Sayap – sayap Tani

image

Knowledge and experience are best gotten at the hands of successful pratictitioners. Probably the best way for a young person to start into farming is to work with an older farmer. If you have a relative or an acquaintance who farms, spend all the time there you can. It takes to develop common sense.1

Kalo bicara pekerjaan di bidang ini emang kerasa was – wasnya. Kepastian masa depan menjadi pertaruhan. Studi bertahun – tahun di bidangnya pun kadang mesti banting stir ke sektor lain untuk menghasilkan rupiah. Itulah “Pertanian” sedikit banyak mampu menggetirkan para lulusan sarjana untuk tidak berkelahi dengan panasnya udara dan kerasnya tanah. Emang lebih nyaman kalo dapet kerja di kementrian, kedinasan, kebalaian, kedosenan atau apalah- yang gajinya “pasti” sampek pensiun nanti. Emang dah, nggak rupiah menguat atau melempem, automasi alat pertanian buat ngebantu mengurangi urat nadi keluar dari kaki dan tangan petani aja lambatnya minta maaf. Katanya yang menyebabkan bank enggan memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada petani (<2 Ha) karena sektor ini long hours, long pay, dan hard lie ( untungnya ini hanya asumsi pribadi, #ehm).
Ketika kemarin ada headline mengenai berita pelamar kerja untuk menjadi tukang ojek kebanyakan lulusan sarjana, iThink that is true, be able. Lah emang perguruan tinggi nggak menjamin lulusan fakultasnya/departemenya untuk dapat bekerja di bidang yang ditekunin!, ya wajarkan!. Kalo kampus yaa… minimal memberi rekomendasi ke perusahaan atau tempat studi yang terjamin, baru OKE!. Kembali ke duniaku, pertanian punya komoditas yang muacem – macem jenisnya, dari sayur – sampek produk minyak. Dari produk pra tanam sampek post harvest. Kemudian tantanganya, angkatan kerja pertanian jaman sekarang itu kalo di Jepang ama Amerika (negara-negara yang kelewat kaya) katanya sih tua – tua, 48 tahun ke atas kebanyakan. Di Indonesia masih berkisar 30an tahun sampek pensiun dari dunia kurang lebih juga, da emang kebanyakan bukan pemain baru ngelamar jadi petani, tapi emang dari Emak Bapak ngewarisi tanah dan bakat buat disalurin kesitu. Dan disinilah tantanganya? Mau nggak kerja dan membuka pekerjaan di tanah Indonesia? Pertanian?!.
Takut, jelas. Bukan hanya reasons tadi, tapi emang kenyataanya begitu. Coba liat deh, kayaan mana petani/buruh tani ama tukang jualan sayur/beras/daging?. Kalo liat retail-ritail gede emang kebayangnya gede bener dah tu gaji (sambil bayangin harga seiket kangkung di ***–Mart/***-four). Kecuali sih yang nguasai industri dari hulu ke hilir. Dari penyediaan bahan tanam sampek pasar dia kuat manajemenin ndiri., termasuk TRANSPORTASI!.
Terus celah keuntunganya dimana nih? Masak nggak ada yang lebih baik, yaa minimal jadi pegawai/karyawan dah. Itung – itung pengamalan ilmu empat tahun di kursi kuliahan!.
Jawabanya jelas “Ada”
Kembali coba baca tuh kalimat yang bahasa inggris. Kita mesti mengerti apa yang jadi tujuan kita, mempunnyai passion kesitu, dan tentunya jangan meremehkan kemampuan diri sendiri. Apapun itu dan siapapun kamu. Minjem kata-kata mas Donny Dhirgantoro, “jangan pernah meremehkan kekuatan manusia kerana Tuhan sedikitpun tidak pernah”2
Buku “You can farm” by Joel Salatin
Buku “2” by Donny Dhirgantoro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s