Pohon Wasiat

Pernah liat nggak kalo di Jepang tuh ada tradisi nanem pohon untuk setiap satu kelahiran? iya gue sih taunya di Anime Usagi no Drop (うさぎドロップ) yang diadopsi dari karangan Yumi Unita. Cuman kalo dipikir – pikir juga keren nih nanem pohon (Kayu) tahunan untuk sebuah nyawa yang masih hidup. Pastinya nggak bakal banyak yang protes kalo IbuKota makin panas. Atau emang jiwanya yang emang suka ngeluh di medsos,,,hmmng

Kalo itung-itungan ilmiahnya, 1 buah pohon bisa ngehasilin 5 mili liter (seperseribu liter) Oksigen segar dalam satu jam, itupun bakal naik volumennya seiring pertumbuhan cabang, ranting yang berdaun lebat. Nah, kebutuhan manusia cukup 50 liter oksigen untuk setiap hirupan/jamnya. Kebayangkan betapa segernya jika masyarakat pada nanem pohon, ngehirup udara teh enak gitu kaya pas lagi maen di Allianz ecopark, Ancol atau Kebun Raya Bogor. Kaya ada sensasi adem – ademnya dalam idung. bersih, segerrrrrr.

Sebenernya fenomena nanem-menanem di kampung ane Aryojeding – Tulungagung bukan hal yang ngejutin sih, tiap hari juga ngerasain betapa segernya udara dan nimatnya. Itupun sadar ketika udah rada lama di daerah dan ke kota – kota besar ala Jakarta-Bekasi, mayoritas emang udaranya kontribusi dari kendaraan bermotor.

Nah, sebagai rekomendasi gue saranin nanem pohon buah aja biar gampang, mau investasi atau nanem sendiri dari hasil cangkokan. Atau berprinsip orang desa, nanem kelapa biar hasilnya bisa untuk anak cucu. #sip sekian trimakasih

Advertisements

Keseruan riset

IMAG8791.jpg

Display aneka cabai di Superindo Jatos

Kayaknya taun ini undangan dan ajakan untuk dateng di sidang temen dan adik-adik kelas makin banyak dan berbondong-bondong. Dari yang sekala laboratorium, lapangan, hingga sekedar analisis data skunder. Dari sidang usulan sampek seminar hasil. Yang selalu menarik dari sidang sih cuman satu, berapa lama beresnya. Udah

(Kencenderungannya) kalo tahun-tahun newbie masih ikut-ikutan masuk ruang sidang karena ditarik buat memenuhin quorum ama senior, ada gap yang cukup kerasa antara riset jaman sekarang (2013-2014) sama 2012 ke belakang. Sense of “seru” udah mulai pudar.

Kalo penelitian di pertanian paling seru itu ketika masih bisa riweuh macul, nyemai benih, beli gemuk, hingga nginep di Lab bulan – bulanan. Dan, ngerasain itu “is something”

Jika, ngeliat seminar usulan (UP) dan kolokium yang serba praktis dan dilakuin oleh petani dari ujung sampek panen. You won’t have enjoy momments

 

Tanah yang mengembang

Bergetarnya bumi (tanah) karena ramenya biota mikro dan makro fauna merupakan contoh tanah yang sehat. Makanya tanah yang patah – patah itu perlu pasokan bahan organik lebih dari 4 ton/Hektar. Secara lebih jauh sih emang ada pengaruh dari lapisan bajak akibasoilt tidak adanya cover crop dan pemberakan (isitilah pengistirahatan tanah pasca tanam) yang cukup serta intesiv pengolahan tanah hanya mencapai top soil 0-25 cm. Tandanya tanah yang perlu perawatan lebih, tanah yang dipatahin kaya crackers bukan kaya brownies. Nah, kalo udah ditanamin penyakitnya rada ekstrim, seperti bunchy, curly, bahkan dari masa muda tanaman udah pada nguning. Dan, tentunya masih banyak input yang berrtanggung jawab terhadap kesetablin kesehatan tanah.

Nah, untuk mengetahui kesehatan tanah selain memang dari tanaman yang hidup di atasnya adalah dari bioindikator dari golongan arthropoda. Masih adanya capung (odonata) dan lebah menjadi indikator kesehatan lingkungan yang paling mudah untuk diketahui. Capung spesialis air dan lebah spesialis pestisida. Untuk info lebih lanjut, cari aja di tulisan – tulisan mengenai kedua serangga ini.

lepSementara komposisi hewan – hewan yang hidup rukun antara konsumen (hama) dan produsen (predator) ada keseimbangan menjadi pengamalan ilmu rantai makanan untuk pelajaran biologi semenjak kita duduk di bangku sekolah dasar. Nah, kalo serangga bioindikator penghuni utama lahan pertanian tersebut goyah, brarti harus ada evaluasi penggunaan pupuk dan pestisida pabrikan. Sebenarnya hal – hal ginian banyak banget di buku – buku dan jurnal. Cuman kerena saya lupa di buku mana saja datanya tersaji, jadi mohon maaf untuk tidak menyantumkannya. HHH… *biar makin penasaran

Sebenarnya ada satu lagi untuk bioindikator, yaitu Cicada atau biasa kita sebut……. Mereka bahkan sebagai indikator cuaca dan musim tanam yang cukup akurat. Serangga ini waktu di kelas peminatan di bagian praktikum fisiologi, sempat menjadi spesimen untuk bedah dan di-reassemble. Hanya saja mungkin karena dulu belum ngeh akan tujuan utama materi dan ujian Lab ngutak – atik serangga brisik ini untuk apa, jadi deh dapet nilai B untuk semua materi insect surgeon. Dan, di salah satu rumahsakit spesialis bedah terbaik di Jepang ujian masuknya adalah membedah dan mengoperasi serangga (bug).Nah, loh!!.

Kisah-kisah ini nggak bakalan lo ngerti ketika cuman membaca dan mendengar apa kata orang. Mengulang penelitian dari nyiapin media tumbuh mikroba sampai nanam 3 kali masih banyak hal – hal yang menakjubkan dan baru dari flora dan fauna di lahan. Dan sialnya lebih banyak tahu dari pekerja Lab dan petani di lapangan. Mungkin detik ini kita mengomentari menurunya produksi beras nasional yang cuman 4 ton/Ha atau mahalnya cabai rawit melebihi daging sapi (impor), ya wajar dong. Susah manennya sob, nanemnya penuh rasa was – was akan ledakan penyakitlah atau berubah – ubahnya hati tengkulak yang pasang murah. but, it’s home work for we are!!

Diagnosis

image

Perkembangan Biopestisisda dari waktu ke waktu (sumber: Nollet dan Rathore, 2015)

       Hari ini baru memberikan diagnosis dari sebuah keluhan tanaman yang terkena embun tepung dan hama putih di daun cabai dina pot. Keluhan ini sebenarnya rada-rada membingungkan jika dijawab secara akademis-praktis, jawabannya pasti kalo nggak semprot pestisida ya penggunaan agen biologi/biopestisida. Kalo menjawab berdasar dua prespetif tersebut sebenarnya bikin merasa bersalah banget, pertama pengendalian dengan pestisida sintetik itu artinya sebenarnya adalah mencegah dari awal- antifeedant. Walopun disitu ada namanya ambang pengendalian dan ekonomi tapi konsep dasarnya adalah mencegah si hama buat mendekat dengan sesedikit membunuh mereka yang dalam artian bisa merusak siklus sosio-ekologi. Tapi nggak bakal panjang-panjang dibahasanya, takut kebawa suasana sidang….hh

      Poin pengendalian kedua nih yang saya rekomendasikan, walopun tetep sintetik tapi lebih bio-able atau bahasa mudahnya nggak mendampak secara ekstrim ama OPTnya.  Siram cola/ditergen atau tanam bawang daun di sekitarnya. Kepikiran ini gara – gara kemarin sempat panen caisim karna ditebeng pake tanaman bawang merah.

     Emang, diagnosis sekalipun dihal yang resikonya nggak semenegangkan penyakit manusia emang lebih mudah dan yakin jika udah pernah nanganin sendiri. Kalo pake teori makalah jadi merasa bersalah pas memberikan rekomendasi. Sebenarnya sih sintetik itu bagus juga, cuman selain emang rada mahal juga kalo OPT udah mulai resistensi makeknya suka nggak terukur, bisa segayung buat nyiram seminggu. Dan, sayangnya buat ngebuktiin ini di sini belum punya senjata indikator/blue print yang seampuh negara asal pembuatnya. #Hmmm menarik

Biar nambah menarik, apa aja sih biopestisida itu. Merujuk pad EPA (Environmental Protection Agency) aja y.  Menurut mereka biopestisda sebagai “certain types of pesticides derived from such natural materials as animals, plants, bacteria, and certain minerals” (http:/ /www.epa.gov/ pesticides/biopesticides).  The EPA has classified biopesticides into three categories, for registrations purposes: (1) Microbial pesticides, where the active ingredient is a microorganism (e.g., a bacterium, fungus, virus or protozoan); (2) plant-incorporated protectants (PIPs), where genetic material has been added to a plant to produce pesticidal substances (such as the wellknown “Bt maize”); and (3) biochemical pesticides, defined as naturally occurring substances that control pests by nontoxic mechanisms, such as pheromones and some plant extracts.

Reference:

Nollet dan Rathore, 2015. BIOPESTICIDES HANDBOOK. CRC Press Taylor & Francis Group 6000 Broken Sound Parkway NW, Suite 300 Boca Raton, FL 33487-2742

Komoditas–eksklusif

                                                      “Kenapa harga kebutuhan pokok jadi lebih mahal ya jaman sekarang?”

          Dulu pas masih jaman SMP (aliyah) waktu mengenal negara – negara dunia beserta status ekonominnya sering mempelajari mengenai batas atas kemiskinan dan pengkatagorian negara maju dan berkembang. Ya, pas jaman kuliah sih emang rada mengerti bahwa indikator status ekonomi suatu negara atau masyarakat nggak cuman di hitung dari uang (GDP) saja, ada happiness index, kesejahteraan, konsumsi perkapita, kesehatan, angka kematian dan kelahiran, nilai putus sekolah, dll…etc. (saking banyaknya…hh).

       IMAG8793Nah, sebenarnya pernyataan mengenai ini udah dari dulu dengernya cuman kalo diitung – itung jika itu terjadi di daerah yang UMR-nya hampir dua kali lipat dari yang seharusnya?!. it’s amazed. “Gaji sebulan ini yang sekian *** cep, baru diberikan 1 jt” dan pernyataan ini mengendap, nggak tau gimana sekarang.

     IMAG8791Buruh tani atau peasant itu emang kerjaan yang nggak aman, naik turunnya nilai uang yang masuk ditentukan oleh pihak mandor atau pemilik lahan (farmer), mungkin kalo dibuku – buku pergerakan era revolusi hingga akhir orde baru sering digunakan sebaga tokoh antagonis sepertinya kisahnya emang nggak sesederhana itu.

     Kalo yang beli hasil panen pak tani dikit ya otomatis ngegunain lahan jadi tempat yang lebih produktif. Kalo di pasaran produk-produknya pada dari luar negeri, ya otomatis kalah dalam stok, packaging, dan teknologi rekayasannya.

       Kalo nggak mau terpengaruh oleh kondisi global, emang paling enak buat kemitraan penelitian secara global. Petani, buruh tani, dan mahasiswannya guyub rukun.

#Opini

Metode Tunggal Tani

       “Memmang bahan eta bakalan bagus dipenelitian/di laboratorium,

tapi bakalan ‘0’ di penghasilan” ~ Saurna

     Sebelum membahas kalimat di atas lebih baik berbincang terlebih dahulu latar belakangnya kenapa kata – kata itu muncul. Dipandang dari sudut opini pribadi tentunya, tapi jangan dibawa terlalu serius, biar adem.

Nah, begini ceritannya. Pada beberapa subjek pelaksanaan usaha tani yang dilahan/lebak/sawah/media tanam rekomendasi dari departemen di tiap Fakultas yang bernaung dalam satu nama “Pertanian” biasannya akan punya penekanan yang berbeda. Entah itu di tahap budidaya, treatment pembenihan dan penyemaian, atau media tanamnya sendiri. Yang jadi rada PR hingga hari ini adalah nggak adanya rekomendasi terbaru yang dibakukan oleh semuanya bersama – sama. Atau bahasannya integrated farming system. Dan bahasan ini sebenernya asyik banget buat dipelajarin, di kampus saya sendiri ada 3 matkul yang sepesifik nyentuh bahasan ini, dengan total SKS 12 SKS.

Udah mulai dapet konteksnya?, nah, saya kebenaran berada di deparemen proteksi pertanian atau bahasa gaulnya Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT). Secara fakta ilmiah (infonya ada dibukunya pak Agrios, berita, dan jurnal), kerusakan akibat hama dan penyakit (inc. virus) paling banyak merusak tanaman dipertanian, ngalah – ngalahin cuaca, teknik budidaya yang kurang tepat, dan media tanam. Oleh karena itu, biaya produksi paling bikin tegang jantung selain sewa lahan ya beli obat dan gemuk (read: pupuk) biar tahan dan terhindar dari serangan.

Dan, salah satu kehebatan departemen kami adalah kemampuan memproduksi bahan – bahan penangkal tersebut. Dari yang senyawa tunggal sampai senyawa kompleks, walopun sama – sama sintetik (susah terurai dan beresidu). Daaaan, ini nih yang bikin munculnya kalimat di atas. Untuk bisa melepaskan produk baru pestisida dengan bahan aktif atau racikan sendiri harus melalui berbagai tahan uji coba lapangan dan laboratorium. Udah kelihatan kan jawabannya!!

IMAG8580Benih cabe merah dipersemaian arang sekam+serabut kelapa. Courtesy by: Photo dewe

Bener, sejujurnya saya masih lebih cenderung dan berkeyakinan kuat kalau pencegahan dengan metode tunggal untuk menghalau dan mematikan organisme pengganggu tanaman (OPT) lebih banyak gagalnya. Ketika kita mencoba berjalan dihamparan padi pasca penyemprotan fase vegetatif dan generatif coba perhatikan apakah aromannya lebih kuat atau ada perbedaan aroma?. Rata-rata petani sekarang menggunakan dua atau lebih pestisida dengan bahan aktif yang berbeda. Dan, penggunaan pupuk kompos berimbang, meminimalkan yang sintetik, menabung tanaman pelindung, mengistirahatkan tanah pasca panen, tidak membabat habis rumput (gulma), menggunakan pestisida pabrikan secukupnya, merupakan usaha multi metodis tersebut. Memberikan kesempatan alam untuk menilai kesehatan lingkungan selama kita bertanam hal yang paling mudah apakah kita terlalu naif dengan metode tunggal tersebut.

Integrated Farming is a whole farm management system, which enables the farmers to identify opportunities and threats and act accordingly, and, at the same time, consider consumer interests in their business. Integrated Farming is not based on a set of fixed parameters but on informed management processes.

Mahasiswa a.k.a

“Keunggulan kompetitif sebuah masyarakat bukanlah

hasil dari seberapa bagus sekolah mengajarkan

teknik budidaya, kimia analisis, dan aplikasi pestisida,

melainkan seberapa bagus sekolah dapat merangsang

imajinasi dan kreativitas yang dikombinasikan dengan nurani”

        Menarik rada sedep cerita – cerita yang berkeliaran ketika menjadi bagian dari bertani. Disitu ada pak tani, bu tani, anak tani (walaopun dalam cerita), dan mahsiswa. Cerita didominasi menggunakan bahasa lokal pasaran. Jangan kaget jika ada cletukan penuh gairah tapi disertai dengan canda dan tawaan. siga anj**, gobl***, sia**, dan kombinasi dari ketiga kata-kata ini.

       Sangat mudah terlebur dan ikutan berucap ala mereka hanya saja bahasa alusnya yang nggak bisa diterapkan tanpa berusaha menghafal dan praktek. ya, baha sunda lemes/alus.

       yang paling berat ketika bertani adalah bersiap lahan dengan mencangkul tanah super keras dan berat dan menyiapkan pupuk berton – ton/Hektar untuk digunakan sebelum tanam. Hanya emang kadar keberatannya ditentukan dengan pola tanam yang dianut oleh masing – masing sekte bertani. Semakin organik/ LEISA* semakin berat.

         IMAG8569

Mulsa hitam perak

          Hanya saja karena petani itu emang kuat banget, nyangkul sambil ngobrolin masa lalu berjam – jam enjoy – enjoy aja, kita yang mahasiswa kena matahari jam 10 siang 10 menit aja udah ngidam magnum sekarung. Untuk kuantitas pangan mereka sebenarnya kalo boleh jujur lebih banyak kita, mereka cenderung monoton konsumsinya dan hanya sekali makan + ngopi dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Walo saya bisa ngelakuin, cuman kalo sambil ngolah dan ngerawat sawah, its impossible today!!.

 

Ketarangan

1. Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA): – a system of agriculture which is based on principles and options which are ecologically sound, economically feasible and culturally acceptable, enaknya mah komnisai antara bahan alami dan sintetik yang saling melengkapi/menggantikan