Masuk “Zone”

Jadi inget manga (baca: ma-ngga) basket yang berisi tokoh sekolah SMA Seirin dengan si Taiga Kagami ama alumni SMP Teiko “Generation of Miracles” yang pada bisa masuk zone, jadi skill mereka tetiba melewati batas kemampua biasanya dan kelihatan lebih menikmati permainan. Nah…
Sebenarnya, “zone” dalam dunia olahraga itu emang bener-bener ada sob. Dulu sewaktu main pernah ngerasain badan ringan dan banyak banget skill terpendam gue yang tetiba muncul, kala itu pas main badminton rasa – rasanya tubuh mudah terbang dan nggak ada capeknya buat nyemes, walopun kalah tapi ada sebuah degup yang melebihi fisik dan skill ketika latihan biasa. Apalagi hal itu terjadi dengan waktu yang cukup lama. Gini, ketika zone itu bermula. Semua kepedihan permainan nggak akan terasa segala bentuk nyeri “asam laktat” atau kram otot, bahkan sekor yang tercetak di papanpun akan terasa sebuah embun yang ringan karena terlalu fokus di pertandingan dan menyerang lawan. Baru kalo udah ‘fatigue’ dan keluar zone semua rasa ngumpul dan nonjok bebarengan. Maybe you broken your muscle…hhh
                 For another cases, pernah ngerasin zone diluar olahraga nggak?, ketika kegiatan ibadah gitu?. Semisal sholat?. Ketika capek banget seharian aktifitas atau lagi kuliah dengan dikejar rapat sana-sini, eh masuklah “zone” sholat. Mudah dan semangat banget ketika wudu, takbir-niat, hingga sujud akhirpun terasa ‘terbang’ hikmat dan nikmat, passion banget.
Tapi, sepertinya nggak sesering dan semudah masuk ‘zone’ ketika kita main olahraga ya. #hmmm…

Gini…
Kalo saya lagi lari di event marathon idealnya di kilometer 2-3 (2 mil) kita bisa masuk zone, bahkan dengan maksimum pace skalipun. Jadi ketika kondisi lari kencang jantung berdegup dengan irama yang pas, seperti terpacu adrenalinya untuk tetep menempuh jarak sisa di kilometer 19 (HM) atau 40 kilometer (FM) dengan nyaman. Walopun ini nggak bisa semena-mena dan tanpa latihan yang beruntun. Tapi asal dimulai lari dengan pemanasan yang pas dan nggak diisi perut minimal 4 jam sebelum lomba, sangat mudah untuk “zone” ketika lari.
Tapi, saya sih pengen memberi “medical-advice” untuk sesama penyuka lari. Intinya, lari itu untuk menjaga kesehatan dengan aktivitas gerak. Dengan intensitas 3-5 kali/minggu, dengan frekuensi tiap larinya minimal 30 menit. Dan, info ini gue inget banget dari dr. Yuni (Lecture in Medical Faculty) ketika lagi ngisi kuliah umum di TPB Unpad. Dan, karna udah mulai enjoy lari kepalang tanggung, nyari deh “training plan” atlet profesional yang ada di internet (gratis). Kalo PB gue di 2013 katagori 5K itu 30 menit lebih, 2017 udah di angka 22 menit 56 detik. Tapi, setiap latihan dan tingkat kekerasannya ada resiko gengs. Apalagi jika nggak didukung finansial yang cukup…hhh
Terakhir dari gue…
                 20170408_163431Anybody can be in the zone, neuroscientist was proved it to. Nggak cuman di olahraga tapi disemua lini kegiatan. Beberapa syaratnya (kalo nggak salah tangkep)1. Kekuatan (strength), repetition (pengulangan), dan latihan (training), dengan terprogram. Karna Otak itu menyimpan apa yang otot latih juga.

Mungkin kalo kasus olahraga seperti badminton dan lari bisa dengan mudah terukur ditambah ada rasa prestisius, tantangan, passion, mengalahkan, dan eksis. Tapi kalo sholat?.

Can you imagine it, when we doing pray and get passionate like “seirin or kiseki no sedai play game”.

Reff:

Ref:
1. Athlete Neuroscientist Is Changing The Way We Workout | The Definitive Guide
Advertisements

Best Marathon Tracking

          Inilah kegiatan akhir pekan saya. Lari jauh berpuluh – puluh mil untuk enggak tidur setelah abis subuh. Kali ini rada spesial, lari kali ini skaligus ngikutin even spesial dari LIPI: Kebun Raya Bogor yaitu ikut level 21K di ultra marathon KRB200. Selama hampir dua jam duapuluh menit akhirnya berhasil merampungkan lari katagori Half marathon kali ini, secara mengejutkan menembus perolehan waktu  melebihi waktu katagori HM di even sebelumnya. Dan yang paling nggak bakal dilupain, bahwa trek lari di Kebun Raya Bogor ini bagi saya merupakan jalanan untuk lari ternyaman di semua even lari (yang pernah diikutin).

      IMG_0572

 Suasana menjelang start katagori 21K

         Penyelanggaraan lari ultramarathon KRB200 sendiri sebanarnya udah dipersiapkan semenak jauh – jauh hari. Bahkan info akan adanya lomba lari ini sudah bisa diakses dari awal tahun 2017.  Berlokasi diarea perhutanan milik Lembaga Penelitian Indonesia yang berlokasi di Kota Bogor semakin memanjakan para pelari. Terasa banget waktu lari 5 keliling terakhir untuk katagori 21K silau akibat cahaya matahari nggak terlalu mempengaruhi saya sendiri dan para peserta karna terbantu dengan batang – batang besar dan kanopi yang luas dari hutan di kawasan KRB. Bahkan cahaya masuk bener – bener panas itu cuman ketika waktu pulang keluar dari kawan KRB ini.  KRB200 sendiri melombakan 6 katagori lari, 200 Km, 100 Km, 50 Km, 21 Km, 10 Km, dan 5 Km dengan semua finisher mendapatkan medali sementara untuk 21Km ke atas mendapatkan juga kaos finisher dari sponsor.

IMG_0555

Even lari #KRB200 merupakan rangkain peringatan 200 tahun Kebun raya bogor

 

Untuk pelari sendiri disetiap jarak 2,5 Km udah tersedia air minum dari label Aqua 250 mL dan Mizone 500 mL. Jarak yang ditempuh termasuk unik, karena tidak seperti marathon yang menepuh satu jarak untuk mencapai finish, KRB200 ini berlari satu keliling untuk menempuh jarak 5K, brati untuk 200K bisa mencapai 40 ali puteran yang bisa menghabiskan waktu 2 hari (24 jam lebih).

“nikmatnya lari di KRB tuh, kalian bisa ndengerin suara burung dan syahdunya ketenangan hutan yang nyaman…..

        IMG_0636

Spatu ini sendiri disponsorin sama Alfin B. (kaka gue sediri….hehe). Endors: NB

          Hanya saja pengalaman lari kemarin sedikit diwarnai kekacauan di awal, yaitu telat start hingga 16 menit lebih dari peluit start katagori 21K dambah pada BIB belum terpasang chip laps . Yang akibatnya yaitu, dari mulai garis start hingga lap ke 4 memaksakan diri untuk selalu pace maksimum.  Betapa perut terasa perih (side stitch) dan tetiba terkena rasa haus dan halusinasi makan nasi kuning sampe wareg menghantui even yang dibuka dan diikuti oleh walikota Bogor Bima Arya. Yang kurang asyik, lampu LED buat time keeper yang biasa dipasang di atas garis start/finish nggak ada, jadi weh ngitung waktunya nggak officially. Dan emang yang rada parah, hingga terakhir lomba saya nggak nemuin aid station, padahal pas jam 5 pagi masih ada mobil ambulan di depan garis start, sampek pas finish nyari es batu buat kaki aja nggak dapet, mana kaki ini harus digerakan untuk berantri ria di stasiun Bogor hingga ke senayan . Ngeri emang sih even yang rawan orang sakit gini nggak ada perawat atau tim dokter yang mudah diketahui peserta. Saran!

IMG_0560

Medali finisher KRB200 dan perlengakapan lari (jam dan kaca mata)

Tapi terimakasih banget buat tim panitia di central yang udah mau disibukin untuk mencari nomor BIB saya . Dan juga bagian penitipan barang yang udah mau repot – repot ngangkut tas saya yang berisi barang untuk liputan di Wisma Kemenpora serta kakaknya ikut buru – buru masangin nomor BIB di kaos saya. Hehe… Hatur Nuhun pisan pokok sadayana….

IMG_0568Bajunya kegedean. Thanks for photographer (from: Someone at IndoRunners)

IMG_0744

daaaa…. akhirnya bisa menjejakkan kaki di arena badminton Kemenpora RI, Senayan. Telat dikir, 5 jam setengah

“Saya berharap banget taun depan diadaain lagi even lari di Kebun raya bogordengan atau tanpa berupa even trail/ultra maraton

 

Acknowledgement for sponsorship being graduated,,  Amiiin.

New Balance Shoes from my bro,  very comfort and durable.  KRB200 committees who sponshorship me to get category half marathon, and Aris Sugianto from Unpad 2012.