Tolong menolong 

Kotbah 15/12

Judul kotbah paling membingungkan kali ini, betapa tidak. 


Jika kita disuruh memaafin orang yang salah kepada kita, mungkin hal itu cuman urusan mulut dan merelakan dalam sekejap.

Nah, ini…  menolong orang yang udah menganiyaya?

Btw,

Pada sebagian besar kita tahu dong, mencela, menghina orang, membicarakan kekurangan manusia lain, adalah kesenangan yang menggairahkan. Hal ini bisa diperlakukan oleh otak yang pernah duduk di sekolah maupun kuliah, semua bisa melakukannya. Hanya saja, apakah masih tega untuk tidak menolongnya, memperhatikannya lebih jauh, memberikan sebagihaan ruang untuk menawarkan perasaan?


I haven’t solution yet!! Until…


“Tolonglah saudara yg teraniyaya dan yang menganiyaya” (dikutip dari sebuah hadis).

Bagaimana menolong orang yang bahkan telah menganiyaya kita ya Rasul?

“Dengan kau bantu dia, tolong dia, dekatin dia, tau maksud dan tujuannya, hal itu menjadi bagian usaha mencegah keaniyayaan itu sendiri”…(dikutip dari ‘sarah’ yang disampaikan khotib).


“wa taawanu alal birri wattaqwa….”


Advertisements

Citarasa

Kotbah 8/12
Dengan mengawali suguhan kalimat pengingat hakikat manusia  khas khotib, serta
penambhan citarasa  “perayaan hari lahir” sebagai bumbu judul pembuka,
“Public speaking” jumat ini begitu sendu namun nggak pilu.
Maulid Rasul, yang gelora utamanya adalah untuk membangkitkan pasukan suci penjaga Jerusalem,
Sang uswatun hasanah, sang pelaku yang ceritanya seperti tak pernah berkesudahan meski diulang,
Jangan pernah bertanya ‘mengapa’ untuk sebuah alasan, meski itu tentang cinta.

“lakod kaana lakum fii rasulullahi uswatun hasanah…”

Reading ‘track’


Ruang baca hari ini makin berada dimana-mana. Aksesnyapun bahkan menembus tiap RW (Kota Bandung). Perpustakaan hari ini nggak cuman dimiliki ama pemerintah, organisasi, komunitas, bahkan individu nggak mau kalah. 

Membersamai gelora untuk berbagi aktifitas dan keseruan membaca jelas bukan perkara mudah. Asas kepercayaan nggk semudah tetiba terbangun. Proses pengumpulan sumberdana juga begitu, penuh keringat. 

Nah, diera yang serba disruptive berorientasi digital-maya apakah bahan bacaan juga mengikutinya?, Jawabanya “iya”, yang tidak mengikutinya dan tetap konvensional hanyalah manusianya saja. Penggunaan sarana digital dari laptop, gawai, dan tablet totalnya 1.5 kali lebih banyak daripada jumlah penduduk. Loh…jadi, apa yang mereka gunain sama hp-nya? 

“Read the chats”

“Kaum-kaum merunduk”, istilah mereka yang lebih banyak berkomunikasi di media sosial lewat gawai/tabletnya ketimbang dunia yang jelas asli mereka tempati. Mengubah pandangan bawah sadarnya, bahwa ber-hp lebih penting.

Bagaimanakah hal seperti itu berubah,?!. Apakah membaca buku sastra, berita, jurnal setidakitumenarikkah?. Iya, jelas. Bersenda gurau dan kepo-ria lewat medsos lebih asik lebih cair. Melawan batas jarak dan waktu bahkan perasaan yang nggak perlu ditutupin. 

Gerak cepat jari-jari dengan satu tangan merupakan teknik paling umum bagi mereka yang gentayangan di chatroom. Nggak habis sejam, bahkan perjalanan Bandung-Jatinangor pun banyak yang semenjak awal menghadapkan wajahnya ke layar gawai tersebut. Apakah nggak capek?, I don’t know, Couse I never do it

PR untuk generasi adolance, jelas hari ini lebih banyak gerakan maya yang berdasarkan ledakan berita desas-desus, hoax, re-post, comments haters. Seolah kepercayaan mereka hanya dikendalikan oleh bagaimana kebanyakan manusia maya berpendapat. 

Jelas tidak menarik mental seperti ini, mari memulai membaca. Boleh darimana saja asal diniati dengan yang baik dan Bismillah. 

Insyallah

Tetiba (fiksi)

Terlibat…

 

“Tanpa keterlibatan, tak akan ada komitmen. Beri tanda, lingkari, garis bawahi.!”

Pagi itu, ketika Saya masih hanya mahasiswa ingusan, Saya duduk di lantai tanpa alas bertatapan pas dengan pohon mimba tua. Jika pagi – pagi itu Saya melihat seorang Ayah duduk di sebelah anaknya sembari memegang pundak sang anak menahan guncangan angkot yang mengejar rizeki, Saya mengejar berburu tem

Hari itu merupakan hari yang penting: hari bimbingan skripsi untuk keseratus sekian kali. Pada sudut ujung pintu menuju tempat Saya duduk begitu lengang, ruangan masih terasa segar, tegel mengkilat khas pasca dijilat sabun pembersih lantai. Diperjalanan langkah kecil, Saya sempat berpapasan dengan senyum ramah baik hati yang memang serasa guru sejati, hingga duduk di lantaipun terasa senang di hati. Menunggu, jelas itu lebih baik dari pada mengumpat ketelatan orang. Seperti seorang Ayah yang diangkot tadi, tenang dan duduk nyaman.

Dan dosen pembimbing-pun tiba dari belakang mengagetkan.
” Jadi kamu masih mau melanjutkannya?
bukankah dipenelitian sebelumnya sudah gagal.
Gimana kamu ini?
Ha?
Kamu angkatan tahun berapa?”

Hanya sempat menjawab satu pernyataan terakhir, karena memang tidak sempat mengisi begitu banyak pertanyaan yang bertumpuk berjibun paragraf. Lebih singkat dari pada mengisi soal masuk CPNS.

Saya memang hanya beberapa detik menunggu ‘ngelesot’, lebih tepatnya detik yang berayun menjadi ratusan menit. Tanpa diberikesempatan dan silah masuk ruangan dosen yang nyaman. Cukup duduk mendongak di lantai yang belum sempat di bersihkan oleh halusnya kain pel, sang menteri-pun bertanya tanpa jeda. Kemudian melenggang seperti tak ada suara dan manusia.

Tak terasa setelah lewatnya hembusan angin panas yang sudah ditunggu dan rasa asin yang meliur, nasi beserta sayur sarapan dari rumah tadi tidak mau melanjutkan perjalanan ke usus – usus, keluar tanpa deru. Muntah.

Jadi kembali terbayang, begitukah rasa sang Anak di angkot tadi, merasa aman dengan dekapan sang Ayah.

Saya memang nggak pernah menonton premier film – film super ala Chris Hemsworth atau Ben Affleck di bioskop. Dan, juga Saya tidak berharap ada pahlawan yang datang menyelamatkan.

“hai gung, ngapain disitu?”, teman seangkatan yang sudah lulus 2 tahun yang lalu menyapa sambil lalu.
Kalau waktu bisa diputar ke belakang, Saya ingin memperlihatkan bagaimana nasi dan sayur bisa menjadi satu di dalam kresek hitam ini.

“Menunggu Pagi Kembali” artinya menyerah, kan ku larutkan sisa hari ini menjadi nilai penuh warna.

Meramal kesehatan (tanaman)

Ada yang namanya Area under the disease progress curve atau kalo anak – anak dari kaum HPT menyebutnya AUDPC alias kurva perkembangan penyakit. Mungkin ini satu – satunya alat penilaian dan peramalan yang diajarkan di Fakultas Pertanian (yang kurang diterapkan) di matakuliah peminatan.
Jika kita pernah melihat stasiun cuaca per-kota provinsi atau kabupaten, sesungguhnya itu juga merupakan upaya peramalan untuk mendapatkan data harian, se-tahunan, hingga puluhan tahunan. Hanya saja hal itu tetap berupa sampel per wilayah yang diwakilkan provinsi atau kota yang terpasang alat – alatnya, bisa dibilang peramalan selalu enggak 100%, ada bocor – bocornya.

Berkaca dari peramalan cuaca dan iklim, tentu kita juga bisa menggunakannya untuk meramal sebaran hama dan penyakit tanaman, apalagi jaman sekarang pola tanam seperti bak artis, jika disana harga cabe lagi bagus di daerah lain ngikut. Pola – polanya biasanya diikuti ama perubahan cuaca. Bisa kita liat kalo musim hujan kecenderungannya tanaman padi atau tanaman daun, baru ketika kering berupa tanaman jagung, aneka ubi, atau aneka kacang. Petani jaman sekarang juga bisa memberikan nilai kerusakan akibat hama/ penyakit mana yang melewati ambang kendali dan ambang ekonomi. Walopun sekedar peramalan, jelas kalo dibuktiin pake data ilmiah jadi makin cakep.

Tentang membiasakan (lari)

Bagi warga kekinian lari dan mengikuti acara lari menjadi ciri khas menghiasi akun medsos. Mulai dari foto kandit 5K for fun hingga 100K trail running. Walopun udah jelas nggak pernah punya track record lari dengan jarak race-pun tetep mencoba memecah rasa penasaran lari jarak jauh di race. Itulah tekad (+nekat).

Nah, bagaimana membiasakan lari itu? apalagi targetnya ikut race dengan katagori lebih jauh dari pada jarak yang pernah dilampaui ketika latihan?

Mulai aja seenggaknya 2 bulan sebelum race, kalo cuman mau ngedapetin finish COT, insyallah bisa. Dengan syarat ya, harus buat peruntutan jadwal jogging perhari selama 8 minggu tersebut. Minimal 15 menit aja jogging 3 kali seminggu udah cukup. Hanya saja jika memang ada pembatas semisal fisik atau gangguan medan lari akan perlu penyesuaian nafas/detak jantung dan posisi berlari/form. Jika sebelumnya udah bisa ngunci pace 7-8 menit/km selama 5Km ke atas akan lebih mudah untuk memperbaikinya dalam 2 bulan tersebut.

Persiapan sebelum lari, sebisa mungkin untuk tidak makan (berat) minimal 2 jam sebelumnya dan udah B.A.B. Persiapan gear, biar nggak ngaret jika nanti harus ke kampus, sekolah, atau kantor karna larinya dipagi hari.

Mungkin jarak persiapan yang 2 bulan sangat pendek dan cuman cocok untuk jarak 5K atau 10K road running. Jika udah menyentuh 21K atau FM perlu gencetak dan pelatihan daya tahan, pace, dan nutrisi yang cukup serius. Ya, bisa aja berbagai macam kram dan cidera akan menghantui jika terlalu iseng untuk ngotot.

Intinya sih, dijaman yang biaya tiket untuk race udah makin mahal lebih baik mempersiapkan diri secara bener-bener sebelum ikutan. Ok21k.JPG

Medali finisher saya waktu KRB200 katagori 21K, waktu 2:19:00

“Menembus Jatinangor dari Denpasar”, Angkutan Menuju Bali

Pertama kali menginjakkan kaki di tanah dewata sendirian ya ketika sudah berumur 23 tahun. Jika dulu waktu SMP ikut rombongan bus wisata dan se sekolahan kesanannya, kali ini bener – bener sendiri dari awal perencanaannya. Melihat toko online dengan serius h-3 bulan adalah kebiasaan, walo baru beli tiket PP sekitar sebulan sebelumnya.

Nah, perjalanan kali ini konsepnya harus murah dan paling sedikit memakan waktu. Yoi, “Kereta Api Indonesia” KAI

Start pemberangkatan adalah Jalan Raya Bandung-Sumedang Km 21 alias Jalan yang segaris ama kampus saya Universitas Padjadjaran.

Pemberangkatan

  1. Angkot Tanjung sari – Cileunyi (IDR 3000,00)

Ngambil start di pertigaan pangdam (pangkalan damri) yang arah pintu tol Cileunyi. Turun di depan pasar Cileunyi aja, biar enak sambil

2. Angkot Cileunyi – Cicahuem (IDR 5000,00)

Dari depan pasar tinggal nungguin angkot warna ijo yang menuju terminal Cicaheum, nanti turunnya di bundaran Cibiru sebelum belok ke kiri turun aja di yang angkotnya banyak.

3. Angkot Cibiru – Cicadas ( rekomendasi bayarnya Rp 7000,00)

Dari Cibiru, ambil angkot yang bertuliskan Cibiru – Cicadas. Untuk angkot ini emang jarang banget ngetem, jadi walopun perjalanan jauh juga 10 menitan juga sampe apalagi kalo mau ngejar kereta pagi Pasundan. Turun di pertigaan sebelah gate masuk stasiun Kiaracondong dan cukup bayar 6-7 ribu. photo0210.jpg

4. Kereta Api Pasundan Bandung Kiaracondong – Surabaya Gubeng (IDR 94000,00)

Jam 5.30 – 21.44 WIB

photo0230Kalo kereta ini emang paling ekonomi harganya dan untuk kenyamanan berkendara jarak jauh mending beli di toko online semacam traveloka.com, tiket.com, bukalapak.com tokopedia.com, biar sekaligus dapat milih kursi yang 2-2 deket jendela. Dan nggak jarang toko – toko tersebut memberi diskon atau cashback. Maknyuss

Inget banget ini kereta waktu di Stasiun Gubeng datengnya kecepetan 2 menit, salut.

5. Kereta Api Probowangi Surabaya Gubeng – Banyuwangi Baru ( Rp 56000,00)

Jam 4.25 – 11.45 WIBphoto0237

Karna perjalanan waktu itu hari jumat jadi, langsung cus nyari masjid. Nah, masjid sendiri sangat deket dengan pintu masuk menuju pelabuhan Ketapang depan – depanan sama pelabuhan.

6. Kapal Feri Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk (IDR 6500,00)

(sekitar) Jam 13.15 WIB – 14.30 WITAphoto0248

 

Dari pintu keluar Stasiun Banyuwangi Baru tinggal lurus, jalan raya ambil kanan, nggak usah nyebarang. Trus kalo liat tulisan Pelabuhan Ketapang baru deh masuk. Oya, jangan lupa siapkan uang pas dan KTP asli biar yang antri nggak kelamaan, dan kita bisa langsung naik kapal yang tercepat. Perjalanan keseluruhan cuman sejam aja.photo0356

Nanti di tengah – tengah selat Bali, ketika kapal mulai bermanufer untuk memotong arus jam di handphone akan menyesuaikan waktu di Bali, jadi kalo liat jam keliatan waktunya udah dua jam aja. Jadi jangan kaget…photo0352

7. Bus ASDP Terminal Gilimanuk – Terminal Ubung (IDR 40000 – 50000,00)

(sekitar) 15.00 – 19.00 WITA

Karna ini udah masuk Terminal Gilimanuk, nanti akan ada pengecekan KTP lagi dari sanannya. Dan, jika banyak preman yang nawarin ini – itu pastikan untuk masuk ke dalam terminalnya dulu dan melihat bis tujuan Terminal Ubung di Denpasar.

Bisnya sendiri ada dua jenis, yang ber-AC dan non-AC. Dan keduanya jarak antar kursi bener – bener sempit, tapi harga segitu dan jarak yang ditempuh worth it sob.

Habis ini menuju Denpasar saya nginep dan dijemput sama temen, lumayan jauh memang dari pusat kota. Atau lebih tepatnya banyak banget jalan searah yang cukup ribet dihafal untuk sekali datang kesini. Dan, jika kalian nggak punya kenalan di sini sebisa mungkin udah instal aplikasi ojek online atau minimal tau persis posisi penginapan dan target wilayah yang akan dikunjungi. Mengingat nggak ada kendaraan umum semacam angkot atau bis mini di daerah ini, apalagi kalo malam ojek atau taksi. Untuk ojek online, harap rada menjauh dari terminal, karna banyak yang tidak suka dan menghalangi.

photo0263

Bis ini ber-AC jadi rada beda tiketnya, kalo yang biasa 40ribu seperti model – model Kopaja zaman sebelum gabung Trans Jakarta bisnya.

Kepulangan

  1. Bus ASDP Terminal Gilimanuk – Terminal Ubung (nonAC IDR 40000,00)
  2. Kapal Feri Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk (IDR 6500,00)
  3. Kereta Api Mutiara Timur (malam) Surabaya Gubeng – Banyuwangi Baru (executive IDR 155000,00 – 200000,00 disc. IDR IDR 65000,00)
  4. Kereta Api Pasundan Bandung Kiaracondong – Surabaya Gubeng (IDR 94000)
  5. Angkot Cibiru – Cicadas (IDR 5000,00 – 7000,00)
  6. Angkot Cileunyi – Cicahuem (IDR 5000,00 – 7000,00)
  7. Jalan Kaki (gratis)

Inti dari setiap perjalanan adalah perencanaan yang mantab. Walopun kalian punya uang cukup banyak, kadang disitulah tantanngannya, untuk menggunakan uang se-optimal  mungkin. Selain memang untuk ditabung dan digunakan hal – hal yang perlu dilain hari. Nah, kenapa destinasi ke Bali, karna pulau ini tertata rapih dan terlanjur punya tempat di hati para turis dunia sob. Jika kalian pernah jalan – jalan (kaki) ke Jogja, maka rasa kalian akan merasakan ke mewahannya di pulau Dewata ini. Mungkin satu hal yang rada kurang. Angkutan umum yang terbatas jumlah dan trayek cukup menciderai sebuah wilayah di zaman milennial ini. Thanks for read it….