Refleksi dari tanah Banjarnegara

         Pertengahan desember 2014 kebencanaan tanah air kembali datang dengan longsor pergerakan tanah di Kec. Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah. Menghilangkan nyawa lebih dari 100 korban jiwa, baik penduduk asli atau pendatang yang sedang lewat disana. 

        Ribuan relawan dan badan mitigasi kebencanaan yang bertugas bergegas datang dan bekerja semaksimal mungkin. Hingga pembagian pencarian korbanya pun lebih dari 4 sektor titik pencarian utama dikarenakan aliran sungai yang masih cukup deras ditambah pergerakan tanah tanah yang masih labil.

        Tim evakuasi, pencari jenazah, pemulasaraan jenazah, dokumentasi penemuan, hingga tim trauma healing untuk penduduk yang selamat sudah dibentuk dan terjalankan lebih dari 9 hari. Tugas relawan secara resmi dari pemerintah sudah selesai, sekarang adalah tugas utama dan selanjutnya dari pemerintah, akademis, dan ahli konservasi tanah untuk memperbaiki bagaimana daerah longsor ini bisa diperbaiki kembali atau seminimal mungkin bisa normal menjadi akses ke desa selanjutnya seperti dulunya, yang tentunya daerah sementara ini sudah tidak bisa dipakai untuk bermukim lagi.

         B5CBfRFCYAE-YjZ

          Tim dari Kementrian ESDM pernah berkata bahwa pemetaan untuk daerah rawan longsor (terutama yang sudah tidak layak huni) di Kab. Banjarnegara ini sudah dibuat dan di publikasikan. Semuanya sudah berdasar indikator – indikator yang paling mungkin untuk terjadinya longsor yang menyerang, seperti kemiringinan lereng, aliran air tanah, drainase, daya ikat mineral tanah, posisi rumah dengan lereng, dll. Tentu bagaimana struktur dan tekstur tanah mestinya juga masuk.

           Hanya saja hingga Januari 2015 ini belum ada melihat kajian konservasi yang komprehensif dari  bidang kajian limu tanah di kampus, emang agak menyebalkan dan menyedihkan sih. Dan apalagi kalau alasanya tentang uang!. Segala penelitian harus berbau proyek alias no money charge. Mestinya kasus longsor ini bukan hanya mengenai ilmu geologi tapi juga termasuk pedologi (pembentukan tanah). Mungkin suatu hari nanti para akademis Indonesia sudah bergerak lebih cepat dan tanggap. Bergerak berdasarkan hati nurani dengan usaha pengkajian strategis yang sifatnya cepat tanggap, nggak usah disuruh-suruh seperti ketanggapan dan ketulusan para relawan yang terjun di Karangkobar kemarin. Amiiiin.

Karena akademisi bukan pengeluh kebijakan, pengomel keadaan, penghujat pemerintahan, tapi akademis adalah agen perubahan menuju cahaya yang lebih baik nan indah.!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s