Sadar

"Sepertinya bidadari ada yang dilahirkan".

Gumaman pagi hari disambut panggilan mamak menembus mimpi. "Ganii, banguun, udah jam berapa ini. Liat adik kamu aja udah mau berangkat tuh, masak kalah!!!". Sambil menguap dan bosen akupun beranjak menendang slimut, tahap pertama dalam ritual bangun dikala subuh. Aku sudah menghabiskan waktu yang cukup lama dalam hidup bersama mamak dan bapak, kombinasi yang pas hingga membuatku susah dipisahkannya hingga di bangku kuliah, termasuk bangku kasur ini.

"Ganii, ada lampu kedip-kedip warna merah di kepala hp-mu kata ais". Mata langsung terbuka lebar dan setengah salto aku menuju meja makan berharap si ais belum melakukan dosa yang tak bisa kuampuni, mebaca chat personalku. Lagi!.

"Dek, mana hp aku?, belum di apa-apain kan?!".

“Tuh!”

"Gisaa, cuci muka dulu sana, solat dulu, baru dicolokin lagi Hp.nya", mamak menyahut dari ruang tempat sholat bersiap untuk melanjutkan memasak sarapan pagi kami sekeluarga.

"Siap mak, 2 detik, eh 2 menit y". Tanpa spasi langsung ku pencet tombol home yang memang satu-satunya tombol di hp.ku selain tombol volume tentunya. "Yes, ada notip LINE". Patern gembok kode aplikasi ku buka secepat dosen pembimbingku ketika lomba menggambar di atas kertas HVS 80 gram. mungkin.

"Yah mak, kok isinya iklan sampo diskon akhir tahu terus ya di hp.ku", kuucapkan sambil memeluk manja dari belakang tubuh mamak yang telah berbau asap oseng-oseng tempe.

"Makanya bangun pagi, di kosan sering kesiangan y?, apa perlu emak ikut ngekos biar ada yang ngebangunin dan mandiin anak laki satu-satunya yang gantengnya ngalahin sinetron Indosiar ini!!", sambil dibumbuhi senyum emak khas.

Baru dua hari semalem aku dirumah sepulang dari perjalanan panjang 9 jam dari terminal bandara Changi ke rumah. Walaupun aku sudah akil balik, sejak dua hari empat jam di negeri jiran untuk melanjutkan bangku kuliah sarjana di sana aku langsung memutuskan pulang ke rumah di sela semester genap nanti. Sambil sembab mataku kangen rumah. Padahal sponsor beasiswaku hanya menyediakan tiga kali tiket pulang selama aku menempuh sarjana hingga lulus. Nggak tahan!.

“Mak, kok ais dibiarin aja sih nggk belajar dengan giat. Malah seringan maen bola di berbagai lapangan lahan bekas ngasak kacang antar desa antar kecamatan malahan!”. Tanyaku monyong, padahal ais di depanku lagi makan nasi kecap sama telur mata sapi sok nggak dengar kata – kataku. Maklum, ais walaupun cewek dan masih SD nggak kalah gesit dengan temen – temen laki – lakinya sekitar rumah buat saling tendang kaki. Sedikit ada harapan untuk bangga.

“kan kakaknya yang nyontohin gitu!”. Mamak menengahi, sebagai moderator tahan banting, marah dan enggaknya susah dibedain. Selalu hangat jika disebelah tubuhnya. Walaupun aku dengan ais adekku terpaut umur 9 tahun, tapi dari balitanya ais aku sudah memulai perang dalam kluarga ini. Terkadang kalo kalo nggak berantem ada yang salah dalam kehidupanku, jadilah kekuasaanku dengan gelar tetua sebagai anak mamak kugunakan untuk memancing amarah si ais. Andai saja ais sudah bisa ngomong waktu di kandungan mungkin dia akan latihan fitness dulu di dalam rahim.

“Gimana kondisi di KL sana gan, sudah ketemu kang Ipul?”,

“Mak, kan kemarin sudah ku bilang lewat telpon kang Ipul itu jauh pisan tempatnya”

“Lho, bukanya kang Ipul juga sama – sama di Ibu kota y!?”

Kalo ku jawab bakalan nggak dimasakin mamak selama sisa liburan 48 jam kedepan nih aku. Kang Ipul merupakan teman karib sepakbola yang umurnya lumayan jauh diatasku, yang telah menjadi TKI dan belum pulang ke kampung semenjak aku menginjak SMP, enam tahun yang lalu. Terakhir kuketahui dari bibik ibu kang Ipul, bahwa kang Ipul bekerja di Wilayah Malaysia Timur di Sabah. Tentunya butuh uang ekstra untuk mampu menyebrang ke sana, kecuali aku mau naik kapal laut sehari semalam ditambah naik bis empat jam. Masih terbayang bagaimana mabuk di laut tenang selat Jawa, belum sampai sehari, cukup tiga jam untuk membuatku mabuk semabuk mabuknya seperti oplosan air putih dengan air kopi seabad yang lalu. Hueekkk...!.

Ais sudah berangkat ke sekolahan semenjak jam enam tadi. Maklum persiapan menjadi pengibar bendera untuk pertama kali seumur hidupnya. Tak hayal jika ais bela – belain suruh dimandiin mamak jam 4 subuh tadi biar cukup waktu untuk berdandan, walau bisanya cuman nyisir rambut dan bedakan. Harap dijaga rahasia ini ke halayak umum. Geli.

“Mak, kapan ke bank buat ngurus pendaptaran hajinya?!”

Secarik kalimat terakhir yang masih ku ingat, 26 pertanyaan yang jawabanya selalu sama dan membuatku haru berlebihan. Tak perlu jawaban lisan, sebenarnya aku sudah sangat tahu. Uang DPnya selalu habis lebih dulu untuk dibagikan ke kerabat dan tetangga. Walaupun bapak telah meninggal dua tahun yang lalu, kebiasaan keluarga ini tetap tidak bisa dihilangkan, termasuk dilupakan untuk urusan ini. Ibadah haji.

Ais sekarang sudah mengijak SMA, hanya saja sekolahnya di negeri paman sam dan sejujurnya aku iri. Selepas lulus dari negeri jiran kuputuskan untuk bekerja di negeri sendiri. Walaupun lulus sebagai peneliti “Entomologist and genetic engginering”, tapi kerjaanku serba apapun dari nyangkul sampai bedah saraf. Itung – itung mengambdi dan mengamalkan ilmu secara nyata. Pembelaan diri.

Masih teringat jawaban mamak waktu itu, “mamak pengen tabungan ini buat kamu aja nanti, biar acara walimahannya nggak perlu sewa gedung. Biar bisa di rumah aja”.

Pagi itu berlalu cukup singkat seperti hayalan dan kesalahan, walaupun hanya sekumpulan larva kumbang yang menemaniku aku masih ingat. Saat ini sudah 4 tahun yang lalu aku bertemu mamak untuk terakhir kalinya. Walaupun telah tinggal jauh disana, aku masih tetap mengunjungi mamak dan bapak di pemakaman desa. Hari ini di langit Papua sekarang aku memikirkan akan bidadari yang benar – benar sekuat itu menemani kehidupanku. Seperti halnya bidadari bertampang asri dan berkekuatan super, itulah mamakku, tak kalah jauh.

Siang ini aku berencana bertemu dengan sosok yang lain, menunaikan amanah mamak.

cover spb Fig 119. Hutan rakyat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s