DILAHIRKAN TANPA CITA-CITA

DIARY CHALLANGE

“Anda nggak salah masuk?”

Asli. Dari delapan ribu mahasiswa baru di Univeritas nasional terkemuka dan jutaan pelamar baru (lulusan SMA), sepertinya aku yang paling sengsara akibat pertanyaanku sendiri ini.

“Saya lulusan Maderasah dari TK, kemudian SMA (aliyah) fokus di olimpiade fisika dan kimia lalu Ujian Nasional nilai Bahasa Indonesia tertinggi di sekolah dan melanjutkan kuliah sebagai ‘petani’ ?”

Memilih perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kemampuan kerja yang akan diambil adalah kesalahan fatal. Kecuali bila kita sama sekali tidak punya pengalaman yang patut untuk dijadikan reverensi. “Aku pikir sih aman”. Yah, ternyata berujung tatapan nista penuh kegalauan hingga semester tiga.

“Saya selalu tertantang untuk belajar banyak hal dan mengerjakanya dalam satu waktu. Setiap pekerjaan yang kugeluti selalu kukerjakan walau bagaimanapun hasilnya”. Bualku tanpa merasa bersalah.

Walaupun teman – temanku sering meminta jasaku untuk jadi designer poster gratis hingga penyunting buletin bulanan di kampus, tapi aku merasa ada yang masih belum kuterima dengan penuh di dalam jiwa ini.

“Apa yang sudah Anda berikan untuk kampus ini?”

“Aku sudah mengerjakan berbagai buletin tentang pertanian secara gratis, membuat komunitas pertanian organik bersama teman – teman di kampus, menghimpun uang dari proposal dengan gerilya dan mengetuai sendiri, walaupun semuanya ludes di tahun ketiga!, ya semua – semuanya itu”. benakku berbicara sendiri lagi.

Di tahun keempat ini memulai lagi dan memutar halauan. Berjuang keras untuk secepat mungkin bisa lulus dari kampus perjuangan ini (lihat sejarah pergerakan mahasiswanya). Awal 2015 pergi ke Sulawesi bagaimanapun caranya dan bagaimanapun cara hidupnya disana, bulan kedua menuju Sumatra dengan cara yang sama, dan empat bulan sisanya berkebun di lahan kedelai bersama petani di sebelah kampus, tanpa mengambil libur bulan Ramdhan.

ig2

Fig 116. Retakan kayu jambu di kampusku

Tahun pertama hingga tahun ketiga cukuplah untuk menghidupi diri pada organisasi, sekarang saatnya taubat akademik. Turun langsung ke bawah, belajar kepada para petani (asli) bukan yang cuman bisa ngomong di kelas. Hingga hari itu datang. “Kapan rencana menyelesaikan paper dan merevisi kepada supervisor?!” tanya dosenku yang benar – benar ku anggap guru.

Resah. Rasa tertekan dan tertantang untuk mampu mengumpulkan paper akhir tahun ini menjadi semangat bagiku. Laporan pertanggungjawaban organisasi siap menggempur. Dari yang sudah mepet sampai lewat deadline.

“Gung, LPJ jangan lupa ya, sertifikat juga jangan lupa disainya…hehe” senyum manis dari teteh ketua perhimpunan olahragaku.

Memang pekerjaan – pekerjaan seperti ini tidak bisa dihindarkan dan tidak boleh dihindari. Toh pekerjaan seperti ini tidak lebih berat ketika aku harus jauh dari kampus dan kosan bersama teman – teman relawan selama 5 hari di wilayah bencana untuk evakuasi korban longsor terbesar sepanjang hidupku. Tidak masalah bukan!.

“Justru karena saya masih kuat dan mau. Ingin banyak bertualang dan menakhlukkan banyak hal. Kuliah bukanlah kepuasan satu – satunya dalam hidup saya. Lagi pula, saya sudah siap dengan ratusan pekerjaan tidak dibayar lagi untuk kampus dan negeri milik orang berkuasa dan ber-uang ini– khususnya tentang pertanian dan kemanusiaan. Pengalaman saya yang gado – gado, khususnya sebagai disainer tak akan terbuang sia – sia”. Aku memantapkan mata dan mengguncangkan naluri sendiri seolah berkata “percayalah aku akan datang ke rumah orang tuamu!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s