzolim kepada mahasiswa – mahasiswa kita” mau apa sebenernya mereka kedepannya. Bukankah kita mengajari mereka untuk mempersiapkan tubuh – tubuh mudah itu hingga 20 tahun ke depan?!.

Ya, kadang jantung sampek berdegub (beneran) ngalahin merindingnya bulu kudu. Karna, emang saya juga ngakui kurikulim, rps, deskripsi tugas yang dibuat itu emang bagus. Tapi apakaIMAG8598_thumb.jpgh pernah kita nanya ke mahasiswa “Gengs, kalian nanti mau jadi apa sih?” …

Walopun saya cuman sempet mampir nungguin temen-temen dan adik kelas termasuk asistensi praktikum nggak lebih dari 3 semester, kadang kok ya “sebego” itu cara ngajarnya. ‘Apa yang elo mau dan ajari di sini, gue yang lebih tau.’, berasa kok kaya udah paling dewa…

Jadi inget dulu, gimana dosen saya di akhir sebelum ujian. “Saya minta maaf jika hingga hari ini kalian nggak paham dengan materi saya brati saya yang salah”. Dan mata kuliah 3 sks itu menjadi satu nilai yang paling saya banggakan. NB: Beliau melanjutkan studi ke Jepang

Intinya sih, pada sebagian panjang pertemuan kemarin mengenai kurikulum pembelajaran yang saya tangkep. Ide pembelajaran yang mengutamakan kebutuhan mahasiswa, daripada kebakuan akan apa yang disampaikan pendahulu-pendahulu TCL yang nggk mau berubah harus dimulai dilunakkan. Mengutamakan untuk memberi peran, panggung selebar ruang kelas dan selapang arboretum (plus danaunya), daripada khotbah nggk jelas 50 menit.

 

P.S: Tulisan ini bukan ditulis oleh dosen atau tenaga kependidikan, hanya mahasisa yang tercecar kawananya…hehe

Keseruan riset

IMAG8791.jpg

Display aneka cabai di Superindo Jatos

Kayaknya taun ini undangan dan ajakan untuk dateng di sidang temen dan adik-adik kelas makin banyak dan berbondong-bondong. Dari yang sekala laboratorium, lapangan, hingga sekedar analisis data skunder. Dari sidang usulan sampek seminar hasil. Yang selalu menarik dari sidang sih cuman satu, berapa lama beresnya. Udah

(Kencenderungannya) kalo tahun-tahun newbie masih ikut-ikutan masuk ruang sidang karena ditarik buat memenuhin quorum ama senior, ada gap yang cukup kerasa antara riset jaman sekarang (2013-2014) sama 2012 ke belakang. Sense of “seru” udah mulai pudar.

Kalo penelitian di pertanian paling seru itu ketika masih bisa riweuh macul, nyemai benih, beli gemuk, hingga nginep di Lab bulan – bulanan. Dan, ngerasain itu “is something”

Jika, ngeliat seminar usulan (UP) dan kolokium yang serba praktis dan dilakuin oleh petani dari ujung sampek panen. You won’t have enjoy momments