Kretek – kretek

        Seharian membaca buku sejarah kretek di Nusantara jadi teringat masa – masa kebelakang yang masih sering berkumpul dengan para ses-er. Walaupun niatnya pengen memperoleh suatu yang khas dari pertanian tembakau dan cengkeh sendiri, tapi tak apalah.

       Memang peristiwa Ngrokok kretek bukan sekedar membakar tembakau terbungkus yang dilinting, dihisap, lalu dikepulkan asapnya. Di kampungku, merokok mempunyai isitilah filosofi "nge-ses" dan "ng-udud". Kendati telah menjadi kebiasaan yang mengakar hingga setara dengan kepentingan nasi. Biasanya untuk menghentikan kebiasaan merokok; jiwa mereka (pe-ngeses) tidak terpengaruh karena celotehan kelompok penentang rokok yang tidak pernah merokok itu- melainkan karena hati mereka terbimbing oleh hidayah Allah yang dilewatkan dari keluarga dan sanak saudara.

IMAG1260

Fig 114. Dikutip dari Buku Kretek Indonesia.  Deretan pegawai pabrik rokok.

       Sejarah nge-ses sudah ditemukan sejak abad ke-14 yang tentu orientasi pembuat rokoknya tidak seperti sekarang yang ekonomi kepabrikan, tapi memang dikhususkan pada usaha memenuhi stamina dan daya tahan tubuh. Walaupun kemudian zaman sekarang terkadang masih ada yang niatnya kesitu.

      Peran rokok pada zaman dulu sampai dimuat dalam sebuah kesan yang epik, “Dulu ada seorang pria tak berisri dapat hidup dengan duit 12 sen dalam sehari, tanpa makan daging dan ikan, ia memakai uangnya untuk keperluan sebagai berikut: 3 duit ditukarkan sirih, tembakau, dan cengkeh; 3 duit lagi untuk minum, garam, dan tempe; dan sisa duit ditukarkan dengan beras. Hidup di dua alam memang berat apalagi kalau sekedar menjadi penonton. Seperti mayoritas perokok adalah pekerja berat, entah berat di fisik atau memang lagi berat karena banyak fikiran. Yang kemudian dari tipe banyaknya volume asap yang dikeluarkan dari mulut perokok bisa diketahui tingkat keberatan aktivitas sehari – harinya. Dan kualitas para pelaku penghisap tembakau bisa juga dilihat dari cara memeganya, jika menggunakan ibu jari berarti masih susah untuk melupakan masa lalu, namun jika sudah menggunakan telunjuknya berarti dia siap untuk masa depan yang lebih baik. Jadi jangan heran jika cerita 12 sen itu bisa terjadi, mengingat hal ini ketika berbuka puasa para smoker yang di cari pertama bukanlah takjil, nasi atau yang manis – manis; tapi sebatang rokok yang di bakar berbunyi "kretek-kretek" (suara khas dari pembakaran cengkeh).

     Kita sebagai bukan perokok (aktif) sering iseng untuk melihat harga dan kadar nikotin dan tar; ya nggak?! udah ngaku aja! haha. Kadar nikotin dan tar ini memang disumbang mayoritas sama tembakau yang kemudian hari hingga sekarang yang dipermasalahkan sama petani (akademis) bisa nggak diganti saja tembakaunya.

“Siapa yang menciptakan tembakau?”

“Gusti Allah.”

“Siapa yang menjaga tembakau?”

“Gusti Allah.”

“Ya malaikat juga sob. Nanti kalau semuanya Allah, malaikat tak punya kerjaan.”

      Kalimat ini muncul ketika rokok mulai di anggap masalah bagi beberapa kelompok, malah “Sekarang, pemerintah membuka impor tembakau- padahal tembakau kita adalah yang terbaik di dunia. Desa kami di Lamuk, adalah penghasil tembakau srinthil, tembakau paling mahal,” kata Subakir, Lurah Lamuk (Kabupaten Temanggung).

        Kemudian seorang tokoh masyarakat bernama Cak Nun yang waktu itu duduk berembug dengan para masyarakat Lamuk menyambut keluhan itu dengan bilang; peraturan terhadap tembakau memang tidak adil dan serba tidak jelas. Persis seperti peraturan lalu-lintas yang biasa ditemui di lampu merah seperti “Belok kiri mengikuti lampu; Saya pernah naik sepeda motor, berhenti perempatan dengan lampu merah yang ada tulisannya ‘Belok kiri mengikuti lampu.’ Saat lampu hijau saya tidak jalan sampai pengendara lain menegur. Saya jawab, ‘Lah itu disuruh ngikutin lampu, dan lampunya belum bergerak juga’.”

     Sebenarnya masih banyak keseruan ketika mengidentifikasi rokok dari para perokoknya langsung, akan muncul hal – hal yang bersifat budaya dari selembar asap kretek tersebut. Cerita – cerita humor hingga masalah – masalah serius yang tidak mungkin didapatkan di dalam istana kerektoratan kampus.

    Cak Nun memimpin doa sebagai acara penutup. Doa yang bagi saya sungguh luar biasa. “Ya Allah, Engkau tidak main-main menumbuhkan segala tumbuhan. Engkau tidak main-main menumbuhkan tembakau bagi para petani. Barang siapa yang mempermainkan nasib petani dan tembakau, mereka akan mendapat murka-Mu. Barang siapa bermain-main dengan nasib banyak orang, mereka akan mendapat azab-Mu.”

 

sumber pendukung:

Buku Kretek Indonesia, dari nasionalisme hingga warisan budaya. Karangan Margana, dkk. 2014.
Reportase Maiyah, caknun.com/2015/dan-para-petani-tembakau-itu-memeluk-cak-nun/. tulisan Rusdhi Mathahir. 2015
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s