Tetiba (fiksi)

Terlibat…

 

“Tanpa keterlibatan, tak akan ada komitmen. Beri tanda, lingkari, garis bawahi.!”

Pagi itu, ketika Saya masih hanya mahasiswa ingusan, Saya duduk di lantai tanpa alas bertatapan pas dengan pohon mimba tua. Jika pagi – pagi itu Saya melihat seorang Ayah duduk di sebelah anaknya sembari memegang pundak sang anak menahan guncangan angkot yang mengejar rizeki, Saya mengejar berburu tem

Hari itu merupakan hari yang penting: hari bimbingan skripsi untuk keseratus sekian kali. Pada sudut ujung pintu menuju tempat Saya duduk begitu lengang, ruangan masih terasa segar, tegel mengkilat khas pasca dijilat sabun pembersih lantai. Diperjalanan langkah kecil, Saya sempat berpapasan dengan senyum ramah baik hati yang memang serasa guru sejati, hingga duduk di lantaipun terasa senang di hati. Menunggu, jelas itu lebih baik dari pada mengumpat ketelatan orang. Seperti seorang Ayah yang diangkot tadi, tenang dan duduk nyaman.

Dan dosen pembimbing-pun tiba dari belakang mengagetkan.
” Jadi kamu masih mau melanjutkannya?
bukankah dipenelitian sebelumnya sudah gagal.
Gimana kamu ini?
Ha?
Kamu angkatan tahun berapa?”

Hanya sempat menjawab satu pernyataan terakhir, karena memang tidak sempat mengisi begitu banyak pertanyaan yang bertumpuk berjibun paragraf. Lebih singkat dari pada mengisi soal masuk CPNS.

Saya memang hanya beberapa detik menunggu ‘ngelesot’, lebih tepatnya detik yang berayun menjadi ratusan menit. Tanpa diberikesempatan dan silah masuk ruangan dosen yang nyaman. Cukup duduk mendongak di lantai yang belum sempat di bersihkan oleh halusnya kain pel, sang menteri-pun bertanya tanpa jeda. Kemudian melenggang seperti tak ada suara dan manusia.

Tak terasa setelah lewatnya hembusan angin panas yang sudah ditunggu dan rasa asin yang meliur, nasi beserta sayur sarapan dari rumah tadi tidak mau melanjutkan perjalanan ke usus – usus, keluar tanpa deru. Muntah.

Jadi kembali terbayang, begitukah rasa sang Anak di angkot tadi, merasa aman dengan dekapan sang Ayah.

Saya memang nggak pernah menonton premier film Рfilm super ala Chris Hemsworth atau Ben Affleck di bioskop. Dan, juga Saya tidak berharap ada pahlawan yang datang menyelamatkan.

“hai gung, ngapain disitu?”, teman seangkatan yang sudah lulus 2 tahun yang lalu menyapa sambil lalu.
Kalau waktu bisa diputar ke belakang, Saya ingin memperlihatkan bagaimana nasi dan sayur bisa menjadi satu di dalam kresek hitam ini.

“Menunggu Pagi Kembali” artinya menyerah, kan ku larutkan sisa hari ini menjadi nilai penuh warna.

Advertisements