Melihat dari jauh

…percayalah segala di dunia ini baik, sebagaimana adannya, dan orang yang tidak kenal puas dan selalu mengeluh bukanlah temanku.

~Multatuli

      Sebenarnya karena aku menyukai keindahan rupa, aku merasa senang berjumpa kembali dengan si dia. Aku segera melihat bahwa ia bukanlah sekedar kenalan – kenalan berasas formalitas kelas. Kupikir dia akan berbelok ke kanan, karena itulah aku bertunduk bersamai memandang ke atas dan kekanan jauh; tapi dia juga berjalan lurus, sehingga aku tidak bisa menghindari sapaan dengannya. Itu pertanda sangat buruk, ‘”hai kang Salman!”, jadi aku wisudatidak banyak bicara. “Haik”, ucapku ragu.

        Tidak biasanya jalan itu aku telusuri sepagi itu. Kecuali bagi mereka pelajar angkatan awal dan akhir yang harus memulai lebih awal belajarnya. Walaupun aku mempunyai bakat bisa mengungkapkan diri dengan baik, ketidakberuntunganku saat ini bukan kerena kurangnya kemampuan besosialisasi dengan berbagai macam tipe manusia. Seharusnya pengalaman 8 detik pertemuan tadi hilang dengan mudah tak lebih sulit dari 100 menit pertemuan rapat hari kemarin, tapi aku tidak tahu di mana sosok itu tinggal, dan aku kenal hanya melihat dari tulisannya. Kupikir dia di Lab atau sudah menjadi dokter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s