Menakar Kebutuhan Benih di negeri sendiri

            Jiga nu serius kieu nya, ah teunanaon sekalai – sekali nya nulis serius biar ilmunya bermanfaat, insyallah. hehehe….

Oke, les’t get out! all about rice seed!!

1.       Kementerian Pertanian memprediksi Indonesia butuh 514.000 benih tanaman pangan untuk mendukung swasembada pangan pada tahun 2014 (Bisnis.com, 2011). Benih padi memakan porsi 349.000 ton secara keseluruhan dan kebutuhan nasional akan benih padi hibrida sebesar 9.977 ton untuk luas pertanaman 665.000 hektar.

2.       Menteri Pertanian Suswono, 2011 menjelaskan benih bermutu  belum seluruhnya dipasok dari produksi domestik karena masih banyak petani menggunakan benih impor. Lagipula, masih sedikit jumlah perusahaan penghasil benih lokal. Jumlah yang sedikit ini karena bisnis benih termasuk kategori berisiko tinggi dan hanya dapat laba rendah.

Tingginya tingkat ketergantungan pada impor pangan ini tak lepas dari pertambahan jumlah penduduk di satu sisi, dan di sisi lain terjadi penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian.

               Dominasi perusahaan benih multinasional ini seakan mengecilkan peran produsen benih nasional dalam memenuhi kebutuhan benih secara nasional. Bahkan, produsen benih pelat merah sekelas PT Sang Hyang Seri (PT SHS) pun terkesan hanya kebagian peran relatif kecil. Untuk padi hibrida, PT SHS hanya memasok rata-rata untuk tahun 2008-2012 sebesar 3.576 ton atau 35,8% dari kebutuhan nasional sebesar 9.977 ton untuk luas pertanaman 665.000 hektare. Pada 2004 terdapat 40 juta keluarga petani di Indonesia, sedangkan pada 2013 melorot tajam, tinggal 26,1 juta keluarga. Ini berarti jutaan petani telah ”lenyap” (BPS, 2013). Selain itu, terjadi penyusutan lahan pertanian akibat dikonversi menjadi lahan real estate dan sebagainya, juga turut andil. Penyusutan ini mencapai 100.000 hektare per tahun, sedangkan pembukaan lahan baru hanya 40.000 hektare per tahun.

           Kehadiran pabrikan benih asing yang kian menggurita ini membuat Mantan Direktur Utama PT SHS Upik Rosalina Wasrin cukup prihatin. ”Industri perbenihan di Indonesia akan ‘mati enggan hidup pun tak mau’. Para peneliti dan breeder Indonesia akan mati kutu, tidak bisa berkembang, tidak bisa bersaing dengan peneliti luar yang habis-habisan disubsidi oleh pemerintahnya, mulai dari riset sampai produksi. Bahkan mungkin banyak industri perbenihan Indonesia akan gulung tikar (gatra.com, 2013).

           Menurut Rika Febriani, 2013 dari Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Bidang Pertanian, dominasi perusahaan benih asing itu terjadi lantaran terbukanya keran investasi besar-besaran melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. UU ini memberikan kesempatan perusahaan multinasional melakukan bisnis di Indonesia pada berbagai macam sektor, termasuk pangan dan pertanian. Pembukaan keran investasi besar-besaran ini juga tak lepas dari anggaran pemerintah yang terbatas untuk memproduksi benih. Keterlibatan pemerintah dalam banyak perjanjian dagang internasional seperti World Trade Organization (WTO) dan ASEA-China Free Trade Area (ACFTA), juga menjadi faktor mengguritanya perusahaan asing di negeri ini. Hal itu masih diperparah pula dengan keberpihakan pemerintah pada perusahaan multinasional ketimbang pada petani.

          Guru besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Dwi Andreas Santosa, 2013 mengatakan hegemoni perusahaan benih multinasional itu sudah sangat mengkhawatirkan ditambah pengadaan benih padi hibrida 100% dikuasai perusahaan multinasional.

3. Benih padi

           Benih padi adalah bahan tanaman (planting material) yang dihasilkan dari perkembangbiakan tanaman padi secara generatif yang digunakan untuk produksi benih atau produksi tanaman.

            Menurut hirarkinya benih unggul padi dibedakan menjadi empat kelas yakni benih penjenis (breeder seeds/ BS), benih dasar (foundation seeds/ FS), benih pokok (stock seeds /SS), serta benih sebar (extension seeds/ ES). Benih unggul ini diproduksi oleh instansi atau badan yang ditetapkan atau ditunjuk oleh Badan Benih Nasional dan mempunyai sertifikat.

               Benih yang dipakai oleh petani adalah kelas benih sebar yakni merupakan keturunan dari benih penjenis atau benih dasar atau pokok yang dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan kemurniannya terjaga serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan.

                 Benih Penjenis adalah benih yang menjadi sumber benih dasar. Sementara itu benih dasar adalah merupakan keturunan pertama dari benih penjenis. Benih Pokok adalah benih keturunan dari benih penjenis atau benih dasar.

                  Jenis-jenis benih tersebut diberi label berbeda-beda. BS dilabeli kuning, FS dilabeli putih, SS dilabeli ungu, ES dilabeli biru. Terdapat satu lagi padi bersertifikat yakni label merah jambu yang merupakan keturunan pertama dari ES, namun setelah tahun 2007 benih dengan label ini sudah tidak diproduksi lagi karena produktivitas yang rendah.

                   Produksi benih padi hibrida memiliki prospek yang cukup baik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terlihat dari peningkatan volume produksinya. Pada tahun 2006 volume produksinya melonjak sebesar dari 7,7 ton menjadi 201 ton. Peningkatan kembali terjadi pada dua tahun berikutnya. Pada tahun 2007 produksi meningkat sebesar 510 persen menjadi 1231 ton. Tahun berikutnya produksi kembali meningkat sebesar 275 persen menjadi 4624 ton. Peningkatan produksi ini mencerminkan prospek bisnis benih padi hibrida yang cukup baik. Sementara itu, dari 14 produsen padi hibrida di Indonesia terdapat 3 produsen yang volume produksinya lebih dari 100 ton yakni PT. BISI, SHS, DuPont. BISI Internasional menjadi pemain terbesar yang memproduksi benih padi hibrida dengan volume mencapai 3000 ton pada tahun 2008 (ICN, 2009).

 

CAM02449

Fig 15. Uji Daya Berkecambah Benih Kedelai Metoda UKDP

Kenapa Sih Harus Benih Padi Hibrida ?

Keunggulan Padi Hibrida

a.   Hasil yang lebih tinggi daripada hasil padi unggul inbrida;

b.   Vigor lebih baik sehingga lebih kompetitif terhadap gulma;

c.   Keunggulan dari aspek fisiologi, seperti aktivitas perakaran yang lebih luas, area fotosintesis yang luas, intensitas respirasi yang lebih rendah dan translokasi asimilat yang lebih tinggi;

d.   Keunggulan pada beberapa karakteristik morfologi seperti sistem perakaran lebih kuat, anakan lebih banyak, jumlah gabah per malai lebih banyak, dan bobot 1000 butir gabah isi yang lebih tinggi.

Kelemahan Padi Hibrida

a.   Harga benih lebih mahal dari pada benih inbrida

b.   Petani harus membeli benih baru setiap tanam, karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya;

c.   Tidak setiap galur atau varietas dapat dijadikan sebagai tetua padi hibrida. 

d.   Produksi benih rumit, menggunakan teknologi spesifik

e.   Memerlukan areal penanaman dengan syarat tumbuh tertentu (Dsperta, Jabar).

Referance

Kementan.2011. http://bandung.bisnis.com/read/20111011/1/100213/swasembada-pangan-indonesia-butuh-514-000-ton-benih-pangan. Diakses 02-Oktober-2014

Suwono. 2011.Swasembada pangan Indonesia Butuh 514000 ton benih pangan. Dalam http://goo.gl/9U6u0c. Diakses 02-Oktober-2014

BPS.2013. http://www.gatra.com/fokus-berita/44363-ironi-negeri-agraris-padi,-jagung,-bahkan-singkong-impor.html. Diakses 02-Oktober-2014

Febriani, rika.2013. Ironi Negeri agraris padi, jagung, bahkan singkong impor. Dalam goo.gl/b6TXXz. Diakses 02-Oktober-2014

Santosa, Dwi Andreas.2013. Ironi Negeri agraris padi, jagung, bahkan singkong impor. Dalam goo.gl/b6TXXz. Diakses 02-Oktober-2014

ICN.2009. Indonesian Commercial Newsletter (Icn), Perkembangan Industri Benih Tanaman Pangan. Dalam http://www.datacon.co.id/Seed1-2009Ind.html. Diakses 02-Oktober-2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s