Transportasi dan Pulang

pos2

             Tempat sandar prahu di Kampung Berua dari Ramang-ramang, Maros.

   Perjalanan pulang ke kampung halaman menjadi eksotisme tak tergantikan ketika mengingat perjalanan selama setahun penuh bergulat dengan kesibukan dan kewajiban mencari penghidupan yang layak di kota. Hisbul wathon kalo boleh disebut. Penelitian terbaru di Ibu kota bahwa rata – rata para pegawai atau yang bekerja di sana menghabiskan 18% pendapatannya abis di dalam moda transportasi (tirto.id 02/04). But I will not compare  how much money at 13 hours to Dutch..hhh. Jadi kebayang kalo udah masuk di Trans Jakarta atau mobil – mobil pribadi dikala sore menjelang maghrib isinya orang – orang yang udah molor, bahkan nggak jarang nemuin yang masih pagi – pagi nyari tempat duduk langsung juga molor. Kebanyakan begadang kali ya.

    Walopun jalan tol itu paling banyak di kota besar tapi nggak jarang gate enter-nya macet, Dan kalo udah macet di dalam tol bisa molornya dalam itungan jam, mungkin kisah – kisah seperti ini yang menguatkan para pemudik untuk mau dan mengulang – ulang tiap tahun buat pulang mepet lebaran kali ya.

      Moda transportasi yang paling banyak opsi dan kemudahannya masih di Pulau Jawa, dari ujung – ke ujung juga tetep ada. Mau kapal laut, sepeda motor, mobil pribadi, kereta api, bus, Pesawat, hingga ngetengpun bisa. Emang yang lebih dari dari pulau – pulau lain sih akses jalan dan teknologi yang diterapinnya. Idealnya moda transportasi darat dan udara udah bisa ditentuin kapan beli tiketnya dari jauh – jauh hari, berbeda dengan kapal laut kerena harus memperhitungkan beban dan orang yang akan diangkut (pengalaman nggak dapet kapal). Mungkin untuk transportasi yang nyaman dan santai hingga hari ini adalah kereta api, memang tiketnya bakal naik ketika h-7 hingga h+7 lebaran cuman ketepatan waktu dan resiko kecelakaan sangat – sangat kecil. Jadi nggak perlu takut untuk telat solat idul fitri di rumah, kampung halaman.

   Hanya saja yang menjadi pertannyaan, “mengapa sih kita selalu mengulang – ulang pengalaman tegang tiap tahu seperti ini?” Macet, keluar uang banyak untuk tiket dan oleh – oleh, ribet bawa barang koper-ransel, ngurus ini itu sebelum ninggalin kerjaan di kota. That’s Why!!?

     Emang secara pribadi sih belum ngerasaain gimana bosen dan jenuhnya perjalanan yang segitu crowded-nya. Secara juga masih belum punya waktu yang termakan oleh kerjaan yang sampai heboh, apalagi mengangkut keluarga pribadi dari kota ke desa, Mungkin karena ‘sudah mulai’ ngerasain ribet dan prepare buat pulang kampung tiap tahunnya dan sedikit banyak waktu untuk perjalanan ke luar daerah memberi bayangan bahwa yang namannya keluarga, alam original, teman kecil, tetangga, hingga potensi ekonominnya nggak pernah tergantikan. Ada pertalian diantara keduanya (kata Naruto pada Sasuke,..eaa).

It’s always be exotics come back to our nature, despite of every time, every years, and every minutes.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s