Mendengar lebih banyak

         Tetiba ada orang lain yang nggak begitu akrab cerita buanyak kepada kita, pernah ngalamin?, yop bener pisan. Hal ini sering terjadi di perjalanan jauh di dalam suatu moda transportasi massa atau juga di tempat tunggu di keramaian publik.

        Btw, kenapa mau membahas ini lagi?. Tidak lain karena pengalaman beberapa waktu kemarin pasca sebulan nggak ngampus blas dan sekalinya ngampus dapat pengalaman yang terkadang bikin perasaan“gue disitu muncul dan menguat. Menjadi pendengar setia, karena memang model asli saya kurang bisa menidakkan atau berkata tidak atau “udah cukup dulu ya”. it’s always not simple as look

       Sehabis wawancara kerja untuk pedamping dan surveyor pengadaan lahan pertanian baru 2016 (pengumuman keesokan harinya hasilnya gagal ) langsung mendarat ke kantin Fakultas yang di situ ada seorang yang kuanggap guru, yang hasil candaannya kepada temen – temen sengklek tak jarang kujadiin bahan motivasi hidup. Guru nu asli

       Ternyata sebelum bertemu sang guru, bertemulah dengan senior yang kemarin sempat berkolaborasi dalam persiapan Upsus Pajale Fakultas Pertanian Unpad, seorang alumni dan galau akan program Upsus tersebut. Time is travelling. Jadilah ngobrol panjang sepanjang satu ayunan bandul fisika kali 360 alias sejam lebih dikit.

IMG_5412

   (menyimak dari atas) Bermain bersama adek – adek desa Bajo Pulau, Sape-sape yang dikoordinasi oleh @amuslim24 dalam rangkaian Ekspedisi Bhakti PMK 2016 (Photo by: @prof.ibnuhaikal)

       Kesimpulan sejam lebih dekat sama sang senior adalah mengenai carut marut administrasi perpolitikan pertanian di sebuah desa binaan dan gimana harusnya memberikan laporan kepada pembimbing. Rasannya emang dilema, getir, walopun sebelas duabelas udah pernah ngalamin polemik serupa semasa KKN sebulan. Sedikit bumbu rasa prihatin, ketika pembicaraan berakhir yang senior sendiri putuskan karena udah maghrib kemudian dia bilang “suatu hari ngobrol lagi jeung maneh nya !”ngeunah saurna berdiskusi bareng. Sebenarnya emang memberi jawaban akal hal – hal sensitif berlatar rakyat politik pedesaan sebisa mungkin untuk menjauh, karena jelas strukturnya jauh lebih beda dengan di ibu kota, kritik dan saran vokal udah jadi makananya. Lah, kalo di desa? bisa ribut se kampung sampai anak turunnya. Jadi mending kalemin aja. Sami’na waato’na dan kadang-kadang perlu juga wa’asoina. Dikit…!
      Sebelum acara bincang – bincang berakhir ternyata sang senior nggak tau kalo saya masih kuliah dan kemarin emang jadinya nggak taken kontrak dalam program Upsus. Baru nyadar kalo pembicaraan yang terlalu tekhnis dan banyak hal – hal kronis dilaporkan blak – blakan tanpa dimintai, I’am as a good listener aja. Baru ketika jalan pulang dari kampus menuju kosan berfikir banyak, apa yang sebenernya terjadi? apakah saya seahli itu, sehingga layak tahu informasi sebanyak itu. Pertannyaan – pertannyaan birokratif pisan bagaimana semestinya menjawab?. Belum tuntas, ditandas akan jawaban bagaimana menyikapi format laporan hasil penyuluhan hingga aliran dana bantuan pertanian yang kurang sinkron. it’s not like me before

        Seenggaknya belajar dari kisah Morrie di bukunya Om Mitch Albom “Tuesday with morrie”. Mengenai kisah bagaimana untuk banyak menerima, memberi bukan memerintah, tapi mendengarkan lebih banyak dan ikut merasakan dan kembali ke arah terbaik bareng – bareng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s