Memaafkan “Belajar”

          Hmm… kayaknya memaafkan dan membiarkan itu kondisi yang emang beda. Seperti mengucapkan terimakasih dan senyuman senang telah diberi sesuatu. Sama-sama menghasilkan ekspresi tapi tanpa apresiasi lebih.

         Pengalaman dari awal hingga taun terakhir kuliah mengenai ekspresi apresiasi semakin bertambah, terutama “trimakasih” dan “meminta maaf”, Bener-bener susah ternyata ngucapinnya atau sekedar kode untuknya. Jaim, rasa tinggi hati, dan perasaan remeh akan ucapan yang gitu doang menjadi penghambat yang menyebalkan.

        Mungkin selama ini kita seringnya berterimakasih atau meminta maaf kalo udah dapet sesuatu yang bener-bener besar dan berbentuk materi. Semisal trimakasih udah dapat kado, makanan,  atau bantuan tipsen (#eaaa), padahal sering juga kita dapat excuse ketika sudah nungguin telat beratus-ratus detik dari janji awal, nyediaain makanan tanpa nawarin, atau bahkan sekedar menjadi teman setia mendengarkan omelan keluh kesah kehidupan pasca kelas. Yang jelas, ketika menjadi pelaku pengucap trimakasih itu harga diri nggak bakalan turun atau mengambang selayaknya meminta maaf yang kasusnya lebih rumit dan  lebih banyak mengikutkan perasaan hati kok!!. it’s really life guys!!.

         Dan minta maaf, karena nggak berhasil melaksanakan suatu sesuai ekspektasi bersama, nggak dateng undangan, merasa merepotkan teman, atau merendahkan diri karena masakannya ala kadarnya (padahal wah luwar biyassa). Jelas, bagi yang nggak biasa mengucapkan maaf sedari dulu bakalan susah luar biasa-terbata-bata, Mikirin ini-itu, malu, inilah-itulah!. It’s crap mentals. Tapi, hal ini mungkin nggak terlalu berlaku untuk para ciwi-ciwi. Dari merekalah saya belajar. it’s shame, but must be.  Harus dilatih-dilatih dan dilatih. Apalagi jika kondisi tersebut melibatkan senior atau orang yang lebih berumur daripada kita, nggak enak jelas mereka harus lebih menjaga wibawa kepada bawahannya, junior-juniornya. Lah, kita, paling juga malu bentar.

    dc        Walopun sudah ada media elektronik untuk menyampaikan pesan, tapi sebisa mungkin ekspresi ini kita latih dengan ketemu wajah langsung,

this case not talk about baper or others filling case, its just learned to be and make into human being.

 

Minta maaf=

                           Sepurane, nyuwun agenge rido, ngaturaken sedoyo kalepatan

                          Hampura-Hapunten (halus)

                        (jepang) sumimasen, Gomennasai,

                       (korea) mianhamnida

 

Trimakasih=

                         Matur suwun

                         Hatur nuhun

                         (jepang) arigatou gozaimasu, Sankyu                       

                         (korea) gamsahamnida, gomawo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s