Ya, ini mah tentang bencana

         Siapa yang nggak iri sama pekerjaan ala pertambangan, minyak, dan gas yang luar biasa salary-nya, apalagi ketika kita menengok perusahaan multinasional ala luar negeri.

         Tapi intinya sih bukan ngebangga – banggain tentang kelebihan dan keistimewaan yang bersifat kualitatif, tapi lebih ke sifat keseluruhan aspek. Yap, aspek kebencanaan. Siapa yang nggak tau mengenai banjir, longsor, gempa bumi, kebakaran hutan, sampek gunung meletus!?. Dari segi ilmiah bencana besar itu bergejala walau tidak 100% persen bisa di antisipasi. Dari segi ilmu tanah Pedologi, tanah itu menyesuaikan kondisi fisik alami, walaupun tidak bisa dipungkiri pengalihan fungsi lahan tipe A ke pemukiman juga berperan serius. Dari segi kebencanaan atau mitigasi Tsunami itu bisa di hindari walaupun emang itu sepenuhnya kuasa Tuhan.

           Bukan bermaksud merendahkan diri dengan membanding – bandingkan dengan kemajuan teknologi ala Jepang dengan negara yang produktif diterpa bencana (gempa dan Tsunami) tapi tetap kokoh menghadapainya itu. Akan tetapi memunculkan sikap optimis untuk mampu melawan bahkan mengantisipasi bencana itulah yang paling utama mesti kita bangun di negeri tercinta ini.

         Saat ini lagi musim – musimnya si comolonimbus mangkring di daerah Sumedang, nggak tau apakah daerah di Indonesia lain juga sesering si awan hujang nangkring, yang artinya kita (akademis / badan terkait) butuh media untuk tahu kadar salah satu indikator bencana disuatu daerah dengan spesifik tersebut (harusnya). Ketika radar suhu, kelembapan, dan curah hujan terpampang di ruang publik masihkah sama ketika sudah melalang di lereng bukit yang udah mau ambrol, atau daerah rendah yang siap digenangi air, lahan gambut yang terus berasap ?!. Jawabanya perlu pengorganisasian.

       Media yang paling bikin ego bergemuruh apa coba? ya. media masa, apapun itu bentuknya, maya (media sosial), eletronik, cetak (koran, majalah). Walaupun masa sekarang sudah jauh dari perang dunia ke 1 dan 2 tapi terasa teori jarum hipodermik itu masih berlaku bahkan udah lebih tajam lagi tusukan jarumnya karena sekarang ada alat penajam bernama media sosial yang tak terhentikan kecuali sedang tidur.

        Kesimpulanya sih, segala bencana (alami) dan bencana (buatan nan disengaja) bisa diantisipasi. Kebersamaan dalam penggunaan multi disiplin ilmu atau berbagai jenis teknologi bisa diterapkan bersama, masalah nantinya cuman jadi ornamen atau gagal itu urusan nanti yang akan koreksi lagi biar untuk manajemen resiko selanjutnya makin mantep. Seperti halnya di Gunung Merapi untuk antisipasi, warga di dekat daerah bahaya lahar, debu, atau awan panas saling berkomunikasi dengan Handy talkie, bisa juga untuk ditiru ketika banjir seperti di Jakarta, antar bendungan di Bogor berkoordinasi banjir akan datang pukul sekian. Bisa juga nanti kalau-kalau ada ledakan air laut (Tsunami) lagi untuk koordinir dengan nelayan  pakek Whatsapp, LINE, atau BBM bahwa air laut abis gempa tadi, surut secara tiba-tiba. Sehingga nantinya selain badan mitigasi terkait juga masyarakat sebagai pengguna aktif berbagai media nasional saling mengabari gejala alam yang akan siap menyergap.

#InspiredMatKulEVLAN_HariIni

#danIni

CAM03289

Thanks a lot to Drs. Surono (ketemu di Badan Geologi) dan Prof. Arifin (Dosen Evaluasi lahan saya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s