Dari Samsulbahri

Setelah berangkat sutan Mahmud, dibujuklah Sams yang bernama lengkap Samsulbahri itu oleh ibunya dengan bebeberapa perkataan yang manis-manis, supaya jangan dimasukan di dalam hatinya, amarah dari mandornya itu. Akan tetapi, Sams tiada menyahut pula melainkan minta keluar sebentar minta angin, karena sangat kosong, hendak ke warung katanya.

Mendengar permintaan anaknya itu hilanglah kuatir Siti Maryam. Pada sangkanya, tiada diindahkan Sams amarah mandornya kemarin. Tapi sebenarnya, Sams semalam-malam itu tiada dapat memejamkan matanya barang sekejap pun, padahal dari minum kopi hingga jam satu dini hari, kemudian menangislah dia dengan amat sedih mengenangkan nasibnya dan adiknya yang masih sekolah yang malang. Tatkala hari telah pukul setengah empat menjelang subuh bangunlah ia perlahan-IMAG0167_1lahan dari tempat tikarnya, lalu dimasukan sekalian pakaianya ke dalam petinya dan keluarlah ia dari pintu belakang. Setelah sampai pintu pekarangan rumah orang tuanya, menolehlah ia ke belakang, ke rumah penuh kenangan dan kenyamanan, lalu berhenti sejurus dan membatin perlahan-lahan, “Selamat tinggal ibuku dan adiku! Aku hendak berjalan, barang ke mana nasib membawaku yang malang ini, supaya sekalian keluarga tetap hidup sehat dan makmur badanya. Jika ada umur panjang mungkin aka ketemu nanti di tempat ini; jika tidak, bernanti – nantilah kita di akhirat. Di sanalah kita dapat bertemu pula, bercampur selama – lamanya, tiada bercerai lagi…..

Disadur dari karya Marah Rusli dan beberapa penyuntingan ttg perantau di sebuah kamar kosan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s