yang Lagi Musim

Mode lari 3 tahun ke belakang ini di Nangor mulai menjamur atau

kayaknya di kota besar, Jakarta-Jogja-Bandung-Makassar-Surabaya. Dikatakan

menjamur ya karena membludak secara perlahan – lahan dan cenderung ikut

– ikutan. Secara fair kelihatanya orang – orang sih olahraga lari buat

“tampil” bukan untuk kompetisi marathon atau kesehatan. Terlihat jelas

dicara latihannya yang nggak setiap hari. Bagaimana bisa tahu? Nafas,

body form, pemanasan dan pendinginannya nihil. Lari mah nggak boleh

dipaksa sehari ngos – ngosan, 6 hari sisannya tidur. Lari walaupun

sekedar olahraga gerak linier perlu asupan psikologi dan nutrisi yang

sangat tepat. Perlu juga belajar hal – hal dasar mengenai nafas,

pemanasan, dan nutrisi ala – ala latihan atlet atletik profesional. 20170408_165221

Even lari yang gue ikutin di awal 2017 ini, 21K BFI run

Walaupun emang ada jenis pelari antusias dan sering ikut even marathon.

tentunya mereka udah rajin bertahun – tahun lari, walo lebih banyak

didukung latihan mandiri dan pengaturan – pengaturan skema pendanaan

juga mandiri. Nah, yang bagi yang baru mulai lari (Dummy and Beginner),

lari itu pure untuk kesehatan, intensitasnya harus pakem ngikutin

aturan praktisi atau dokter yang memberi saran atau minimal nggak

melanggar batasan – batasan yang udah diberikan. Mengingat ketika umur

mulai lari udah 20 tahunan ke atas sangat besar kemungkinan telat untuk

menjadi atelet lari profeisonal. Yakin

 

Yang terlihat selama ini, lari itu dipakai ajang cepet – cepetan dan

jarang latihan secara tepat. Ya, namanya jantung punya resiko jika ada

kegiatan yang serta merta dan tiba – tiba dikerjakan, otot juga bisa

kram dimanapun dia udah kelelahan. Untuk lari yang paling rawan kram

perut, paha dan betis.  Semisal training plan ala Boston marathon

(lomba marathon paling susah kualifikasinya) aja 100% nggak ada yang

menuliskan lari dalam kondisi anaerobik dari awal. Dokter juga

ngingetin, untuk kesehatan, lari itu minimal 30 menit, 3 sampai 5 hari

seminggu dan dilakukan dengan “easy” mode, dengan artian lari dengan

masih bisa ketawa dan ngobrol santai. Dan kenapa olahraga lari yang

dipilih oleh para pemula?, karena manfaatnya cukup nyata, murah,

ngebakar junk-food dan drink synthetic, dan bisa dilakukan di banyak

waktu.

Easy runs are done at a comfortable pace that allows you to carry on a conversation with ease, at an approximately 60 to 70 percent exertion level. It’s not a time to worry about pace, to check your watch frequently, or to push yourself; in fact, it’s a good time to put all of that aside. Easy runs are the key to building your core and foundation, and your training plan will include a lot of them. In fact, the majority of the runs in the plans are easy runs. (Hal Koerner)

 

Nah, ketika emang kita mulai memutuskan menjadi pelari antusias atau

bahkan Pro. Ya, itu emang harus siap dompet dan waktu yang disiplin.

Atau kalo enggak bakalan penyakit dan cidera bakal berkolaborasi

berbondong – bondong menyerang badan. Mungkin bagi yang belum merasakan

dan masih merasa muda dengan badan penuh tenaga menganggap ini biasa,

kalo udah kena bakalan runyam masalahnya. Percaya deh!.

 

Di area antusias biasanya mereka mengejar even – even lari marathon

trail/ultra dan road/jalanan biasa, half marathon 21K, 10K, atau 5K. Ya

yang namanya antusias target utama emang mengejar waktu terbaik dan

bisa “mejeng” di area prestisius tersebut. Walaupun biaya regitrasi

even marathon di tiga tahun yang lalu dengan tahun ini 2017 udah

njomplang banget, tapi peminatnya nggak surut malah naik berribu –

ribu. Bayangin, Bandung marathon, Jogja marathon, dan Bali Marathon aja

cuman dua jam dari pembukaan udah ribuan yang ndaftar, bahkan yang bali

udah ludes diwaktu itu juga (yang early bird dan reguler).

 

Mungkin hari ini udah banyak motivasi – motivasi yang menyatakan bahwa

lari untuk kesehatan dan peyakinan diri bahwa badan kita bisa melampau

batas fisik lebihi dari apa yang kita bayangkan, walaopun itu emang

benar. Tapi kenyataanya mungkin 60% lari itu dipengaruhi mental, 30%

mekanik, dan 10% nutrisi (lupa sumber bacaanya). Tapi sepertinya emang

begitu kenyataanya Dari pertama ikutan even lari di 2014 katagori 5K

hingga half marathon di 2017 banyak yang (maaf) berat badanya rada over

bahkan banyak juga dari kalangan perempuan yang ikut serta.

 

Kesimpulannya, kalopun mau berlari bahkan mengincar World marathon

series tapi nggak ada dana untuk nge-gym atau mbayar instruktur/ ikutan

klub lari. Ada nih caranya, yaitu belajar pake buku, baca artikel, dan

dari orang – orang yang udah mahir lari. Banyak juga kan komunitas lari

yang bagus dengan orang – orang yang punya semangat yang sama. Mulai

deh belajar mengenai pemanasan pra dan pasca lari yang baik, form badan

ketika lari dan cara mereka melakukan pernafasan. Memilih seragam lari

yang enjoyable bukan fashionable, bukan tentang sepatu yang berjuta –

juta, tapi yang awet, enak, dan asli (bisa didapatkan sepatu homemade

Rancaekek/Bandung under 200K), dan juga pengaturan makan-minum yang

teratur. Dan tutorial lari dari mulai masang tali sepatu hingga bersiap

ikutan even ultra marathon 100 Km-pun tersedia bebas di internet. Dan

itu layak untuk dipakai.

Oya, tentunya tutorial berupa artikel, buku, maupun video yang bagus ya

yang berbahasa inggris ya. 

  quality runs do play a key role in your training. Quality comes in when you train in a specific way for your event. Ngebuat jadwal lari yang spesifik juga bisa ningkatin kualitas dan kapasitas lari.

Finally, jangan paksakan kemampuan nafas, kaki, dan kepalamu untuk

olahraga yang satu ini. Karna yang paling penting untuk tahap awal

berlari adalah intensitas, bukan kecepatan, apalagi jauh – jauhan. Baru

kemudian kalo udah berlatih lari bertahun – tahunan, kapasitas jarak

dan waktunya ditingkatin. Pace udah 4 menit okelah untuk ikut full

marathon yang bersertifikat IAAF (Federasi atletik internasional).

These runs are by nature more relaxed and more fun, giving you time to socialize if you wish or to be alone and reflective or to think about nothing at all. (Hal Koerner)
 

Source:

Buku: Hal Koerner, Adam W. Chase Hal Koerners: Field Guide to Ultrarunning Training for an Ultramarathon, from 50K to 100 Miles and Beyond

Heather Hedrick, M.S., R.D. 2005. Absolute Beginner’s Guide to Half-Marathon Training

Website: Plan training Boston Marathon, Virgin London Marathon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s