#sepasukankecil

"Kok silau ya" asep tertawa santai. Padahal bagiku ini panas menyengat menembus epidermis bawah kulit. Alergi matahari tak perlu dilihat dari efek kulit yang memerah atau bersin – bersin tiada henti, namun nongkrong di dalam rumah berjam – jam tiada arti itulah seaslinya alergi. "Aku mampir ke warung pengkolan, beli cai heula". Disitu kelihatan dentuman bola disepak acak.
Selama ini anak – anak kecil gang – gang selalu suka dan ikut bangga dengan klub sepak bolanya. Para "bobotoh" tak perlu mengenal hari ini hari apa untuk bermain yang dalam pandanganku berlatih sepak bola. Panas, hujan, libur, atau banyak pr sekolah, tetap dilalui dengan tawadu’. Ada lapangan bola atau tidak, ada 22 orang atau berjumlah ganjil, setauku tetap berlangsung pertandingannya, tanpa wasit dan tanpa benar – benar menyesal karena telah mengeluarkan energi maksimal. Gelut, itu wajar dan masuk proses belajar. "Haloo, kakaaak" aku tersenyum dan ikut melambai tangan sepasukan anak SD yang sedang berolahraga. Tertahan bangga. Ketika kembali kesini, ternyata mereka hampir bernasib sama, mesti mencari lapangan lain. Untuk bermain.

image

Suasana berolahraga anak – anak SD di Jatinangor

#sepasukankecil #30haribercerita#30harimenulis #lagi #hari5
Kalian hebat dengan keistiqomahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s