Berburu

AlexPG Subang.jpg

Lahan tebu di PG-Subang

“Kau kemana saja hari ini boy? “

Malam ini akan ada hari perayaan yang belum jelas apa namanya. Perayaan yang semua manusia yang bergelut dengan sawah lakukan, “Berburu tikus”. Aneka bintang tumpah menaburi langit membentuk formasi yang mengada – ada. Karna seperti itulah sifat manusia, mencocokkan saja.

Menyenangkan!

Kesenangan berkeliaran di sawah melingkupi berbagai genre umur, dari yang masih sekolah hingga sesepuh tokoh kunci semasa kemerdekaan yang masih hidup. Musik bertalu – talu. Dalam play list yang rupa – rupa demi keseimbangan dan mempertahankan suasana yang lagi gembira diantara banyaknya generasi penikmat lagu. Sedikit J-rock dan kasidahan berbahasa Inggris. Dangdut dan campursari mendominasi. Satu set album Koes Plus – Kus Bersaudara juga ada. Jelas di sini sangat hikmat untuk urusan mendengarkan musik? Mungkin hal ini yang mempengaruhi para tukang azan masjid sebelah baledesa mampu merupa – rupa nada azan dengan setara kualitas muazin masjid Haramain, termasuk mix lima jenis langgam kampong Cimayar ini.

Semua bahan pembasmian telah dipersiapkan. Walaupun pengejaran hewan pengerat bernama latin Rattus argentiventer bukanlah sebuah pertandingan, tapi kehormatan dan rasa bangga dengan memenangkan jumlah penangkapan terbanyak mutlak untuk didapatkan malam ini. Pengerahan anak – anak, kelompok tani, ataupun tetanggap yang tidak ada sangkut pautnya dengan sawahpun diperbolehkan. Toh, tidak ada wasit atau yang bertanggung jawab.

Salam rokaat keempat Isya telah dikumandangkan. Bedug pertempuran telah menderu – deru. Dan tangan – tangan kekar dengan baju lapangan siap mulai bekerja hingga fajar menyingsing.

Pengumuman, kanggo sadayana. Bapak-bapak kampong Cimayar kedah segera ngumpul di lapangan masjid baledesa. Perlengkapan kedah candak nyalira. Hatur nuhun” Pengumuman dari speaker masjid mengalun keras.

Mirno sehari sebelum hari pemburuan telah menyebarkan berbagai jenis perangkap hama vertebrata tersebut. Dari jebakan kurungan tradisional dari bambu dan besi, jebakan penjepit dengan umpan potongan daging buah kelapa tua, hingga racun makanan yang beraroma manis. Kemungkinan pengetahun itu dia dapatkan dari antusiasnya mengikuti kelas Urban Pest di semester tujuh kemarin, sementara dienam bulan itu sepertinya aku lebih banyak nyenyak tidur di kelas. Alasan

Kau bawa besi apa itu berasap kaya kenalpot?”

Kamu nggak akan tau keampuhan alat ini sebelum melihat hasilnya sendiri nanti, dan pasti gabah persenan panen nanti tim kami yang mendapatkannya,hahaha….”. Aku menjawab puas sambil melihat Mirno bermuka masam memakai sepatu boot warisan keluarga yang dari tadi terlihat dipaksakan masuk.

Irama keceriaan anak – anak selalu mendominasi pengejaran tikus massal setiap musimnya. Berlari – lari diantara jajaran legowo 4 tanaman padi berumur empat bulan, walaupun dengan kaos dan celana pendek mengingat aku sendiri sampai telah lulus perguruan tinggi hanya tiga kali bersentuhan secara rutin dengan daun padi yang mampu menyayat – nyayat kulit hingga terbuka. Itupun Karena keharusan mengambil data penunjang untuk skripsi.

Keriuhan bocah – bocah itu tidak berlangsung lama, cukup satu jam mereka telah berada dipelukan emak masing – masing yang menunggu dipinggir sawah, tertidur pulas belepotan lumpur digendongan.

Sudah enam jam berlalu dari mulai proses pengejaran, aku melihat Mirno telah mengumpulkan delapan karung berisi bangkai – bangkai tikus yang sudah lemah, yang kelihatan berbusa pada bagian mulutnya. Hanya saja perangkap yang memang kebanyakan petani gunakan tidak begitu menghasilkan tangkapan yang memuaskan.

Lex, ngapain baru sore begini sudah leyeh – leyeh minum kopi disitu ngliatin doing?!” Mirno berteriak ke arahku.

Kesalahanku tidak mencoba meng-kalibrasikan emposan asap ini untuk dipakai di sawah yang ternyata luasnya hampir dua ratus lapangan tempat praktikum penelitianku. Sehingga pasokan sulfur dan lilin tidak ku beli skalian banyak dari toko kimia di kota.

Bukan main, benar – benar ada rasa kagum daripada sebuah rasa kalah maupun cemburu dari hasil tangkapan Mirno. Aku sudah lulus dari perguruan tinggi lebih dari setahun yang lalu dengan nilai yang jauh di atas Mirno. Sementara Mirno masih berkulik dengan tugas akhirnya ditahun ini. Benar – benar Mirno ‘calon’ tani yang hebat. Bagaimana tidak!, ketika semua mahasiswa setingkatnya mengejar gelar dan lomba habis – habisan, dia bermain ke pelosok suku Badui Banten hingga Dayak dan menghadiri berbagai konferensi entomologi dan biology of applied,  tiketnya tak jarang dia peroleh dengan uang saku sendiri. Aku cukup tahu karena sering melihat tiket bis dan sertifikatnya berserakan di asramannya tidak teratur.

Yang sayangnya, aku dan banyak kawanku tidak merasakan hal yang sama.

Dari sarjana pertanian untuk pertanian yang sebenarnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s