Selimut Bulu

Ini adalah perjalanan yang dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi untuk menyingkap rahasia negeri peradaban. Mimpi yang membawa saya berjalan ribuan kilometer untuk menemukan rohnya, menikmati kecantikannya, merasakan air mata yang membasahi pipinya…”1

Matahari Senin pagi bersinar cerah, Gusni melihat Ayah dan Mama duduk di ruang tamu dengan sebuah meja dan televisi di depanya. Ayah tampak memperhatikan siaran bola dan mama membaca beberapa catatannya. Gusni tersenyum dan mendekat membawakan kopi susu yang dibuatnya. “pi..koppi buat Ayah sama Mama…”

Senyum dan kehadiran Gusni mengagetkan keduanya. Gusni meletakan baki berisi kopi susu dan duduk di sebelah Mama.

“Pas juga kopi susu buatan Gusni”, Ayah meletakan gelas dan tersenyum mengejek. Melihat Gusni di sebalah Mama, tiba – tiba perasaan itu muncul lagi di benak Ayah, hanya seminggu yang lalu tepat di ruang tamu ini, Gusni dan sebuah kenyataan yang harus dihadapinya. Mama membelai Gusni yang sekarang menyadarkan pipi besarnya di bahu Mama.

Mama meletakan catatanya, jari – jari Mama terus menyusuri rambut kepala anak perempuanya. Mama memejamkan matanya seperti Ayah teringat malam saat kenyataan itu datang untuk Gusni. Gusni merasakan hal yang sama di keluarga ini, semuanya menjadi nyata untuknya, hidupnya yang kecil tiba – tiba menjadi besar. Mama menatap buah hatinya, ingin bertanya kabarnya, semenjak Gusni tahu kenyataan hidupnya dan ia melihat Gusni dan Heri berbicara serius berdua di teras kemarin sore. Saat itu, walau naluri keibuanya ingin tahu apa yang dikhawatirkan keduanya, mama memilih meninggalkan keduanya. Mama memilih masuk ke ruang keluarga, menahan rasa ingin tahunya menjaga dari belakang mengenai kedewasaan putrinya atau bahkan menjadi masa remaja terakhirnya. Heri merupakan laki – laki yang sering datang ke rumah Gusni. Laki – laki yang cukup istimewa, laki – laki pertama yang berada paling dekat dengannya selain dokter Fuad tentunya, laki – laki yang untuk pertama kalinya Gusni yakin kalau ingin bicara ataupun bercerita Gusni tinggal berbicara saja, tanpa canggung, tanpa malu, tanpa ragu.

“Gusni lebih baikan?” tanya Mama kepada Gusni, belaian lembut mama di rambut Gusni sekan ingin menjawab pertanyaannya sendiri. Demi mendengan pertanyaan Mama, Ayah sedikit berat, ingin sejenak tersenyum tetapi tertunduk untuk Gusni.

“Gusni baik kok Ma,…,” jawab Gusni, ia baik – baik saja…. apalagi kesempatan di dunia yang Gusni minta memenuhi kehangatan di rumah ini. Di ruangan yang sama Gusni Melihat Ayah yang masih termenung menatap ruang keluarga dan termenung pada foto besar yang menempel di dinding dimana Gusni terlihat berbeda dibanding keluarga yang lainya. “ Yah..,” tatapan Mama seakan menyadarkan kalimat Ayah.

“Enggak apap-apa kan, Gus?” tanya Ayah.

“Jadi sekarang Gusni sudah tahu semuanya kan?”

“ Yah…Mah… gimana kalu mulai sekarang kita nggak mbicaraain yang sedih – sedih kaya gitu… gimana?”

Ayah dan Mama sedikit terenyak mendengar permintaan buah hatinya. Seutas suara serak dengen senyum dan mata sembab mengembang di wajah Gusni.

“ Ya…Mah? Pah?!

Ayah menyandarkan bahunya ke sofa dan menghembuskan nafas panjang. “Gus… kamu pernah tahu nggak arti nama kamu?”

Gusni menggeleng.

“Gusni itu artinya panjang umur..,” Jawab Ayah.

“ Gusni Annisa Puspita, seorang wanita yang panjang umurnya dan selalu ceria” Ayah mengusap wajahnya. “ Ayah mau kamu panjang umurnya,,,, sementara keadaan kamu sekarang…nggak…” “Yah..,” Gusni memotong kalimat Ayah. “Itu nama yang bagus baget da, terimakasih banyak ya yah..” Gusni tersenyum menatap Ayah.

Ayah tersenyum, Mama terus membelainya seperti malam sewaktu sebuah kenyataan datang untuknya, tetapi kali ini tidak ada tangis, tidak ada air mata. Yang ada hanyalah senyuman Gusni, hatinya meresapi belaian lembut tangan Mama, Seorang wanita yang panjang umurnya dan selalu ceria…. Nama yang akan selalu mengingatkan Gusni kalau dia adalah manusia besar dengan hidup yang yang penuh petualangan tidak sempurna, tapi terus berlari dan berlari. Seperti hidup yang tidak pernah mengingkari janji. Kamu janji…kamu tidak akan menyerah.

Cintai impian itu

Cintai usahakeras itu

Cintai hidup dengan berani, jangan menyerah, dan banggalah menjadi orang yang bangkit setelah jatuh dan kalah.

Ucapan Ayah yang sampai hari ini melekat di jiwa ini, “jangan pernah meremehkan kekuatan manusia kerana Tuhan sedikitpun tidak pernah”2

1.Dari buku Selimut Debu by. Agustinus Wibowo dengan perubahan

2. Dari buku “2” by. Donny Dhirgantoro dengan perubahan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s