Budidaya Tahunan

sas

      Aku bukan pahlawan, tetapi kali ini pun aku tak gentar menderita karena sedikit banyak aku telah ditempa oleh kepahitan dan kegagalan.

      Kata Pak Mangunwijaya dalam Burung-burung Manyar-nya, sastrawan sekaligus Arsitek Moderen ternama yang dimiliki rakyat Indonesia. Sepertinya tak apa meminjam sekedar separagraf untuk kuminta keeksisannya. Tapi bukankah kita tau sejakpun bumi pertiwi kita kaya setinggi pucuk daun pinus, seringkali anak muda yang makan bangku sekolahan seratus persen suka mengambil ‘’makna’’ dari luar negara sana. Setidaknya mereka tak sama dengan si anak muda ini, tidak seratus persen tapi cukup sembilanpuluh sembilan persen. Beda

     Tetapi dengan kebanggaan. Anak bau bangku sekolahan dan muda senama umurnya tak akan tegap hanya dengan kebanggaan setelah tau aroma kehidupan nyata. Mempertahankan nyawa demi harga diri, demi apa yang diyakini, yang bertujuan untuk kehidupan orang banyak, dengan uang saku gelar sekolahan. Katakan “akan ku buktikan”.

      Setidaknya sebelum semuannya benar-benar beres ketika pagi menjelang, sering mendengarkan sayatan-sayatan tak kasat mata, “jika telat terus, mau jadi apa nanti. Perusahan-perusahan multinasionil terkenal akan kedisiplinan dan mengargai waktu selebih berat dari batu beku apapun”. Entah apa korelasi alasan statistikannya, Walaupun tentu yakin 100% itu bukan pernyataan dari tabel F hitung. Memang semua orang bisa mengatakan, gunung yang menjulang adalah indah, tapi kebannyakan orang melihat, mereka yang melangkahkan kakinya ke puncaknya adalah kesia-siaan.

        Kendati pagi sering menyeruak karna perbedaan waktu kelas dan waktu di tempat tidur si anak muda, tak pelak sering ada di otaknya, kenapa hal – hal ini dipelajari. Kenapa kehidupan yang sekecil itu memberi dampak yang sedahsyat itu. Semua serba tertutupi dengan prasangka yang diciptakan kultur, yang biasalah yang aman. Biasa masuk, nugas, pulang, beres, dan tertanda keilmuan menancap pasti dalam barisan nama.

     “Bapak juga kasihan pada pulau berpenduduk seratus juta itu yang (seperti) tak sengaja kebakaran?”

      Lirih si anak muda kepada status medsos para pendidik paginya. Seperti tertanda dalam selembar peta nasional, hutan terlindungi karena ada penghuninya yang endemik, bukan manusianya.

     Tak banyak lagi yang perlu kuceritakan. Ada saatnya cerita manusia harus disambungkan ke dalam perjalanan yang serba diam, dalam keheningan yang sebenarnya tumpah kepenuhan.

     Hingga hari ini mungkin tak ada sawah yang berisi tanaman Redwood. Kekokohan tanah karna tak banjir, kebijakan unsur hara yang terus ada karena tak semrawut pembantaian hutan, tertanam dalam generasi pelosok negeri. Polos bukan tanpa pedoman kebijakan, tak suka bukan berarti kabur. Suram dan retaknya kulit pinus bukan bermaksud menanam kesia-siaan, tapi supaya engkau paham. Bahwa, kerakusan akan tampak luar selalu membuatmu lupa akan manfaat besarnya.

Selamat Pagi di malam hari yang tetap panas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s