Manusia Organik

Hari – hari tenang akhirnya terjadi juga. Aku jatuh sakit. Kali ini tidak ada diagnosis magh akut atau kebanyakan begadang. Hidupku sangat teratur dengan penambahan jam tidur yang menyamai ritme tupai berhibernasi di musim dingin. Sangat lama!.

Sakit ini memang aneh. Datangnya disaat aku sudah memantapkan diri untuk bertanding dengan banyaknya jadwal harian siswa, munculnya saat aku sudah memantapkan diri untuk menyibukkan diri lagi. Membuat semua orang termasuk aku terheran – heran, apa maunya tubuh si Somat ini? Bahkan kemarin ketika berlangsung kejuaraan bulutangkis dan bertanding di sektor ganda putra aku terkapar, terduduk lemas menuju singgasanaku di bangku penonton stadion, walaupun penyelenggaranya bukan setingkat BWF (Badminton World Federation), tapi pertandingan ini tak kalah penting, namun tubuh ini tetap ambruk. Sedih, aku teronggok tanpa fungsi. Dicemooh sekaligus dikasihani oleh kawan dan lawan, karena harus mundur sebelum perebutan hadiah berupa sebungkus besar sembako di babak grandfinal.

Dilihat dari gejalanya, penyakit yang menyerangku tak lebih dari masuk angin akibat seharian menonton drama Korea, harusnya bisa dimusnahka hanya degan jamu kemasan yang dijual di warung. Tidak ada igauan, kejang, perut melilit, batuk berdahak, atau produksi ingus berlebih. Kepala hanya pusing sebelah kiri dengan sedikit badan panas, kalaulah ditidurkan dengan posisi kepala bagian kiri di bantal, nyamanlah kembali. Itu saja.

Penyakit itu merambat hingga menyerang aspek psikomotorautomatik (murni istilah yang kubuat sendiri). Bagaimana tidak? Aku sedang berjuang mengejar deadline skripsi yang hingga kini berkutat di bab pertama, yang sebelum sakit saja harus berjuang  sakit – sakitan membangunkan raksasa dalam diri yang sukanya tidur dan tak bosan mengingatkan jiwa pengintai yang suka menghabiskan malam dengan 300 halaman lebih cerita fiksi. Dan, itu menjadikan perasaanku tidak karuan. Sebelum sakit aku menyempatkan seminggu tiga kali untuk lari keliling kampus, supaya segar fikiran dan sehat di badan ketika menyusun butiran latar belakang hingga kerangka fikiran, walaupun lebih tepatnya ini saran pembimbing penelitianku. Dan, penyakit ini terpaksa membuatku menyusun jadwal baru yang lebih harmonis.

Betapa aku tersadar betapa tidak nyamanya dengan ketersendirian, kecanggungan menghadapi perhatian hanya bersama buku – bukuku, meski dalam format hayalan sekalipun.

Genap seminggu umur penyakitku, aneh. Akhirnya penjagaku menyerah atau lebih tepatnya diriku sendiri!. Diam – diam kubuka buku – buku itu, karena “haus” tak terkira, ingin ku lahap cerita dalam sastra itu. Semuanya.

Maka ketika rasa lapar tersalurkan akhirnya berhenti juga kondisi ini dengan sad ending, karena masih jengkel dengan Elektra1yang hidupnya terlalu indah. Akhirnya dengan kondisi fisik yang masih malas dan otak yang mager, kuputuskan untuk terjun jauh pada tulisan non fiksi dan non nyastra, buku dengan tipe lebih banyak dihindari, bahkan ketika SKS mendekati tutup buku. TextBook!.

Dan, karena penyakit misterius yang menjangkit dan tak kelihatan mata telanjang ini menjadikan fikiranku liar menembus semak belukar. Sebuah komentar pelan menyemai di otak, “Mat, lu benar – benar sakit.”

Sore itu, memang banyak orang bersliweran di kosan. Suara yang meledak – ledak, seperti kawan lama yang telah lama terpisah akibat setelah gempa mengakibatkan dua rekahan gunung es himalaya yang terkena gempa. Untungnya aku bukan vampir, seekor spesies sejenis kelelawar berwujud manusia yang sangat sensitif dengan suara beberapa hertz saja. Tapi untungnya naluri membacaku masih dapat dilanjutkan. Dengan tolehan tajam tentunya.

imageSekali lagi, adat memilih buku teks bagiku adalah yang mempunyai paling banyak gambar dan tulisan yang seminimal mungkin. Memang terkesan ironis, novel – novel polos berisi ratusan ribu karakter kubaca sampai menjilat lima jari. Bahkan tetralogi laskar pelangi2 novel yang isinya tidak ada gambar berwarna satupun kecuali halaman sampul. Dan yang kurang tepat lagi sebagai mahasiswa bukan sastra, buku fiksi setebal bantal berjudul Musashi3 dan tetralogi Twilight saga4 masuk daftar read di akun pribadi goodreads.com milikku @_somatBuk. Tapi, sisi baiknya aku tidak menyelesaikan satu seriespun dari 7 seri Harry Potter, walau punya Harry Potter and the Deathly Hallows.

Venus mulai samar di langit tepian barat, air muka Somat samar meneriakkan gemuruh. Pilihanya jatuh pada buku tipis 165 halaman, bahkan punya banyak foto dan gambar di dalamnya, dengan judul The Organic Gardener karya Joanna Lorenz. Aku membaca dengan begitu syahdu, tak melewatkan sedikitpun termasuk daftar pustaka. Kali ini bukunya berbahasa asing, dan tidak bisa semena – mena dengan liarnya membaca puisi Om Sapardi dan dengan cepatnya novel terjemahan karya Karl May.

Seolah aku menemukan sihir baru pemusnah segala penyakit, akupun bangkit dari tidur dan segera mencermati kata – kata yang menurutku menarik dalam buku ini: image

Fig 114. Halaman 8 Buku The Organic Gardener

Mulailah aku berdialog dengan manusia lain di dalam diriku. “Apakah sebenarnya tubuh ini sudah terlalu banyak diberi pestisida yang tidak organik sehingga mudah sakit seperti tanaman tersebut?”

Kemudian tercapai pada satu pertanyaan (yang menurutku) filosofis, “kayaknya mulai sekarang harus menjadi manusia organik deh”.

References:

1. Tokoh utama dalam seri ketiga supernova – Petir

2. Tulisan karya novelis terkenal Andrea Hirata yang terdiri dari Laskar pelangi, Sang pemimpi, Edensor, dan Maryamah karpov

3. Novel terjemahan karya Eiji Yoshikawa setebal 1248 halaman berlatar seorang samurai pasca peperangan di era Tokugawa

4. Novel romantis yang terdiri dari 4 jilid (Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking dawn) karangan Stephenie Meyer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s