4 Tahun

Kujual semurah mungkin!. Tanpa surat, serah terima ini telah berlangsung. SAH

Kecemasan itu menguap, sebab tak ada alasan lagi meski menerka – nerka siapa lagi orang untuk dimangsa. Membagi bagiku tak lebih berat dari pada memberi diskon 50% + 50%, sebagaimana kelak akan tetap diingat, yang menanam pasti menuai.

Seharusnya aku sudah sejak dulu meningalkan kota ini, tapi semenjak segerombolan pedagang Akbar dari kota seberang nan jauh menawarkan pekerjaan dan konsumsi gratis sebagai sesama perantau. Lumayan bisa menghemat tiga puluh hingga tujuh puluh sen tiap harinya. Nyaris setiap harinya kosa kata bahasa anehku bertambah dengan pesat, tak perlu kamus atau tanya sana – sini untuk cepat menguasai bahasa setempat.

2Perlengkapan uji keseragaman dan dokumentasi morfologi benih sorgum selama di Balitsereal, Maros.

Tepat dua tahun tiga bulan telah berlalu, cairan SPF lebih banyak tidak membantu mengurangi warna legam dari tangan dan wajahku. Tiga jam sehari, lima hari dalam satu minggu adalah waktu yang kuputuskan untuk bermesra bersama tanah dan tanaman. Tak ada rasa sesal ketika berladang, hanya rasa letih berlebih yang mengikuti setiap malam menuju pagi akibat tekanan dan tarikan dari setiap cangkul yang menancap dan cubitan jari pada ribuan daun rerumputan.

“Cep, hayuk tuang heula. Ulah kaburu – buru ngampusnya!!”

Ibuk, begitu aku menyebutnya memanggil ‘pekerja’ yang sedikit hasilnya ini untuk menyantap makanan yang tak kalah banyak dengan petani aslinya. Dan kali ini tetap, tetap masakan home made, lezat tak terkira. Karena bagiku lauk terenak di dunia ini bukanlah daging sapi oseng, telur diamond atau mie dari Italia. Yang terlezat hanyalah lauk bernama “LAPAR”.

“Tampaknya aku terlalu lelah”,

berjalan pulang dengan berat akibat spatu penuh lumpur ‘Ultisol’ yang khas lengketnya, sementara kelas pagi jam delapan kurang duapuluh menit menanti setiap harinya. Baju putih kesukaan dan memang paling banyak menghiasi lemari bajuku rata – rata bagian belakang sudah berwarna coklat tanah, membekas seperti darah kering bekas kemarin.

Diluar konteks pidana, aku berani bertaruh dari delapan ribu teman sesama penyandang status “mahasiswa” seangkatan tak akan ada yang mampu bertahan barang lebih dari dua puluh orang jika harus melakukan hal yang sama. Berladang !.

Hari ini aku mempunyai rindu yang lain, menggertak jantung untuk tetap tabah. Selain keluarga di rumah dan si junior dari departemen sebelah. Sekarang bertambah, bertambah dengan para gerombolan dari kota jauh yang tiba – tiba menghilang. Gerobolan yang menanam sendiri jualannya dari benih yang bercampur perih.

Hari sudah berubah, setahun berlalu. Setidaknya kutahu gerombolan itu tak akan lebih jauh keberadaanya daripada Pulau Seberang. Pulau jauh yang berjarak tak kurang dari dua siang dan satu malam dari sini. Walaupun aku tak pernah menemukan dan berhasil mendengar suara dari mereka lagi barang setitik. Setidaknya aku masih lega tidak mendengar kabar buruk dari salah satu mereka di sini, dari negeri jauh yang lain. Orang – orang menyebutnya negeri maju, diatas jauh dari jenis negeri yang melahirkanku. Negeri ini yang agak aneh yang harga nasinya melebihi harga daging barang seperempat di kampungku dulu.

Dulu kukira Bapak hanya melanjutkan cerita – cerita bercandaan basinya. Sempat kuanggap apa cerita itu, cerita mengenai sebuah negeri nan jauh di sana. Sebuah negeri dengan masyarakat yang profesinya seperti para gerombolan Bapak dan Ibuk. Tangan tidak gempal, tidak berkulit kasar, apalagi sampai berwarna gelap. Konon memacul tanah, menanam benih, hingga panen dilakukan dengan menyetir mobil. Hasil panennya pasti dibeli semua barang berbeda – beda kualitas hasilnya.

“Rasanya aku ingin mengajak kalian segerombolan pindah ke tanah harapan ini, dimana rasa letih dihargai sangat mahal dan seuai!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s