Keseruan riset

IMAG8791.jpg

Display aneka cabai di Superindo Jatos

Kayaknya taun ini undangan dan ajakan untuk dateng di sidang temen dan adik-adik kelas makin banyak dan berbondong-bondong. Dari yang sekala laboratorium, lapangan, hingga sekedar analisis data skunder. Dari sidang usulan sampek seminar hasil. Yang selalu menarik dari sidang sih cuman satu, berapa lama beresnya. Udah

(Kencenderungannya) kalo tahun-tahun newbie masih ikut-ikutan masuk ruang sidang karena ditarik buat memenuhin quorum ama senior, ada gap yang cukup kerasa antara riset jaman sekarang (2013-2014) sama 2012 ke belakang. Sense of “seru” udah mulai pudar.

Kalo penelitian di pertanian paling seru itu ketika masih bisa riweuh macul, nyemai benih, beli gemuk, hingga nginep di Lab bulan – bulanan. Dan, ngerasain itu “is something”

Jika, ngeliat seminar usulan (UP) dan kolokium yang serba praktis dan dilakuin oleh petani dari ujung sampek panen. You won’t have enjoy momments

 

yang Lagi Musim

Mode lari 3 tahun ke belakang ini di Nangor mulai menjamur atau

kayaknya di kota besar, Jakarta-Jogja-Bandung-Makassar-Surabaya. Dikatakan

menjamur ya karena membludak secara perlahan – lahan dan cenderung ikut

– ikutan. Secara fair kelihatanya orang – orang sih olahraga lari buat

“tampil” bukan untuk kompetisi marathon atau kesehatan. Terlihat jelas

dicara latihannya yang nggak setiap hari. Bagaimana bisa tahu? Nafas,

body form, pemanasan dan pendinginannya nihil. Lari mah nggak boleh

dipaksa sehari ngos – ngosan, 6 hari sisannya tidur. Lari walaupun

sekedar olahraga gerak linier perlu asupan psikologi dan nutrisi yang

sangat tepat. Perlu juga belajar hal – hal dasar mengenai nafas,

pemanasan, dan nutrisi ala – ala latihan atlet atletik profesional. 20170408_165221

Even lari yang gue ikutin di awal 2017 ini, 21K BFI run

Walaupun emang ada jenis pelari antusias dan sering ikut even marathon.

tentunya mereka udah rajin bertahun – tahun lari, walo lebih banyak

didukung latihan mandiri dan pengaturan – pengaturan skema pendanaan

juga mandiri. Nah, yang bagi yang baru mulai lari (Dummy and Beginner),

lari itu pure untuk kesehatan, intensitasnya harus pakem ngikutin

aturan praktisi atau dokter yang memberi saran atau minimal nggak

melanggar batasan – batasan yang udah diberikan. Mengingat ketika umur

mulai lari udah 20 tahunan ke atas sangat besar kemungkinan telat untuk

menjadi atelet lari profeisonal. Yakin

 

Yang terlihat selama ini, lari itu dipakai ajang cepet – cepetan dan

jarang latihan secara tepat. Ya, namanya jantung punya resiko jika ada

kegiatan yang serta merta dan tiba – tiba dikerjakan, otot juga bisa

kram dimanapun dia udah kelelahan. Untuk lari yang paling rawan kram

perut, paha dan betis.  Semisal training plan ala Boston marathon

(lomba marathon paling susah kualifikasinya) aja 100% nggak ada yang

menuliskan lari dalam kondisi anaerobik dari awal. Dokter juga

ngingetin, untuk kesehatan, lari itu minimal 30 menit, 3 sampai 5 hari

seminggu dan dilakukan dengan “easy” mode, dengan artian lari dengan

masih bisa ketawa dan ngobrol santai. Dan kenapa olahraga lari yang

dipilih oleh para pemula?, karena manfaatnya cukup nyata, murah,

ngebakar junk-food dan drink synthetic, dan bisa dilakukan di banyak

waktu.

Easy runs are done at a comfortable pace that allows you to carry on a conversation with ease, at an approximately 60 to 70 percent exertion level. It’s not a time to worry about pace, to check your watch frequently, or to push yourself; in fact, it’s a good time to put all of that aside. Easy runs are the key to building your core and foundation, and your training plan will include a lot of them. In fact, the majority of the runs in the plans are easy runs. (Hal Koerner)

 

Nah, ketika emang kita mulai memutuskan menjadi pelari antusias atau

bahkan Pro. Ya, itu emang harus siap dompet dan waktu yang disiplin.

Atau kalo enggak bakalan penyakit dan cidera bakal berkolaborasi

berbondong – bondong menyerang badan. Mungkin bagi yang belum merasakan

dan masih merasa muda dengan badan penuh tenaga menganggap ini biasa,

kalo udah kena bakalan runyam masalahnya. Percaya deh!.

 

Di area antusias biasanya mereka mengejar even – even lari marathon

trail/ultra dan road/jalanan biasa, half marathon 21K, 10K, atau 5K. Ya

yang namanya antusias target utama emang mengejar waktu terbaik dan

bisa “mejeng” di area prestisius tersebut. Walaupun biaya regitrasi

even marathon di tiga tahun yang lalu dengan tahun ini 2017 udah

njomplang banget, tapi peminatnya nggak surut malah naik berribu –

ribu. Bayangin, Bandung marathon, Jogja marathon, dan Bali Marathon aja

cuman dua jam dari pembukaan udah ribuan yang ndaftar, bahkan yang bali

udah ludes diwaktu itu juga (yang early bird dan reguler).

 

Mungkin hari ini udah banyak motivasi – motivasi yang menyatakan bahwa

lari untuk kesehatan dan peyakinan diri bahwa badan kita bisa melampau

batas fisik lebihi dari apa yang kita bayangkan, walaopun itu emang

benar. Tapi kenyataanya mungkin 60% lari itu dipengaruhi mental, 30%

mekanik, dan 10% nutrisi (lupa sumber bacaanya). Tapi sepertinya emang

begitu kenyataanya Dari pertama ikutan even lari di 2014 katagori 5K

hingga half marathon di 2017 banyak yang (maaf) berat badanya rada over

bahkan banyak juga dari kalangan perempuan yang ikut serta.

 

Kesimpulannya, kalopun mau berlari bahkan mengincar World marathon

series tapi nggak ada dana untuk nge-gym atau mbayar instruktur/ ikutan

klub lari. Ada nih caranya, yaitu belajar pake buku, baca artikel, dan

dari orang – orang yang udah mahir lari. Banyak juga kan komunitas lari

yang bagus dengan orang – orang yang punya semangat yang sama. Mulai

deh belajar mengenai pemanasan pra dan pasca lari yang baik, form badan

ketika lari dan cara mereka melakukan pernafasan. Memilih seragam lari

yang enjoyable bukan fashionable, bukan tentang sepatu yang berjuta –

juta, tapi yang awet, enak, dan asli (bisa didapatkan sepatu homemade

Rancaekek/Bandung under 200K), dan juga pengaturan makan-minum yang

teratur. Dan tutorial lari dari mulai masang tali sepatu hingga bersiap

ikutan even ultra marathon 100 Km-pun tersedia bebas di internet. Dan

itu layak untuk dipakai.

Oya, tentunya tutorial berupa artikel, buku, maupun video yang bagus ya

yang berbahasa inggris ya. 

  quality runs do play a key role in your training. Quality comes in when you train in a specific way for your event. Ngebuat jadwal lari yang spesifik juga bisa ningkatin kualitas dan kapasitas lari.

Finally, jangan paksakan kemampuan nafas, kaki, dan kepalamu untuk

olahraga yang satu ini. Karna yang paling penting untuk tahap awal

berlari adalah intensitas, bukan kecepatan, apalagi jauh – jauhan. Baru

kemudian kalo udah berlatih lari bertahun – tahunan, kapasitas jarak

dan waktunya ditingkatin. Pace udah 4 menit okelah untuk ikut full

marathon yang bersertifikat IAAF (Federasi atletik internasional).

These runs are by nature more relaxed and more fun, giving you time to socialize if you wish or to be alone and reflective or to think about nothing at all. (Hal Koerner)
 

Source:

Buku: Hal Koerner, Adam W. Chase Hal Koerners: Field Guide to Ultrarunning Training for an Ultramarathon, from 50K to 100 Miles and Beyond

Heather Hedrick, M.S., R.D. 2005. Absolute Beginner’s Guide to Half-Marathon Training

Website: Plan training Boston Marathon, Virgin London Marathon

Kebanggaan

image

      TNI AL KRI Banda Aceh 593 bersama satgas Ekspedisi PMK 2016

      Pasca 30 hari perjalanan laut dengan kapal perang agak berfikir serius. Buku teritorial dan teori – teori kelautan mungkin emang banyak walopun belum menjadi konsumsi untuk pengetahuan umum selayaknya pengetahuan ala pertandingan ketentaraan darat. Pengetahuan akan laut, persenjataan laut, ataupun jaga laut begitu sempit dan belum dibukukan secara empuk.
      Dunia penerbangan udah mulai ada. Darat apalagi. Tinggal laut nih. Indonesia luas lautnya minta ampun sob, jalan lurus ujung ke ujung aja bisa dua minggu, belum lagi ombak dan arah angin kalo lagi nggak friend bikin perut berlabuh. Hueek
      Dunia laut lebih banyak emang dipandang dari sudut kepariwisataan, walo seringnya juga kecolongan dari orang asing. Dan kayaknya udah waktunya deh penulisan tentang laut NKRI dari sudut ketentaraannya. #sebentarlagi

06 – Agust – 2013: Ternyata Menulis Butuh IstiQomah

        Sudah bukan menjadi rahasia jika akademis sekalas mahasiswa sarjana muda (undergraduate) harus mempunyai kemampuan untuk menulis dan membaca tulisan. Cuman masalahnya sekarang gimana untuk mebiasakan hal – hal yang masih terkesan ekslusif tersebut?@@#%(*%&. Tentunya membaca jurnal, media cetak, dan tulisan berbahasa asing lain butuh kemampuan dan tekad untuk mau memulainya.

Maka geus tiasa membaca dan nulis mungkin menulis blog dan mencatat fikiran – fikiran liar bisa melatih keistiQomahan menuju akademis yang nggak setengah – setengah nya.!

Salam

^^

Diskusi Terhormat

         Emang keren ketika kita mempunyai kesempatan yang sangat tinggi berdiskusi, bermusyawarah, dan melaksanakan kegiatan yang full fasilitas, full akses, dan full founded  (hayang gratisan wae). Ruangan balairung kampus atau aula rapat terbatas fakultas sepertinya nggak akan semudah itu kita bisa pakai kalau hanya sekedar sebagai anak organisasi internal. Apalagi tanpa melibatkan pihak kampus dan petingginya, dirasa akan sangat susah mendapatkan kualitas sarana yang menjunjung semangat hasil diskusi.

        Walaupun kita dari fakultas pertanian sekalipun kesempatan dan kelayakan untuk mendapatkan momen seperti itu akan sangat sering terjadi. Fasilitas itu setidaknya diisi dengan tempat duduk dengan posisi yang ergonomis, audio yang lantang dan jelas sehingga enak untuk saling tanggap, hingga tak luput fasilitas konsumsi mengikuti dengan kelas yang tentunya berbeda dengan asupan rutin kita.

       Aula hotel, ballroom konferensi, hingga kamar single bad, nggak tanggung-tanggung bisa dikucurkan oleh kampus, lembaga, departemen, atau sponsor yang menjadi bos kita. Tentu prestasi dan kesempatan di atas nggak begitu saja didapatkan, apkan untuk menerima kesempatan tersebut.

    astn  Sudah sepatutnya fasiltas yang kita dapatkan sebagai pelaku peneliti bukan menjadikan momen ini sebagai selebrasi yang malah kita anggap sebagai prestasi.

      Hanya saja kita tak bisa menafikan kenyataan bahwa produk dan wilayah penelitian utama kita yaitu “Petani” sendiri mungkin tidak/sangat jarang merasakan apa yang kita rasakan, kenyamanannya. Hal inilah yang sudah saatnya menjadi PR kita bersama, bagaimana kebaikan hati petani yang bertahun-tahun kita mintai data, kita eksplorasi demi beresnya makalah dalam kertas, bahkan sampai memberi pelayanan full dirumahnya tanpa diminta sekalipun. Suatu hari bisa kita balas dengan sempurna optimal dengan fasilitas yang nggak kalah keren, walaupun itu hanya sejenak. Juga.

Kembali ke Desa

           Hawa panas dan rasa sangat dingin akibat kesegaran pepohonan adalah identitasmu. Kondisi sosial  bergejolak tak terkira setiap – hari, fluktuatif seperti Indeks harga saham gabungan. Nama – nama hebat keseringan akan keluar menuju kawasan yang lebih cocok untuk ilmunya. Siap mengembat kekayaan alam sendiri atau memakmurkan para tetangganya dengan membuka lapangan kerja. Realita tak sepenuhnya hangat, tersering malah perih. Perbedaan idola artis Korea akan sulit ditemui, kalo hanya perbedaan jalan beragama-strata kekayaan harta-keahlian dalam bergosip ria,  jangan pernah mencari – carinya, takut bosan untuk kembali kepada tujuan utama, Mbangun Desa. 

Kesukaanku akan bertani dan kebuasan alamnya masih belum tertandingi. Setiap gejala ingin rekreasipun tujuan awal dan akhir tetap pada daerah penuh pesona ini. Hingga riset sarjanapun sepertinya akan bernasib sama, jauh dari kota tempat berdirinya gedung bangunan mall franchise simbol perdaban kota. Kembali kepada yang asri. Walo gunung, pantai, dan kebun mulai di monetize oleh modernisasi, namun sifat asli alam dan warganya tak akan pernah terganti. #Aslina

#kembaliDesa #MenuList #30haribercerita #30harimenulis #Menulis #NangorMenulis #BelajarMenulis #AyoMenulis #sagalaGenre #day4 #aslina

Tulisan lama terbit kembali

Suku Laut Indonesia

image

       Foto di Bale desa Bajo Pulau

     Inilah salah satu suku laut legendaris Indonesia, Bajo. Bertempat di desa Bajo Pulo, sape-sape, Bima, NTB. Kelihaian alami adalah termasuk berlayar ke lautan. Walopun berada di pesisir dan di dataran keras yang di dominasi tanah berteumbu karang, tapi masyarakat Bajo Pulau sudah kuanggap sebagai bagian keluarga (karna emang akomodasi hingga nginep dua hari
semalem) mereka koordinir.
       Kami dari tim Unpad bersama dalam rangkaian perjalanan Ekspedisi Bhakti PMK 2016 bersinggah pertama di Bajo Pulau karna kabarnya status desannya masih 3T (terluar, terbelakang, dan terdepan). Nah, saya dan tim kebagian untuk memberikan pelatihan sablon sebagai potensi kewirausahaan yang bisa digeber dikemudian hari di desa yang masih masuk wilayah kabupaten Bima ini. Selain juga ada pelatihan angklung untuk anak usia sekolah, penyerahan buku untuk rumah baca, dan sepatu-seragam untuk SD.
     Emang, kebanyakan waktu di Bajo Pulau digerus oleh capek dan liburan, sehingga mungkin beramah tamah dan keliling sampek menyeluruh belum bisa saya peroleh. Kami tim Unpad emang menginap di rumah warga semalam untuk mempermudah pekerjaan. Dibantu dari temen-temen kreatif Bima Mas Husban, Mas Marwan, dan Mbak Rei asli Bima yang punya concern di pengajaran kreaktif untuk anak – anak sekolah. 11-12 ama IM da. Nah, ada juga dari IM Sape-sape Kak Dila yang ikut ngurusin dan mberesin segala akomodasi kami kepada masyarakat.
     Emang kondisi fisik Bajo Pulau nggak senyaman untuk nanam kaya di Jawa umumnya yang tanah, di sini semua berkarang semi pasir. Kambing aja makan kardus. Aslina.
    Tapi tenang sob, cuaca nggak panas ekstrim ala – ala pesisir kok. Ya, walo curah hujan mungkin udah masuk katagori C Oldeman.
     Setelah merenung – renung dan abis dari Bajo Pulau. Sepertinya status 3T udah waktunya di cabut deh ama pemerintah (Kemensos). Rubah dengan status 3I (Indah, Istimewa, dan ilok). Hh

Bajo Pulau, NTT, 04-05 Mei
#Momen yang susah lupa walau akhirkan.