Reading ‘track’


Ruang baca hari ini makin berada dimana-mana. Aksesnyapun bahkan menembus tiap RW (Kota Bandung). Perpustakaan hari ini nggak cuman dimiliki ama pemerintah, organisasi, komunitas, bahkan individu nggak mau kalah. 

Membersamai gelora untuk berbagi aktifitas dan keseruan membaca jelas bukan perkara mudah. Asas kepercayaan nggk semudah tetiba terbangun. Proses pengumpulan sumberdana juga begitu, penuh keringat. 

Nah, diera yang serba disruptive berorientasi digital-maya apakah bahan bacaan juga mengikutinya?, Jawabanya “iya”, yang tidak mengikutinya dan tetap konvensional hanyalah manusianya saja. Penggunaan sarana digital dari laptop, gawai, dan tablet totalnya 1.5 kali lebih banyak daripada jumlah penduduk. Loh…jadi, apa yang mereka gunain sama hp-nya? 

“Read the chats”

“Kaum-kaum merunduk”, istilah mereka yang lebih banyak berkomunikasi di media sosial lewat gawai/tabletnya ketimbang dunia yang jelas asli mereka tempati. Mengubah pandangan bawah sadarnya, bahwa ber-hp lebih penting.

Bagaimanakah hal seperti itu berubah,?!. Apakah membaca buku sastra, berita, jurnal setidakitumenarikkah?. Iya, jelas. Bersenda gurau dan kepo-ria lewat medsos lebih asik lebih cair. Melawan batas jarak dan waktu bahkan perasaan yang nggak perlu ditutupin. 

Gerak cepat jari-jari dengan satu tangan merupakan teknik paling umum bagi mereka yang gentayangan di chatroom. Nggak habis sejam, bahkan perjalanan Bandung-Jatinangor pun banyak yang semenjak awal menghadapkan wajahnya ke layar gawai tersebut. Apakah nggak capek?, I don’t know, Couse I never do it

PR untuk generasi adolance, jelas hari ini lebih banyak gerakan maya yang berdasarkan ledakan berita desas-desus, hoax, re-post, comments haters. Seolah kepercayaan mereka hanya dikendalikan oleh bagaimana kebanyakan manusia maya berpendapat. 

Jelas tidak menarik mental seperti ini, mari memulai membaca. Boleh darimana saja asal diniati dengan yang baik dan Bismillah. 

Insyallah

Advertisements

Tetiba (fiksi)

Terlibat…

 

“Tanpa keterlibatan, tak akan ada komitmen. Beri tanda, lingkari, garis bawahi.!”

Pagi itu, ketika Saya masih hanya mahasiswa ingusan, Saya duduk di lantai tanpa alas bertatapan pas dengan pohon mimba tua. Jika pagi – pagi itu Saya melihat seorang Ayah duduk di sebelah anaknya sembari memegang pundak sang anak menahan guncangan angkot yang mengejar rizeki, Saya mengejar berburu tem

Hari itu merupakan hari yang penting: hari bimbingan skripsi untuk keseratus sekian kali. Pada sudut ujung pintu menuju tempat Saya duduk begitu lengang, ruangan masih terasa segar, tegel mengkilat khas pasca dijilat sabun pembersih lantai. Diperjalanan langkah kecil, Saya sempat berpapasan dengan senyum ramah baik hati yang memang serasa guru sejati, hingga duduk di lantaipun terasa senang di hati. Menunggu, jelas itu lebih baik dari pada mengumpat ketelatan orang. Seperti seorang Ayah yang diangkot tadi, tenang dan duduk nyaman.

Dan dosen pembimbing-pun tiba dari belakang mengagetkan.
” Jadi kamu masih mau melanjutkannya?
bukankah dipenelitian sebelumnya sudah gagal.
Gimana kamu ini?
Ha?
Kamu angkatan tahun berapa?”

Hanya sempat menjawab satu pernyataan terakhir, karena memang tidak sempat mengisi begitu banyak pertanyaan yang bertumpuk berjibun paragraf. Lebih singkat dari pada mengisi soal masuk CPNS.

Saya memang hanya beberapa detik menunggu ‘ngelesot’, lebih tepatnya detik yang berayun menjadi ratusan menit. Tanpa diberikesempatan dan silah masuk ruangan dosen yang nyaman. Cukup duduk mendongak di lantai yang belum sempat di bersihkan oleh halusnya kain pel, sang menteri-pun bertanya tanpa jeda. Kemudian melenggang seperti tak ada suara dan manusia.

Tak terasa setelah lewatnya hembusan angin panas yang sudah ditunggu dan rasa asin yang meliur, nasi beserta sayur sarapan dari rumah tadi tidak mau melanjutkan perjalanan ke usus – usus, keluar tanpa deru. Muntah.

Jadi kembali terbayang, begitukah rasa sang Anak di angkot tadi, merasa aman dengan dekapan sang Ayah.

Saya memang nggak pernah menonton premier film – film super ala Chris Hemsworth atau Ben Affleck di bioskop. Dan, juga Saya tidak berharap ada pahlawan yang datang menyelamatkan.

“hai gung, ngapain disitu?”, teman seangkatan yang sudah lulus 2 tahun yang lalu menyapa sambil lalu.
Kalau waktu bisa diputar ke belakang, Saya ingin memperlihatkan bagaimana nasi dan sayur bisa menjadi satu di dalam kresek hitam ini.

“Menunggu Pagi Kembali” artinya menyerah, kan ku larutkan sisa hari ini menjadi nilai penuh warna.

Tentang membiasakan (lari)

Bagi warga kekinian lari dan mengikuti acara lari menjadi ciri khas menghiasi akun medsos. Mulai dari foto kandit 5K for fun hingga 100K trail running. Walopun udah jelas nggak pernah punya track record lari dengan jarak race-pun tetep mencoba memecah rasa penasaran lari jarak jauh di race. Itulah tekad (+nekat).

Nah, bagaimana membiasakan lari itu? apalagi targetnya ikut race dengan katagori lebih jauh dari pada jarak yang pernah dilampaui ketika latihan?

Mulai aja seenggaknya 2 bulan sebelum race, kalo cuman mau ngedapetin finish COT, insyallah bisa. Dengan syarat ya, harus buat peruntutan jadwal jogging perhari selama 8 minggu tersebut. Minimal 15 menit aja jogging 3 kali seminggu udah cukup. Hanya saja jika memang ada pembatas semisal fisik atau gangguan medan lari akan perlu penyesuaian nafas/detak jantung dan posisi berlari/form. Jika sebelumnya udah bisa ngunci pace 7-8 menit/km selama 5Km ke atas akan lebih mudah untuk memperbaikinya dalam 2 bulan tersebut.

Persiapan sebelum lari, sebisa mungkin untuk tidak makan (berat) minimal 2 jam sebelumnya dan udah B.A.B. Persiapan gear, biar nggak ngaret jika nanti harus ke kampus, sekolah, atau kantor karna larinya dipagi hari.

Mungkin jarak persiapan yang 2 bulan sangat pendek dan cuman cocok untuk jarak 5K atau 10K road running. Jika udah menyentuh 21K atau FM perlu gencetak dan pelatihan daya tahan, pace, dan nutrisi yang cukup serius. Ya, bisa aja berbagai macam kram dan cidera akan menghantui jika terlalu iseng untuk ngotot.

Intinya sih, dijaman yang biaya tiket untuk race udah makin mahal lebih baik mempersiapkan diri secara bener-bener sebelum ikutan. Ok21k.JPG

Medali finisher saya waktu KRB200 katagori 21K, waktu 2:19:00

Melawan arah, Ngetem, atau melewati trotoar

photo0177Selama ini sebuah kota atau daerah yang sebelahan ama kota (alias coret) jalanan selalu lebih padat, rame dengan kendaraan bermotor. Minim banget yang bersepeda apalagi yang jalan kaki, rare
Berbagai model rambu – rambu lalu lintas terbentang di pinggiran jalan. Berbagai tipe psikologi pengendara juga menjejalinya. Termasuk juga menggelikannya tingkah – tingkah para pekerja parkiran.
Oke, judul diatas jelas bukan jenis tipe opsional apalagi sesuatu yang sebanding. Perlu jenis selera humor tingkat tinggi untuk menanggapi dan memberikan solusinya. Jika kita dulu menganggap angkot photo0199photo0336merupakan no. 1 biang kemancetan karena ngetemnya, sekarang – sekarang mereka mulai lupa akan berapa pertumbuhan usia produktif manusia Indonesia yang diikuti dengan kenaikan jumlah kendaraan bermotor yang naik drastis.
Jika kesedihan karena lagi enak – enak naik sepedah di klakson dari depan (yang nglawan arah) maupun belakang, siapin tasbih 33 butir. Karna kemungkinan keluar kalimat budaya dari mulut/hati bener – bener nggak tertahankan. *anj**
Hanya penasaran bagaimana orang – orang dengan kesadaran dan kelengkapan jasmaninya begitu PeDe aja dengan perlawanan tersebut. Wajah – wajah ngebut bermotor naik trotoar, sering bikin bibir tersenyum. Walopun seseorang lagi jalan udah nyaman dan nahan pipis berjam – jam, motor dari belakang nyrobot ke depan. Mental yang kuat…
Serius, penasaran bagaimana perasaan mereka, itu aja sih. Kalo dilihat dari wajahnya sih lempeng – lempeng aja. nothing to shame.
Penasaran untuk ngebuat penelitian mengenai “studi komparatif efek negatif dari mengambil jalan mutar dengan melawan arah terhadap nilai ekonomi rumah tangga”. Pasti seru…hhh
Terakhir, jelas ini bukan makna mengkritik atau apa. mengingat saya juga sering nyebrang jalan yang nggak resmi. Ya masih membiasakan untuk tertib lagi. Karna disini naik sepedah aja macet sob…
Kadang juga memaklumi walopun lebih sering meneriaki (dalam hati). Karena putaran untuk enggak melawan arah itu jauh banget mana kondisi jalanan juga panas. Terlebih lagi ketika pada naik ke trotoar, lampu merah di kota itu emang ratusan detik ditambah lagi asap dan macetnya.
Untuk angkot yang ngetem, kadang gue rasa kenapa halte atau pos – pos pemberhentian itu jauh dari perumahan atau tempat rame, atau kalo sekalinya ada deket jalan, ya angkot masih di jalan, pantesan jalan padet kan.
Mungkin suatu hari ada angkot yang punya jam lalu lalang yang pasti dan pas harga tiketnya. Karna era trans and mass transit transportasi jelas mendesak banget ama pendapatan angkot – angkot yang cuman dilindungi ama Organda.
Ya, someday mungkin. Trotoar digunain sesuai dengan fungsinya. Dan makin banyak yang ngegunain sepedah atau jalan kaki ketika berangkat ke kantor atau sekolah. Think positive///

photo0404

Rekreasi di Ancol dengan Berlari

photo0093Kali ini merupakan weekend yang cukup berbahagia, liburan dengan menikmati Jakarta yang lancar jaya dan dibeliin tiket masuk Ancol gratis sama Allianz Indonesia.

Sebenernya niat awal ke ibukota nggak lain nggak bukan adalah main ke temen – temen lama didaerah Kuningan (segitiga emas). Dan kebetulan ada juga acara lari 10K yang bertajuk #AllianzSweatChallenge

Allianz World Run Indonesia 2017 sekaligus peresmian sebuah taman hijau  #AllianzEcopark. Ada juga pemecahan rekor MURI side Plank terbanyak dengan partisipan sebanyak 1760. Yang, sama – sama masih berlokasi di taman impian jaya Ancol, Pademangan, Jakarta utara.

photo0063Dan, karna pertama kali berlibur di taman wisata ibukota seluas 577 hektar akhirnya kejadian nyasar terjadi. Dikira awalnya even lari akan dimulai dari pintu masuk b

photo0064.jpg

arat ancol langsung, karna memang tidak paham maksud pintu Lobi Allianz ecopark yang tertera di tiket. Dan, tersesat masuk ke dalam jauh, hingga  terlambat startline hingga mungkin 10 detik lebih nu

photo0067

ker race tee, ganti kaos, dan nitipin baju. Emang, semangat nggk cukup sob untuk sekedar memenangkan pertandingan. #boom

 

 

Baru tau juga wahana yang luasnya minta ampun itu bisa juga untuk trekphoto0077 lari. Enak ada arboretum ala Allianz, lautan lepas langsung Tanjung priok, dunia fantasi yang menggiurkan daya tarik orang dewasa juga, dan tentunya jalanan beraspal luas yang mulus.

 

Pada even lari 10K kemar

in termasuk juga rangkaian untuk kegiatan amal #daretocare yang ditrack menggunakan aplikasi smarthphone endomondo. Dan, hp saya nggak ngerecord 1km-pun. #soosad

 

FYi, Allianz Indonesia merupakan sponsor utama untuk asuransphoto0068i even Maybank Bali Marathon (MBM) 27 Agustus yang akan datang. Kemarin juga mereka sampe memberikan doorprize-nya tiket MBM.

 

Ucapan terimakasih juga untuk Mas yang kemarin memberikan pe

nunjuk jalan menuju toilet di pintu barat. Kemudian juga nggak kalah salut untuk semua panitia,yang udah dari jam 2 pagiphoto0072saya ganggu dengan sms pertanyaan perihal tiket. Para penjaga lintasan yang buanyak banget hingga nggak bakal membuat para pelari bakal nyasar. Water station (WS) walopun di even yang nggak berbayar tetep ada disetiap 2,5 Km, photo0066keren nggak tuh?!!. Juga standar nutrisi untuk finish ada air mineral, buah semangka dan pisang berjibun bebas mau ngambil berapa, sampek snack aneka roti dari panitia nggak kemakan sebijipun-saking kenyangnya makan buah (maaf ngambil banyak..hh). Mungkin yang nggak ada tim medik di track, mungkin emang karna bertajuk fun run bukan race run ya. Adanya di pos start/finish.

 

 

Sensasi berlari di tepi laut yaitu badan bakalan over heat banget, karna emang biasa lelarian di dataran sejuk Sumedang. Cuman di 2 kilometeran akhir bakal didinginin ama ruang hijau 3 hektar tanaman di Allianz ecopark.

Lari 10K akhirnya memberikan bekas yang #maknyuss bagi saya pribadi. Selain tembus personal best (PB) 10 km dibawah 53 menit 5 Km di sekitaran 22 menit. Trakhir, lari yang diadain ama Allianz Indonesia ini bagi saya merupakan;

  1. sirkuit lari pertama kombinasi hutan dan tepian laut,
  2. even lari untuk amal/ charity terbaik yang pernah saya ikuti, baik organizer-nya maupun sarananya,
  3. sementara secara keseluruhan AWR Indonesia 2017 merupakan trek lari terbaik kedua setelah kebun raya bogor#KRB200 (overall).

 

 

photo0070.jpg

Menggairahkan membaca jurnal dan berlari (ultra) kembali

Memulai setelah rehat sekian lama itu emang sesuatu. Susah karena trauma atau pedih capai yang dirasakan selama berhari – hari karena sumpek. Berbeda dengan sebuah pertandingan yang jelas ada kemenangan yang ditargetkan, membaca jurnal jelas bukan jenis yang itu. Memahami sambil membaca dengan berulang – ulang hanya bisa dirasakan di dalam jurnal, udah tulisannya kueeecilll dan pake bahasan yang serba metodis jelas membakar lemak kemarin yang cukup jika hanya sarapan sepiring nasi di pagi hari.

Membaca jurnal tak hayalnya berlatih dalam mempersiapkan race. Membaca, mencatat yang sip untuk dicatut dalam makalah skripsi dan diajukan untuk di review, dan jangan berharap dengan hasilnya apalagi kemenangan. Karna yang indah itu retorikanya, dari awal pencarian keyword di Elsevier, Wiley, Nature dan tempat jurnal open lainnya kemudian menerjemahkan dan membongkar pasang ke dalam tulisan hingga terkesan ciamik nggak selalu indah juga di telaahan pembimbing. Karna itu berproses itu kadang yang paling nikmat…..

Sepertihalnya membaca, membangkitkan kembali berlari rutin tiap pagi juga sama istimewannya. Walopun udah beratus – ratus kilometer udah pernah dilalui, kalo rehat lari secara rutin seminggu aja rasa malas itu akan membuas. Ibarat biasa ngangkat beban 5 kilo rutin walo harus tahan nafas ngangkatnya trus diistirahatin seminggu jadi 2 kilo aja udah nggak keangkat.

Ya, begitulah. Membaca dan berlari rutin tiap pagi itu bukan jenis pertandingan. Rasa prestisnya ya didapet dari hasil proses didalamnya. Melampaui dan memperoleh hasil yang belum pernah kita gapai sebelumnya. Itu tuh yang bakalan didapat, trus kadang pas lagi nyangkul dan pengamatan di lapangan jadi kebawa tuh sikap memaksakan diri dan berusaha melampui kedisiplinan yang terjadi ketika membaca dan berlari. photo0037.jpg

Ngepoin Kurikulum

“Nggak usah diyakinkan, udah beri contoh yang baik aja”.

Begitulah ucapakan Pak Dosen yang saya anggap, ini orang emang bener-bener ngajar “beneran”. Jangan nanya yang lain gimana ya…hhh
Kampus kami punya metode mengenai kurikulum yang keren “Transformative Learning”. Mengenai makna sepenuhnya saya belum seutuhnya mengerti, hanya saja kekaguman cita – cita, visi, dan learning outcome yang akan dilahirkan bener – bener memukau, bahkan untuk mahasiswa yang udah kepalang telat lulus (baca: banget).

“Kita udah dzolim kepada mahasiswa – mahasiswa kita” mau apa sebenernya mereka kedepannya. Bukankah kita mengajari mereka untuk mempersiapkan tubuh – tubuh mudah itu hingga 20 tahun ke depan?!.

Ya, kadang jantung sampek berdegub (beneran) ngalahin merindingnya bulu kudu. Karna, emang saya juga ngakui kurikulim, rps, deskripsi tugas yang dibuat itu emang bagus. Tapi apakaIMAG8598_thumb.jpgh pernah kita nanya ke mahasiswa “Gengs, kalian nanti mau jadi apa sih?” …

Walopun saya cuman sempet mampir nungguin temen-temen dan adik kelas termasuk asistensi praktikum nggak lebih dari 3 semester, kadang kok ya “sebego” itu cara ngajarnya. ‘Apa yang elo mau dan ajari di sini, gue yang lebih tau.’, berasa kok kaya udah paling dewa…

Jadi inget dulu, gimana dosen saya di akhir sebelum ujian. “Saya minta maaf jika hingga hari ini kalian nggak paham dengan materi saya brati saya yang salah”. Dan mata kuliah 3 sks itu menjadi satu nilai yang paling saya banggakan. NB: Beliau melanjutkan studi ke Jepang

Intinya sih, pada sebagian panjang pertemuan kemarin mengenai kurikulum pembelajaran yang saya tangkep. Ide pembelajaran yang mengutamakan kebutuhan mahasiswa, daripada kebakuan akan apa yang disampaikan pendahulu-pendahulu TCL yang nggk mau berubah harus dimulai dilunakkan. Mengutamakan untuk memberi peran, panggung selebar ruang kelas dan selapang arboretum (plus danaunya), daripada khotbah nggk jelas 50 menit.

 

P.S: Tulisan ini bukan ditulis oleh dosen atau tenaga kependidikan, hanya mahasisa yang tercecar kawananya…hehe