Masih tidak percaya…?

“Hei An, kok kamu malah pergi?” Joni mengangkat bahu dan mendesah bingung.

Aku pergi melewati jalur lain, turun, tidak menoleh. Tapi Joni sudah mengekor mendekatiku.

“Kita ngobrol dulu yuk, di pemberhentian terdekat pos 5 ‘Swara Brana’. Nanti aku beri tahu semua perihal dari mana asal peristiwa itu hingga kejadian kemarin pagi. Di sana tidak akan terjadi hal – hal yang aneh, mumpung masih banyak orang yang ngecamp”. Joni berusaha membujuk, dengan suara parau karena perjalanan panjang ditambah beban berat pada pundaknya. Nada menyesal karena beban rasa bersalah terlihat jelas dari dengusannya. “Atau kamu mau tau sesuatu yang lain? Misalnya, kejadian itu hanya akal – akalan akibat efek hipotermia? Aku bisa menjelaskan”

Aku sudah menutup telinga rapat – rapat sambil mempercepat langkah menuju pos 5 dan ingin rasarnya langsung menuju pos 4,3, hingga 1 skalipun, bertemu yang lain. “Dasar gendut! Begitu saja marah, cewek banget deh!.” Joni sudah memegang daypack-ku dari belakang tanpa kusadari sejak kapan dia melangkah, aku hampir jatuh kerena kaget. Jantungku berdegup semakin kencang. Marah.

Joni memang genius, tidak tegaan memang jika temannya susah, aku cukup tau kerena kita di kelas yang sama dalam satu tahun ini dan hal ini terbukti dengan setiap perjalanan dia membawa semua perlengkapan logistik kami berlima tanpa membaginya, hanya saja kelemahaanya tidak tahu bagaimana menyakinkan kenyataan pada orang. Cepat atau lambat, rasa bersalahnya akan lenyap ketika yang dihadapinya adalah seorang perempuan. Egois.

Jalur menuju pos 4 ke pos 3 merupakan jalur yang paling panjang pada trek ini, hujan telah mengguyur gundukan raksasa setinggi 3900 meter di atas permukaan air laut ini. Aku memakan sisa coklat batangan yang sudah disiapkan berlima dari pos pemberangkatan. Joni berada dibelakangku bersama berteduh dengan beberapa orang pendaki lain dari Kerawang, terlihat dari tulisan besar di Kaos bagian depan “Kerawang Menjalin Persahabatan”.

“Nyet, bisa keluarin ponco aku!?” aku memanggil tanpa menoleh.

“hei, nyet!” aku bergegas berdiri dan membalikkan badan menepuk pundaknya.

Bajunya dingin basah, ternyata tidur, dan raut mukannya tidak berubah. Aku marah – marah tidak jelas di belakang punggung Joni, mengumpat kesal. “sempet – sempetnya sih, dasar!” sambil kemudian membalikan badan dan duduk kembali.

IMAG3989

Pemandangan Gunung Ciremai menjulang penuh yang hanya bisa dilihat jelas di pagi atau sore hari dari sebelah Balai Desa Kertasari, Ligung, Majalengka.

Perjalanan dilanjutkan, tidak terasa tempat pendaftaran sudah terlihat dari pos satu ini, walaupun aku sudah 12 kali terpeleset terhitung dari pos 4 pasca hujan deras yang hanya berlangsung 40 menit itu dan tentunya Joni alis si PenNyet alias si Kurus kering menahan nafas tawa sampai ikut terjatuh meledak – ledak. “eh An, Si arip barusan SMS, mereka udah nyiapin teh panas di kedai keberangkatan ceunah” Joni berkata bersemangat dari belakangku diikuti teriakan khasnya yang cempreng, “Woiiiiiiiiiiiiiiiii”.

Aku langsung memeluk Nindi menitikkan air mata bahagia setelah lelah berjalan dari ujung pos 4. Walaupun aku benar – benar masih tidak bisa melupakan, siapa yang telah berani memindahkan tidurku seenaknya ke luar tenda bersama kantong tidurku tanpa matras. Aku hanya bisa menyakini bahwa pelakunnya dia, mengingat di tim ini kami berbeda tenda cewek cowok dan hanya ada satu cewek yang setenda denganku, yaitu Nindi. Tidak ada jejak langkah sepatupun dari tenda ke tempat tidurku di luar yang becek itu.Tapi, bagaimana ini bisa terjadi, bersalaman saja jarak jauh apalagi sampai mengangkat, Ngeri!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s