Penggores Air, Membentuk Legenda Hidup.

       “Hoe, lama sekali nggak ketemu,” siapa orang itu, memanggil tanpa nama, punya mata sipit tapi berlogat Jawa. Usianya kutebak berkisar 40an tahun, tapi dilihat dari cara memanggil akrab kakakku brati tidak setua itu. Tubuhnya kecil, krempeng, perawakannya tegap, setara dengan kakak.

      “Dari mana aja kau, si Bujang Handal?”

        Kakak tertawa puas sambil menimpuk pundak sang kawan    hingga hampir roboh.

       “B aja bro. Semalam aku baru sampai dari Lampung, tersesat seminggu di sana. Sehabis perjalanan pulang dari Bengkulu, susah membedakan mana yang kota dan mana yang bukan kota, sama – sama luas lahannya dan lega jalannya. Aku berjalan berpuluh – puluh kilometer bersama istri untuk memotong jalan antar kampung supaya dapat tumpangan gratis, eh ternyata malah nyasar. Tapi, kenapa kau tinggal di sini Min? Jauh dari Minimarket, jauh dari keramaian seperti di taman nasional aja, sepi dan ngeri kalau malam. Susah aku menemukannya. Ditambah menjadi Petani tulen? Sejak kapan kau yang dari tahun pertama hingga ke tujuh sudah nyaman duduk di ruangan produksi ber-AC kemudian bisa hijrah terendam lumpur? Kau apakan padinya?”

        “Ceritannya bisa sepanjang dan selama kau kuliah bro”. Kakak dan si kurus tertawa, sambil saling lirik. “Naiklah ke atas, Ibukku sudah menyiapkan kopi dan makanan. Tentu kau sudah lapar setelah perjalanan darat super tiga jam tadi. Nikmati saja tempat ini seperti destinasi – destinasi perjalananmu”.

          “Ci…!!” teriak si kurus ke arah warung eMak Iip dari tengah sawah. Terlihat ada satu perempuan bersama dua anak – anak kecil di warung eMak Iip.

           Ternyata mereka datang serombongan sekeluarga, bersama istri dan dua anaknya.

         Aku berdiri di lantai dasar rumah bertangga, main kelereng bersama teman – teman sambil tidak sengaja mendengar percakapan kakak dengan kawan lamanya. Beberapa warga tetangga lain juga ikut nimbrung, ada yang menyapa lewat, ada yang mampir sejenak, ada yang melihat dari jarak jauh ke arah rumah kami. Mereka tertarik akan info kedatangan rombongan yang telah disebar bapak dan tambahan daya tarik dari mobil off road milik si kurus yang menurutku lebih mirip pembajak sawah beroda empat bekas dari California.

            Kampung kami memang serba “Mewah” Mepet sawah, hanya ada beberapa rumah dalam satu dusun. Dan antar rumah bisa terpisah berhektar – hektar jaraknya oleh tegalan maupun kebun rakyat. Rumah – rumah di sini mayoritas masih berupa rumah panggung dari kayu, bahkan Bapak membuat rumah kami mirip Tongkonan khas Toraja, Sulawesi Selatan. Rumah panggung dengan atap melengkung menyerupai prahu, kata Bapak biar nggak monoton. Panggung antara lantai rumah dan tanah dibuat agak tinggi dan terbuka, sehingga bisa untuk main sepuasnya untuk anak – anak di sore hari. Bisa berfungsi sebagai tempat acara hajatan atau nongkrong ria para pemuda tanpa mengenal terik atau hujan. Dan hal seperti ini yang bisa kami lakukan untuk memecah kebekuan akan lamunan malam di desa kami. Tahun ini tahun terkering di desa kami. Padi dan berbagai produk horti sudah ditancapkan, karena idealnya bulan Desember akhir sudah mulai turun hujan secara berkelanjutan. Jika tidak diatasi kerugian tak terbayangkan siap menerpa. Walaupun sungai besar melalui desa kami, tapi tak memberikan sumbangsih apapun. Terlalu menjorok kebawah, sementara lahan – lahan di Kecamatan Sumber Sari ini berbukit lebih tinggi dari sungai besar. Tetua kampung dan Babinsa sudah menyerah, tapi Bapak tak kenal lelah dan Kakak punya akal lain. Meminta bantuan master hidrologi dari kota.

           “Berapa duit yang harus kita siapkan untuk membayar para ahli itu Le?” aku teringat Bapak bertanya pada kakak serius tadi malam sebelum kedatangan para tamu ini, cemas.

            Kakak menggeleng dengan senyum, “Tidak sepeser pun, Pak. Mereka teman – temanku ketika masih di bawah nama yang sama. Mungkin dua hari trip keliling Sumber Sari sudah lebih dari cukup buat para traveller seperti mereka. Hanya itu bayarannya.”

            “Bujang!” Bapak memanggilku dari atas sudah bersila matang menyambut para tamu, “Kau bantu Ibukmu buat menyiapkan kopi dan makanan. Ajak kawan – kawanmu juga sana makan.”

             Aku mengangguk memanggil pasukan dari teras rumah bagian atas lantas lari ke dapur.

              Sambil meletakkan piring dan bakul nasi aku melirik di hamparan tikar para tamu sudah berdiri tas – tas ransel besar berkisar 80 Liter. Tali besar, skop berbagai ukuran, gentong berbentuk ramping, dan peralatan aneh lainya. Berbaris rapi di rumah kayu lantai dua ini. Yang aku duga – duga adalah, pasti ini mahal, jadi pantas kakak tidak melanjutkan profesi di bidang aslinya. Seperti mereka ini.

              Aku yang sedang mengambil kue cubit sesekali ikut menyimak suasana reuni kawan lama tersebut, sambil sesekali mencubit pipi Faza. Gemas.

                Aku bersama kawan – kawan ikut nimbrung bersama kedua anak si kurus alias Master Mamad yang masih imut – imut ini, Faza dan Faris namanya “Ah, ini dia istrimu Mad? akhirnya…., hai lama tidak ketemu Fa,”

             “Iya, setelah bisa masuk perusahaan yang ada kamunya ituh min, langsung kubulatkan  tekad yang sudah terpram dari tahun ketiga untuk melamar si bocah ini. Eh, tapi tubuhmu sekarang makin kekar dan kurus ya Min. Tak pernah terbayang jika melihat kondisi empat tahun yang lalu, haha” si kurus benar – benar mulai menjengkelkan bagiku.

             Bapakku tertawa menimpali, “Ya, sekarang menemani di sawah mas. Seprofesi sama bapaknya.”

              Bapakku memang mewarisi kami tubuh yang kuat dan badan yang tinggi baik secara genetik maupun dilating langsung di alam, sementara ibuku membagi watak yang welas asih, penyabar, dan berfikir kritis. Karena keluarga ibuk memang berasal dari kalangan terdidik, priyayi pesantren. Hasilnya, pasca kakak keluar dari perusahaanya, banyak orang – orang dengan baju rapi dan berdasi ramai bermobil ke rumah. Membeli hak paten dan tentunya menawarkan pekerjaan yang lebih mumpuni.

           “Tapi kemampuanmu tidak semudah itu hilangkan, Min?”, suasanannya berubah menjadi serius. Sementara aku masih terus mengunnyah kue cubit buatan Ibuk yang super lezat sambil main A-B-C tebak nama pemain bola.

           Kakak menunduk sejenak, “sebenarnya tanah disini kondisinya bagus, tidak banyak pasir dan debunya, masih lebih banyak fraksi liatnya. Mestinya galian maksimal sepuluh meter sudah sangat cukup untuk membuat sumur bor”. Bapak ikut membenarkan, mengingat setiap ada penggalian Bapak selalu terlibat di dalamnya sebagai utusan tetua kampung langsung. Dan tak jarang mengajak kakak langsung.

Si kurus kawan kakak mengangguk – angguk sambil menyeruput kopi panasnya hikmat.

           Kakak menegakkan punggungnya, “Tapi aku punya hipotesis terkuat bahwa, membuat embung bawah tanah adalah solusinya.”

          “Run off  buatan” si kurus menimpali

           Ingatanku melayang pada ide bapak yang pernah mengusulkan untuk membuat embung dengan sumber air utama dari air hujan dan air sungai besar yang jauh itu setelah air pompa yang dipasang pada sumur – sumur bor buatan pada kering dan kalaupun ada airnya bercampur dengan pasir, resiko tinggi mempercepat kerusakan mesin pompa. Tetap saja masalah pembuatan embung belum menemukan di anggaran yang fair untuk dibukukan dan tentunya lahan siapa yang rela digunakan untuk digali buat kolam se-luas lapangan bola itu.

         “Sebenarnya ada dua metode yang paling rasional untuk kita terapkan Min, yang tentunya bisa berjalan dalam waktu dekat sebelum padi – padi dan sayur – sayur milik warga mati. Jika kau masih ingat bagaimana industri kita melakukan pengendalian awan untuk menjatuhkan hujan, seperti itulah modelnya. Kedua dengan terapi tanah, topik yang sedang kumatangkan skalian untuk meraih gelar doktor. Hanya saja aku juga baru mempelajari kedua metode ini supaya lebih mobile dan hemat ongkos secara intens baru setelah kau tiba – tiba menghilang dari perusahaan.” Si kurus menatap kakak dengan tatapan sedikit kecewa.

“Apakah Bapak bisa membantu dan melancarkan pekerjaan – pekerjaan tersebut?” Bapak bersemangat menjawab.

            Kakak mengeluarkan analisisnya, “Di sini ada lahan seluas kurang lebih 180 ribu hektar. Jika menggunakan salah satu metode itu perlu penempatan utama sekurang – kurangnya tiga center utama. Dengan masing – masing center memberikan debit 1 kubik/hektar/detik selama sebulan pertama, karena masih di fase vegetatif untuk padi maupun sayur.”

          “Yok pada makan dulu, jangan serius terus, keburu roboh nanti rumahnya” Ibuk menyeletuk dari ruang tamu membawa nampan berisi berbagai lauk dan sayur, anehnya juga ada rendang. Membuatku ngiler.

           Hitungan – hitungan yang tertunda akhirnya dilanjutkan lebih serius oleh kakak dan si kurus bersama sang istri setelah solat magrib setelah sorenya mereka berkeliling kampung dengan naik mobil off road, sementara Bapak malam itu juga langsung ke tetua kampung untuk menyiapkan pasukan terbaik warlok untuk diperkerjakan esoknya.

          Aku melihat dengan takjub hasil komputerisasi sementara dua model irigasi yang telah dibuat Teh Faizah, istri si kurus. Baru pertama kalinya aku melihat komputer mungil dengan layar yang lebar bernama “Notebook” ini. Disain model warna – warni bentuk peta 3D yang sangat mirip petak – petak lahan di kampung kami bertaburan, ditambah angka bermunculan otomatis jika aku menggeser kotak pengendali tanda panah bernama “mouse” di komputer mini ini. Sambil aku melihat kagum dengan kecekatan Teh Fa, aku lupa menutup mulut rapat – rapat. Mlongo.

             “Gimana kabar pak bos ndut?” kakak melanjutkan ngobrol dengan si kurus di balkon

          “Si Gendut depresi lima bulan karena kehilangan kau tau!, kurus dia sekarang” si kurus menyeringai. “Tapi memang sih tujuh tahun itu, tujuh tahun kejayaan start-up kita, hingga layak dikatakan sebagai industri seperti sekarang. Tim yang solid, dengan leader serba gercep dan banyak ide seperti kau, trus si biang mulut  alias si Gendut jadi pengatur administrasinya. eh kalo kau tau, Mamaku sampai menangis ketika itu aku akhirnya bisa lulus kuliah dan langsung dapat kerja, walau harus tujuh tahun nunggunya sih. Berkat kau jelasnya, yang menarikku menjadi bagian tim di perusahaan kecil yang kau rintis dengan orang – orang asing itu, aku akhirnya bisa menjadi orang berguna, yang aku sendiri tidak menyadarinya. Sampai Bokap dengan bangganya memasang fotoku denganmu dengan latar kantor kita di ruang tamu dengan ukuran nggak tanggung – tanggung, semeter lebih.”. Terdengar si kurus minta maaf karena ada sesuatu yang muncrat.

      “Aku ingin membangun yang sama di sini mad.” Kakak menimpali, “Membangun kejayaan yang bener – bener bermanfaat secara hakiki, walaupun mesti mulai dari dasar. Tentunya nggak akan semudah di perusahaan kita dulu untuk mencari SDM terbaik dengan dana riset yang serba melimpah. Di sini semuanya harus dimulai dari sendiri. Makannya kamu nanti sering – seringlah kontak dan berkunjung ke sini, kita mulai lagi kejayaan di tempat ini lagi” Suara kakak berusaha semangat.

        Kakak memang terbilang memiliki pendidikan yang paling cemerlang di desa kami dan kabarnya hingga di bangku kuliahnya. Pada waktu SD kata Bapak, kakak sudah bisa menyilangkan tanaman kacang panjang berbunga warna – warni, sehingga warna bunga dan bentuk kacangnnya bisa bermacam – macam dalam satu pohon, dan itu dilakukan dengan media tanam bukan tanah yang dia racik sendiri. Kamudian menginjak SMA, kakak memutuskan sekolah di kota berkat link dari salah seorang guru panutannya sewaktu di SMP. Dan konon karna gurunya inilah juga kakak rela pulang dari kenyamanan finansial menuju kampung tempat asalnya, di Sumber asih ini.

IMAG3832

“Eh, udah bangun jang” The Fa dengan headsetnya masih terjaga pagi itu.

             Malam itu aku tidak tahu tidur jam berapa, tahu – tahu bangun di sebalah Teh Fa yang masih serius menggores – gorekan pen pada tablet yang terhubung langsung pada laptop di sebelahku. Suara kakak dan si kurus masih terdengar sayup – sayup. Karna dingin kakiku otomatis bergerak pindah ke kamar, aku seperti barusan bermimpi nan hebat dalam tidur, posisiku sudah akan melanjutkan tidur. Tapi otakku berkata lain, berbelok menuju kamar mandi, wudu, belajar pelajaran sekolah dan sesekali membuka buku warisan kakak. Tanpa ku sadari saat itu benar – benar memasuki hari minggu dini hari, tepatnya jam setengah dua Waktu Indonesia Tengah (WIT).

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s