Mengaji

        Bagi yang seumuran sepertinya masih ngerasaain apa kegitan pasca zuhur dan pasca magrib. Yap, bagi anak – anak tentu menjadi kesenangan sekaligus tantangan untuk tetap melanjutkan “sekolakelas1h” dilain sekolah formal yang pake sragam tiap paginya. Kita mengenal untuk sekolah non formal yang satu ini dengan sebutan “ngaji” dengan sumbernya adalah membaca, membaca Al-Quran, membaca buku atau kitab rujukan. Nah, untuk ngaji siang  biasannya ditempuh untuk spesialisasi bacaan al-Quran dan belajar ibadah wajib, sementara ngaji ngaji malam untuk anak yang lebih senior belajar tentang ibadah keseharian, dengan rujukan pada media kitab berwarna kuning.

        Bagi yang pernah ngalamin awal-awal haru memberi arti atau maknani kitab gundul bahasa arab yang nggak ada harakat ditambah spasi yang sempit minta ampun. Bener-bener haru !. Kemudian PR bertambah-tambah ketika pak Ustaz nggak sehati kepada kepad para murid, cepet banget ngejannya.

     Nah, itulah beberapa semangat masa lampau untuk belajar ilmu dunia dan agam skaligus. Kami polos akan ketak jelasan paham tapi mengalami rasi-rasi keperbedaan paham jalan antar lembaga islam hingga hari ini. Untungnya nggak kepancing dan tetap woles-woles saja.

       Kemudian masing-masing kita seakan tidak terasa udah dewasa, waktunya gantian untuk berpindah. Dari duduk di belakang hingga ketiduran kemudian memberi “arti” pada jiwa – jiwa anak-anak generasi selanjutnya, dengan mengajarkan Ngaji kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s