25-Jan-2013: Membuat Kurikulum

Begini ceritanya sekarang kan sudah jarang banget kalau mau maen sama temen- temen, seperti main kelereng, baksodor, gedrik, dan permainan imajinasi lainya. ^^. Nah, kalau aja anak TK atau SD kurikulumnya diganti dengan menambah kurikulum budaya pasti akan tambah asyik dan PS bakalan terlindas. Kenangan masa lalu memang masih bergeming dalam ingatan, apalagi setelah lama nggak ketemu, ketemu – ketemu main badminton dan takraw, maklum karena orangnya sedikit jadi nggak bisa sip.

Kembali ke topik kurikulum tadi, menurut pertimbangan sendiri. Pendidikan secara formal sekarang banyak diburu dan paling banyak pengaruhnya dari pada pendidikan lingkungan (sampek keluarga) terhadap seorang anak sekarang (baca orang tua). Persepsinya begini kalau bisa ranking 1, 2, dan 3 dan masuk sekolah favorit pasti bangga dan kesanya wah juga, namun apakah tidak gerah juga selama 24 jam dalam sehari digunakan mempelajar hal yang masih di awang – awang (teori).

Semua ini adalah pilihan, pekerjaan sekarang memang menuntuk akan nilai akademik yang maknyus, entah sampai kapan hal ini akan diterapkan. Kalau dipikir  – pikir kasihan juga yang punya daya ulet tinggi dalam pekerjaan lapangan sementara IQnya kurang sedikit untuk memperoleh pekerjaan seperti mereka yang cerdas akalnya.

“Semua orang itu mah punya spesialisasinya masing – masing” kata teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s