Jika Tepat Waktunya;

24tulis

Beristirahat di Stasiun Madiun. #Kahuripan

“Apakah itu perlu dipersoalkan karena Andi datang dari Amerika hanya karena dia ber-uang?” kata si kecil Windi mencibir.

Selalu ada cerita untuk disindir dan digosipkan oleh Windi dan geng rempongnya tanpa mengenal ampun dan waktu. “Memang mereka harus tidak menyadari bahwa kita menggunakan mereka untuk bahan pembicaraan kita” Ira menyeloroh menguatkan pembicaraan malam itu yang mulai basi, karena sudah terlalu seringnya membicarakan hal – hal yang sama, fashion, style, tempat makan, dan ….mantan. Klasik!.

Aku sebagai laki – laki yang terpaksa harus mendengar segala cekikian dan berita gratis ini terpaksa banyak bersabar dan melanjutkan begadang untuk segera menyelesaikan laporan kampus jarak jauh, derita mahasiswa akhir se-camp dengan mahasiswa penuh energi di hari kedua puluh tiga. Dua tiga jam sepertinya pembicaraan para perempuan kamar sebelah masih di preambule, tidak ada indikasi bakal berakhir semua bahasan yang hampir – hampir kalimat utamanya susah dimengerti. Dari Oppa yang nyambung ke Lee Jong-suk, kemudian bersambung pindah ke merek pembersih wajah Bior**e, kemudian ada lisptik, tas di Cihamplas, geser lagi ke tema horor yang nggak ingin gue bahas *skripsi, kemudian tempat – tempat makan yang namanya susah diucapin yang ada di Bandung, dan terakhir pengalaman menjadi manusia khayalan. Kemudian hening……

“Ada yang tahu sekarang jam berapa?”

“udah jam 1 ternyata” sebuah obrolan terdengar tanpa merasa bersalah.

Semua ruangan menjadi gelap, lampu ruangan utama kumatikan melihat teman – teman cowok udah pada tidur membeku setelah seharin mengarungi sawah untuk melakukan pemetaan wilayah dan sosial. Kecuali dua orang yang masih terjaga, aku dan Sipon di ruang tamu. Melanjutkan ritual harian tidur setelah subuh dan mendengarkan musik dari Youtube bekas paket data internet midnight.

Supaya tidak garing dan cepat mengantuk akibat mendengar gosip dari para ciwi – ciwi. Aku mencoba mencari tema pembicaraan bersama Sipon.

“Pon, lo yakin bahwa di rumah ini ada penjaganya?” pertanyaanku dan wajahku tiba – tiba berubah seperti petugas wawancara.

“ehmm, maksudnya?”

“yang halus gitu”

“gue pernah denger emang ada, dan suka muncul pada tamu atau penghuni rumah barunya” jawan Sipon datar.

Aku mengangguk. “Liat!, Engkau tau ini apa?” dengan gerakan dramatis aku membuka jaket dan kaos hingga bertelanjang dada (bisa jadi aku sendiri yang takut dan kesang) kemudian menunjukan foto hantu dari media sosial dengan deskripsi bahwa si pengunggah baru menginap pada suatu tempat di malam pertama.

“Anj&%(^&%**@#%” sahutan Sipon menghentak, hingga membuat mata Amin desebalahku yang sedang memeluk guling merem melek, kaget. Kemudian hening kembali.

Tak mau kalah, Sipon menceritakan pengalaman horor di Kampusnya. Mengenai sebuah kelas yang berlangsung di malam hari. Walau aku sudah beberapa kali mendengar tipe cerita yang sama, demi menjaga perasaan “bangga” kawanku ini aku tetap memasang wajah polos sok penasaran. “wadduh, kok satpamnya nggak ada yang tahu” timpalku ceplos polos. Kemudian kami saling sahut – sahutan untuk menceritakan berbagai cerita horor yang pernah kami alami maupun warisan cerita dari temen – temenya – temenya temen tujuh turunan. Dan anehnya Sipon makin mendekat kepadaku, benar – benar horor.

Tiba – tiba lampu ruangan utama nyala!. “Siapa yang nyalaain” tanya Sipon kaget. “kalo cerita itu jangan yang gitu – gituan, udah malam tau!” Windi menyeringai sabil memonyongkan bibirnya kabur ke kamar lagi. Tak terasa ternyata cerita kami membuat pembicaraan para perempuan itu berhenti dan lebih fokus untuk mendengarkan cerita horor dari jarak jauh.

Aku segera ke kamar mandi tidak meladeni kericuhan tadi. Kubasuh muka dan ku-banjur kepalaku supaya tidak cepat jenuh dan tetap terjaga hingga pagi bersama laporan menanti.

“Yah, Sipon. Udah mangap aja” seruku sambil menatap makhluk baru yang duduk disebalahnya.

“Nggak tidur ra?” tanyaku basa – basi pada salah satu anggota cewe – cewe rempong yang terselamatkan dari kantuk pasca nimbrung ria.

“Nggak, susah tidur. Kakak?”

“Lagi nulis buat blog dan ngisi laporan hasil wawancara tadi siang”

“Owww…..” Ira menimpali, kemudian menguap sejenak, dan hening!.

Aku tidak bisa memulai percakapan dengan sok sibuk dengan mengutak – atik pengaturan blog, dari widget kemudian mengubah – ubah thema-nya, kikuk.

Aku melirik jam sambil mencuri pandang wajah Ira yang sibuk dengan telpon pintarnya berharap ada percakapan, pagi itu.

“Kak angkatan 2013 kan?, kalo kakak di FEB ngambil ilmu ekonomi atau bisnis?” percakapan mulai pecah.

“ekonomi”

“kenal Andi?”

“ehmmm, yang mana ya? Soalnya di ilmu ekonomi ada dua orang yang namanya Andi” aku menjawab sok tau, mengingat aku terlalu sibuk dengan teman – teman di UKM Study finance, jadi kurang menghafal teman – teman seangkatan.

“aku juga nggak tau sih kak, tapi dia tuh pacar temen aku gitu….”.

“Oww…” aku memulai jawaban yang salah.

“Kalo kakak?”

“Iya?, ada apa?”

“Udah punya cemiwiw ” pertanyaan yang paling susah di pagi ini

“Masih dalam proses” jawabku sederhana

“habisnya kakak pendiam dan jarang ngobrol dengan kita – kita sih, jadi susah deh buat tau”

Aku izin ke belakang, dan tidak tahu mengapa akhinya pintu kulkas yang aku hampiri. Buka pintunya dan berdiam sejenak di depannya, tidak melakukan apa – apa. Masih kefikiran, kenapa tiba – tiba Ira bertanya sambil cemberut seperti itu, tamabah – tambah semakin bingung apa tujuanku ke belakang kali ini. Cuci muka sudah pas wudu, sikat gigi sudah, ngaduk air kopi sudah, buang air kecil sudah.

Dua bulan pasca pembicaraan pagi itu, kuanggap hal itu percakapan yang telah lalu, bias, dan kedaluarsa. Seminggu yang lalu tidak tau kenapa ketika pertemuan keberapa ratus dengan Sipon, mendekatiku dan berkata bahwa aku ini “tega dan tidak peka”.

“aku tidak tahu”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s